LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#40


__ADS_3

Tokk tokkk tokk …


Celine membuka pintu kamarnya dan mendapati Rhys yang tengah berdiri di sana. Dengan reflek ia langsung menutup pintu, tapi Rhys menahan dengan sebelah kakinya.


“Aku ingin bicara,” kata Rhys dengan lembut.


“Tak ada yang perlu kita bicarakan. Kita tak ada hubungan apapun,” balas Celine.


“Aku masih suamimu dan akan tetap menjadi suamimu. Kita tak akan pernah berpisah.”


“Jangan membuat hidupku menjadi sulit. Aku tak ingin dianggap sebagai seorang wanita yang merebut kekasih orang lain, ataupun mengambil Dad dari anaknya,” kata Celine.


“Lalu kamu akan membuat anak kita tidak memiliki aku sebagai Daddynya?”


Mendengar perkataan Rhys, tahanan tangannya di pintu sedikit melonggar. Ia belum mengatakan pada Rhys mengenai kehamilannya.


Apa ini semua Alice yang mengatakannya? Tentu saja. Keberadaanku hanya Alice yang tahu, begitu juga dengan kehamilanku. - batin Celine.


“Ini anakku, bukan anakmu,” kata Celine dengan cepat. Ia tak ingin Rhys mengambil anaknya.


“Bisakah kita bicara baik-baik?” tanya Rhys.


“Sudah kukatakan, tak ada yang perlu kita bicarakan,” tiba-tiba saja bayangan di mana Rhys dan Keluarga Alban memperlakukannya, lalu kematian Dad Harry, membuatnya berjongkok dan menutup telinganya. Hal itu dipakai oleh Rhys untuk langsung masuk ke dalam kamar milik Celine dan menutupnya.

__ADS_1


Ia mendekati Celine dan memeluknya dari belakang, “Maaf … maafkan aku yang sempat melupakanmu. Maafkan aku yang melupakan semua janji yang telah kubuat. Apakah kamu masih mengijinkanku untuk menepati semuanya?” Bisik Rhys di telinga Celine.


Tubuh Celine bergetar, ia tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Bagaimana sifat kasar Rhys, masih terekam jelas di dalam ingatannya, bahkan menjadikan dirinya hanya istri singkat demi harta Keluarga Alban.


“Tinggalkan aku sendiri,” kata Celine dengan lirih dan bergetar.


“Lin … maafkan aku.”


“Tinggalkan aku sendiri. Aku tak ingin melihatmu saat ini.”


Rhys tak ingin membuat Celine stres dan tertekan. Hal itu pasti akan mempengaruhi bayi yang ada dalam kandungannya. Ia pun melepaskan pelukannya dan bangkt berdiri.


“Aku akan tetap di sini, menemanimu. Aku ada di kamar seberang. Kalau kamu memerlukan atau menginginkan apapun, masuklah. Aku tak mengunci pintunya,” kata Rhys.


Setelah Rhys menutup pintunya, buliran air mulai turun dari mata Celine. Ia naik ke atas tempat tidur, berbaring dan memeluk dirinya sendiri. Ia memejamkan mata, berusaha hanya mengingat kebaikan Rhys dulu saat mereka masih tertawa dan berlari bersama. Namun, kenangan itu langsung buyar saat ia mengingat kematian Dad Harry.


3 bulan Celine berada di rumah Keluarga Alban, dan tidak sekalipun ia bisa leluar untuk menemui Daddy yang ia sayangi. Betapa hidup terasa kejam ketika ia tak bisa menemui Dad Harry untuk sekedar memeluknya dan merasakan hangat dekapannya.


Malam tiba dan Celine sama sekali tak keluar dari kamar tidurnya. Rhys yang sejak tadi mondar-mandir di dalam kamar, menjadi makin gelisah. Ia tak ingin sampai Celine kelaparan dan sakit, apalagi kini wanita itu sedang mengandung. Rhys sangat yakin bahwa anak yang ada dalam kandungan Celine adalah miliknya.


Tepat pukul 12 malam, Rhys yang tahu bahwa Celine tak mengunci pintu kamarnya, membuka pintu perlahan. Sebelumnya, ia telah meletakkan telinganya di pintu dan memeriksa apakah masih ada suara yang menandakan bahwa Celine masih terbangun.


Setelah yakin tak ada suara, ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Ia melihat Celine berbaring di atas tempat tidurnya dengan wajah yang sembab. Rhys menghela nafasnya pelan. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri yang telah membuat Celine menangis.

__ADS_1


“Maafkan aku,” Rhys masuk ke dalam selimut dan memeluk wanita yang masih sah sebagai istrinya itu. Ia memeluknya dan memberikan kecupan di kening.


**


Eve kini tinggal di apartemennya seorang diri. Tak ada pekerjaan yang bisa ia ambil, mengingat perutnya yang kini sudah mulai terlihat membuncit. Sejak ia kembali sehabis mengerjakan proyek terakhirnya, Lila sang manager hampir tak pernah terlihat. Eve sudah mencoba menghubunginya, namun tak berhasil.


“Ke mana dia pergi?!” Eve membanting ponselnya ke atas tempat tidur.


Tak ada pekerjaan, tak ada teman, tak ada pria yang menemaninya. Hidupnya benar-benar kosong dan hampa. Ia ingin mencari Rhys ke Perusahaan Alban, tapi ia yakin, ia pasti akan diusir lagi dari sana. Bahkan terakhir kali ia ke sana, Finn telah berpesan pada petugas keamanan agar tak mengijinkannya masuk san semua itu atas perintah dari Rhys.


Ide cemerpang seakan mampir di dalam pikirannya. Jika ia tak bisa menemui Rhys di Perusahaan, maka ia akan mencarinya di rumah Keluarga Alban. Ia pun segera berganti pakaian dan pergi.


Sesampainya di sana, ia langsung masuk ke dalam tanpa permisi lagi. Kebetulan sekali petugas keamanan sedang tidak berada di tempatnya. Dengan percaya diri ia masuk ke dalam rumah dan langsung saja naik ke kamar tidur milik Rhys.


Ceklekkk


Beberapa kali ia mencoba membuka pintu, namun tak berhasil. Hal itu membuatnya kesal dan menghentakkan kakinya. Ia mulai memukul pintu kamar tidur Rhys dan memanggil pria itu.


“Rhys!!! Honey!! Aku tahu kamu di dalam! Mengapankamu mengunci pintu kamarmu. Izinkan aku masuk, kita perlu bicara,” Eve terus berusaha untuk membuat pintu itu terbuka.


“Arghhh!!!”


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2