LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#49


__ADS_3

“Mengapa kamu tidak mengatakan kalau Alice sedang pergi ke Jepang?” tanya Celine.


“Aku tidak ingin. Melihat dari apa yang terjadi sebelumnya, aku yakin ada masalah di antara keduanya. Bukankah Rafael juga yang membantumu keluar dari negara ini?” tanya Rhys pada Celine.


Celine yang kaget, menatap mata Rhys, kemudian menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu anggap saja sekarang saatnya balas dendam. Aku akan membuat dia memiliki perasaan sepertiku,” gumam Rhys. Dari tatapan Rafael, Rhys bisa membaca bahwa pria itu merasakan kegelisahan dan ketakutan saat tak menemukan Alice, sama seperti apa yang ia rasakan dulu. Hanya saja Rhys tidak mengetahui apa masalah yang terjadi di antara keduanya.


“Maaf,” kata Celine pelan.


“Aku yang seharusnya minta maaf padamu,” Rhys memeluk tubuh Celine dan mengecup pucuk kepalanya.


**


Revan sudah mendapat perintah dari Rhys sejak kemarin, hanya saja ia belum sempat mengerjakan tugas itu karena pekerjaan Finn dilimpahkan padanya, membuat kepalanya kini mau pecah.


Ia menautkan kedua alisnya ketika melihat tempat yang akan direnovasi oleh atasannya itu, “tidak mungkin.”


Beberapa kali Revan membacanya dan hasilnya tetap sama.


“Adam’s Homestay,” gumamnya pelan, “Bukankah ini …?”


Revan harus pergi ke Desa Lauterbrunnen bersama dengan tenaga interior yang dipercaya oleh Perusahaan Alban. Sudah lama rasanya ia tak menginjakkan kaki di sana, membuat kenangan itu seakan terus berputar.


“Selamat malam,” sapa Revan ketika ia sampai di Adam’s Homestay dan langsung berhadapan dengan sisik seorang wanita paruh baya.


“Sela-mat ma-lam,” Aunty Giza tak percaya. Ia melihat putra bungsunya yang sudah lama tak pulang.


“Van?”


“Mom …,” Revan mendekat padanya dan memeluknya.


Plakkk


Aunty Giza memukul bahu putranya itu untuk meluapkan kebahagiaannya, meskipun kini di wajahnya tampak lelehan air mata yang sudah membasahi pipinya.


“Mom! Sakit!”


“Tidak usah berteriak! Lebih sakit hati Mommy karena menunggumu pulang.”


“Maafkan aku, Mom. Aku …,” perkataan Revan terputus ketika ia melihat kakaknya datang.

__ADS_1


“Van!” panggil Albert.


“Kak.”


Ketiganya kini berpelukan. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini, apalagi sejak Revan memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Kini ketiganya duduk bersama, sementara arsitek interior sudah beristirahat di dalam kamarnya.


“Mom, aku ke sini atas perintah dari atasanku,” kata Revan.


“Kamu disuruh pulang kampung?” tanya Albert.


“Tidak. Aku ke sini untuk bekerja. Sebenarnya, aku diminta untuk merenovasi salah satu kamar di sini. Namun, Tuan Rhys meminta izin pada Mommy, apakah ia bisa merenovasi secara keseluruhan? Ia berjanji tak akan menghilangkan kesan natural dari penginapan ini,” jawab Revan.


“Jadi, Tuan Rhys itu atasanmu?” tanya Aunty Giza.


“Ya, Mom. Berarti Celine …?”


“Celine adalah istri Tuan Rhys,” jawab Revan lagi.


“Mommy akan mengikuti apapun keinginannya,” kata Aunty Giza.


“Mommy akan menghilangkan kenangan bersama Dad?” tanya Albert.


“Kenangan itu tak akan hilang, karena itu akan selalu menetap di dalam hati Mommy. Lagipula, semua pembaharuan itu perlu, kita tak perlu terus terjebak dapam masa lalu,” kata Aunty Giza, membuat Albert tersindir.


“Vivi?” tanya Albert.


