LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#34


__ADS_3

1 minggu berlalu,


Setiap hari Rhys selalu berada di tempat makan di mana pertama kali ia mengawasi Celine. Hanya saja selama seminggu ia tak mendekati Celine lagi. Ia hanya mengawasi wanita itu dari sana.


Sementara Celine, ia merasa lebih lega dan tenang karena tak bertemu dengan Rhys. Namun ia tetap merasa was-was karena merasa ada yang mengawasi.


“Kamu tak mau kembali?” tanya Finn.


“Aku akan tetap di sini sampai ia mau menerimaku kembali seperti dulu,” jawab Rhys.


“Tak bisa begitu! Siapa yang akan mengurus Perusahaan Alban?”


“Kamu bisa membantuku kan, Finn? Aku memerlukan Celine agar perasaanku lebih tenang. Kalau ia tak bersamaku, sama saja … aku tak akan bisa mengurus perusahaan dengan benar.”


Finn menghela nafasnya sedikit kasar.


“Tapi kembalilah dulu. Selesaikan beberapa laporan yang perlu ditanda tangani. Setelah itu, kamu bisa kembali ke sini untuk membujuknya kembali,” pinta Finn.


Rhys tampak berpikir. Perusahaan Alban adalah Perusahaan keluarganya dan ia tak akan membiarkannya jatuh dan hancur. Ia menghela nafasnya pelan, namun ia tetap bersikukuh ingin berada di Desa Lauterbrunnen.


Baru sebentar ia memutuskan, ponsel milik Finn berbunyi. Asisten pribadinya itu langsung mengangkat ponsel yang selama seminggu kemarin ia non-aktifkan demi ketenangan atasannya.


“Halo. Ada apa, Van?”


“Cepatlah kembali, perusahaan dalam masalah.”


“Maksudmu?”


“Para pemegang saham berniat menarik saham mereka segera.”


“Bagaimana bisa?”


“Salah satu pemegang saham menemukan adanya aliran dana aneh yang mengalir ke Keluarga Alban. Mereka memeriksanya dan menemukan bahwa Tuan Rhys yang mengambilnya.”


“Gosip dari mana itu? Aku akan segera kembali. Bantu aku untuk meredam semuanya hingga aku tiba,” kata Finn.

__ADS_1


Suara Finn yang tiba-tiba tegas dan sedikit menggelegar, membuat Rhys menautkan kedua alisnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Setelah Finn memutus panggilan itu, ia pun menoleh ke arah Rhys.


“Katakan padaku ada apa?” tanya Rhys.


“Para pemegang saham akan mengadakan meeting dan berencana menarik semua investasi mereka di Perusahaan Alban,” jawab Finn.


“Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba?” Rhys mulai kuatir karena Perusahaan Alban sudah menjadi bagian dari hidupnya.


“Mereka menuduhmu telah melakukan kecurangan dengan mengambil dana perusahaan secara sepihak.”


“Apa?!” Rhys yang tak ingin masalah ini semakin melebar, akhirnya terpaksa kembali ke Kota Helsinki di Finlandia. Ia berjanji di dalam hatinya kalau ia akan segera kembali ke Desa Lauterbrunnen untuk meraih cintanya.


“Kamu sudah yakin?” tanya Finn.


“Aku yakin, tapi siapkan dua orang kepercayaan kita untuk mengawasi dan menjaga Celine. Aku tak ingin kehilangan jejak istriku lagi. Carilah yang kompeten dan berpengalaman,” perintah Rhys.


“Aku mengerti.”


**


Selama 1 minggu, Alice mempelajari semua detail Perusahaan Albanie. Ia sudah mulai mengerti fungsi setiap divisi. Sebelumnya, ia hanya fokus pada divisi keuangan yang ia pegang, tapi kini ia tahu seluruh detail perusahaan.


“Tak ada, Nona. Sudah selesai semua.”


“Lalu, di mana laporan yang perlu kuperiksa dan tanda tangani?”


“Ada di sini,” Tina mengambil beberapa berkas yang ia letakkan di meja sofa, kemudian meletakkannya di atas meja Alice.


Ia menghela nafas pelan, “sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang lagi untukku. Bukan begitu, Tin?” Tina tersenyum tipis dan mengangguk.


Sebelum memulai pekerjaannya, Alice mengambil ponselnya. Hampir seminggu ini, Celine tak pernah menghubunginya. Ia sudah mencoba menghubungi Celine namun tak diangkat sama sekali.


Apa yang sedang terjadi? Apa dia mengalami sesuatu? - batin Alice mulai menebak-nebak.


Ia kembali bekerja sambil terus berpikir apa yang terjadi pada Celine. Ia tak bisa seenaknya pergi saat ini karena ia diberi tugas dan tanggung jawab yang besar menurutnya.

__ADS_1


Waktu makan siang tiba, Alice baru ingin menekan tombol intercom di mejanya dan meminta tolong pada Tina untuk membelikannya makanan, tetapi pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dulu.


“Halo. Selamat siang, Nona CEO atau harus kupanggil Nyonya CEO?”


“Raf, kamu di sini?” wajah Alice menampakkan senyum. Ia sudah melupakan perkataan Rafael waktu itu karena ia telah bertemu dengan Celine dan memastikan bahwa putri dari orang yang pernah menolongnya berada dalam keadaan baik dan sehat.


“Ya, aku ingin mengunjungi Nyonya Alban,” kata Rafael.


“Apa maksud perkataanmu, Raf? kalau kamu ke sini hanya untuk bertengkar denganku, sebaiknya kamu pergi.”


“Ouuu, jadi setelah apa yang kulakukan untukmu dan kamu mendapatkan keinginanmu, kamu akan mengusirku begitu saja?”


“Aku semakin tak mengerti dirimu, Raf. Apa yang sedang merasukimu?” tanya Alice.


Rafael maju mendekati Alice yang sedang duduk. Ia menahan tangannya di meja untuk menyangga tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alice.


“Apa kamu berpikir ada setan yang merasukiku?” Kata Rafael tepat di depan wajah Alice, membuat Alice memalingkan wajahnya.


Rafael tertawa mengejek, “Jangan sok jual mahal. Aku tahu kamu pasti telah menjual tubuhmu itu pada Rhys bukan? Karena itulah kamu kini bisa memimpin Perusahaan Albanie.”


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Rafael, “Sungguh aku tak mengenalmu lagi, Rafael Kaili. Jika menurutmu aku begitu rendah, pergilah! Jangan pernah menemuiku lagi. Aku akan mengganti semua yang pernah kamu lakukan untukku.”


“Mengganti semuanya? Dengan apa? Bagaimana kalau kamu menggantinya dengan tubuhmu?”


Plakkk


Kembali sebuah tamparan mendarat di wajah Rafael. Alice tak pernah menampar atau berbuat kasar pada siapapun. Ia biasa hanya menggunakan kata-katanya yang tajam, namun baginya kali ini Rafael sangat keterlaluan.


“Keluar. Keluar! Aku bilang cepat keluar!” teriak Alice yang tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya.


“Aku akan keluar, tapi aku pastikan kamu akan membayar semuanya.”


Setelah kepergian Rafael, Alice duduk di kursinya. Tubuhnya bergetar dan buliran air mata mulai mengalir di pipinya. Sedari tadi ia berusaha menahan air matanya agar Rafael tidak melihat bahwa ia lemah.

__ADS_1


Mengapa kamu mengatakan hal seperti itu padaku? Sebegitu rendahnya-kah diriku di matamu? Apa kamu tidak mengenalku dengan baik? - Alice mengusap air mata yang ada di pipinya.


🌹🌹🌹


__ADS_2