“Hmm … arsitek interior yang akan mendesain penginapan ini,” jawab Revan.


Apa itu Vivienne? - batin Albert.


**


Sebuah klub menjadi tempat Rafael meluapkan rasa marahnya. Ia tak terima saat Finn dan Rhys tak memberitahukan padanya di mana Alice berada. Rafael mengeluarkan ponselnya dan membuka kontak Alice. Ia mencoba menghubungi wanita itu berkali-kali, namun tak terdengar nada sambung sekalipun.


“Di mana sebenarnya dirimu?” gumam Rafael.


“Tuan, kita pulang sekarang,” ajak Max yang tak mau jika Tuan-nya itu sampai mabuk dan membuat keributan di sana.


“Maxxx!!! Di mana dia, Max? di mana wanita itu? Mengapa dia meninggalkanku?” gumam Rafael yang sudah setengah mabuk.


“Kita pulang, Tuan,” Max mencoba mengangkat tubuh Rafael. Ia mengalungkan tangan atasannya itu ke lehernya. Ia juga telah membayar semua tagihan minumn Rafael.

__ADS_1


“Max, dengar! Kamu harus membantuku mencarinya. Aku harus menemukannya, Max! Ia hanya milikku! Milikku!”


Hoekkk …


Rafael memuntahkan cairan di luar klub. Untung saja ia melakukanny sebelum mereka sampai di mobil, kalau tidak Max pasti akan mendapat tugas tambahan.


Max mengantarkan Rafael sampai ke Kediaman Keluarga Kaili. Kedua orang tua Rafael sudah sangat tua. Itu karena mereka mendapatkan Rafael saat usia pernikahan mereka menginjak 12 tahun.


“Max, ada apa dengan Rafael?” tanya Nyonya Sophia.


“Ia hanya sedikit mabuk, Nyonya,” jawab Max.


“Bawa dia naik, Max,” perintah Nyonya Sophia.


Setelah Max membaringkan Rafael ke atas tempat tidur, ia segera melepas sepatu atasannya itu, lalu bernafas lega karena ia telah membawa Rafael pulang. Ia pun segera turun ke bawah. Mata Max menangkap sosok wanita di bawah yang ia pastikan adalah Nyonya Sophia yang masih menunggu penjelasan darinya.


“Saya kembali dulu, Nyonya.”


“Tidurlah di sini saja, Max. Kamar tamu masih kosong. Kamu pasti juga kelelahan menjaga putraku itu,” kata Nyonya Sophia.


“Terima kasih, Nyonya.”


“Tapi sebelumnya, katakan padaku … apa yang sebenarnya terjadi padanya.”


Melihat tatapan Nyonya Sophia yang mulai mengintimidasi, Max rasanya tak dapat menghindar. Akhirnya Nyonya Sophia dan Max duduk bersama di sofa ruang keluarga.


“Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi pada Rafael, Max,” Nyonya Sophia melipat kedua tangan di depan dadanya dan menatap ke arah Max.


“Tuan Rafael hanya sedikit mabuk saja, Nyonya,” kata Max.


“Max, katakan sejujurnya. Rafael tak pernah mabuk jika ia tak memiliki masalah besar. Ia pernah mabuk hanya sekali, dan itu adalah saat Rhys mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, hingga mereka kehilangan persahabatan mereka.”


“Tuan Rhys sudah sembuh dan mengingat Tuan Rafael, Nyonya,” kata Max.


“Benarkah?”


“Ya. Lalu? Bukankah itu seharusnya membuat ia bahagia? Mengapa malah mabuk?” tanya Nyonya Sophia.


“Tuan Rhys akan segera menggelar resepsi pernikahan.”


“Jangan katakan padaku kalau mereka mencintai wanita yang sama,” Nyonya Sophia mulai menduga-duga apa yang terjadi pada putranya itu.

__ADS_1


Max terdiam karena ia tak tahu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Dalam hati ia mengambil keputusan untuk tetap diam dan membiarkan Rafael sendiri yang akan mengatakan apa yang terjadi dengannya, kepada orang tuanya.


🌹🌹🌹


__ADS_2