
Terpampang dengan jelas kejahatannya, membuat Uncle Ronald terdiam. Bahkan tubuhnya mulai gemetar karena ia tahu pasti apa kelanjutan setelah ini. Pintu ruang meeting terbuka dan menampilkan beberapa pria berseragam kepolisian.
“Selamat siang, Tuan Rhys,” kata salah seorang petugas.
“Selamat siang. Anda bisa langsung menangkapnya. Semua bukti sudah ada pada anda,” balas Rhys.
“Siap, Tuan.”
Beberapa petugas berseragam pun mendekat ke arah Uncle Ronald dan memegang kedua lengannya.
“Lepaskan aku!! Rhys, kamu tak bisa melakukan ini. Aku ini Uncle-mu,” teriak Uncle Ronald.
“Uncle?! Apa ada Uncle yang mau menghancurkan keponakannya sendiri, demi harta, kekuasaan? Ooo tentu saja ada dan itu dirimu,” kata Rhys dengan sinis.
“Rhys!! Jangan bicaramu!” teriak Uncle Ronald.
“Cepat bawa dia pergi,” kata Rhys.
“Dan kalian yang mendukungnya, bisa mengikutinya karena aku tak akan lagi mempekerjakan kalian di sini. Aku juga mempersilakan para pemegang saham untuk menarik saham kalian, karena aku bisa mendapatkan yang lebih dari kalian,” lanjut Rhys yang kemudian bangkit dan ingin keluar dari ruangan.
“Rhys! Honey!” panggil Eve.
Rhys tak menghentikan langkahnya, membuat Eve sedikit berlari untuk mengejarnya, “Rhys! Tunggu aku! Aku akan menjelaskan semuanya.”
Rhys menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. Ia menatap Eve dengan tajam.
“Aku tak perlu penjelasan apapun darimu. Aku sudah melihatnya dengan mataku sendiri. Aku mengakui betapa bodohnya aku bisa jatuh cinta pada wanita sepertimu. Satu lagi, malam itu … tak ada apapun terjadi di antara kita, kamu menjebakku!” kata Rhys.
“Aku tidak pernah menjebakmu. Ini adalah anak kita. Aku terpaksa mengikuti kemauan Uncle Ronald karena ia mengancamku. Ia akan membunuhmu jika aku tak menuruti keinginannya,” Eve mencoba membela dirinya.
Rhys membisikkan sesuatu ke telinga Finn, kemudian bergegas pergi.
“Rhys!” Eve memanggil Rhys.
“Kamu bisa ikut denganku dulu. Ada hal yang ingin dipastikan oleh Rhys agar semuanya menjadi jelas.”
__ADS_1
**
“Mengapa kamu membawaku ke sini?” tanya Eve pada Finn.
Eve memindai dan ia tak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Finn. Sedari tadi ia hanya terus mengikuti pria itu dan sesekali ia diminta untuk duduk, sementara pria itu pergi ke bagian administrasi.
“Masuklah ke dalam, dokter akan memeriksa kandunganmu,” kata Finn.
Eve sedikit bernafas lega. Ia mengira Rhys masih percaya padanya karena ternyata pria itu meminta Finn untuk membawanya menemui dokter kandungan. Ia tahu, bagaimanapun dan apapun yang terjadi, Rhys pasti masih mencintainya.
Namun, Eve merasa sedikit aneh karena proses pemeriksaan yang ia lakukan saat ini sangat berbeda dari biasanya. Namun ia tak terlalu banyak bertanya karena ia pikir untuk usia kehamilannya, hal seperti itu harus dilakukan.
“Berapa lama hasilnya akan Tuan Rhys dapatkan?” tanya Finn.
“4 minggu.”
“Tidak bisa. Tuan Rhys tak mau menunggu selama itu. Kurasa 2 minggu sudah cukup, tak ada penundaan,” kata Finn.
Dokter itu pun akhirnya menganggukkan kepala, menyetujui dan menyanggupu keinginan Rhys. Finn pun bergegas pergi dari rumah sakit sementara Eve menjalani proses tanpa tahu tujuan dari proses itu.
**
“Pagi, Aunty,” Celine menyapa balik.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku akan pergi ke kota sebentar untuk memeriksakan kandunganku,” kata Celine.
“Aunty akan menemanimu.”
“Tidak perlu, Aunty. Aku tak ingin merepotkanmu.”
“Kamu sama sekali tak merepotkan Aunty. Aunty justru senang bisa menemanimu.”
Saat mereka akan keluar dari penginapan, tampak sosok pria yang akan masuk.
__ADS_1
“Albert?”
“Mom. Kamu mau pergi?” tanya Albert.
“Ya, Mom akan pergi bersama Celine ke kota. Ada beberapa barang yang perlu Mommy beli.”
“Untuk apa Mom pergi ke kota? Di minimarket ini juga semua tersedia. Aku selalu membelikan apapun yang sudah habis,” kata Albert.
Aunty Giza tahu bahwa tak akan mudah ia pergi untuk menemani Celine ke dokter kandungan. Celine pun mengerti arti dari tatapan Albert yang sepertinya mencurigainya.
“Kalau begitu, aku akan pergi sendiri saja, Aunty. Kalau nanti Aunty mau titip sesuatu, hubungi saja aku,” kata Celine.
“Albert! Kamu temani Celine.”
“Menemaninya? Untuk apa? Aku ke sini untuk menemui Mommy. Mengapa justru aku disuruh pergi untuk mengantarnya?” tanya Albert.
“Ia sedang hamil. Apa kamu tega melihat wanita hamil pergi ke kota sendirian?” Aunty Giza kali ini akan bersikap lebih tegas pada Albert. Putranya itu selalu memandang sinia pada setiap wanita yang ia temui. Itu semua karena kekasihnya yang pergi ke kota dan memiliki kekasih baru, kemudian mencampakkannya begitu saja.
Akhirnya Albert mengikuti keinginan Aunty Giza. Ia tak ingin Mommynya itu marah dan menyebabkannya sakit.
Di dalam mobil, tak ada perbincangan di antara keduanya. Albert berhenti di lobby rumah sakit dan Celine pun membuka seatbelt.
“Terima kasih sudah mengantarku. Maaf sudah merepotkanmu. Anda bisa pulang terlebih dulu, Sir. Aku bisa pulang sendiri nanti,” kata Celine.
“Aku bukanlah pria yang tak bertanggung jawab. Masuklah, aku akan menunggumu hingga selesai. Kamu akan kembali ke Lauterbrunnen bersamaku,” kata Albert tanpa melihat ke arah Celine.
“Baiklah, terima kasih. Aku usahakan tak akan lama.”
Celine pun turun dari mobil dan menuju ke bagian pendaftaran. Ia tak memilih dokter karena ia hanya ingin melihat kondisi bayi dalam kandungannya. Ia melakukan pendaftaran pada praktek dokter yang tidak terlalu panjang antriannya.
Sementara Celine berada di dalam, Albert yang duduk di dalam mobil sambil sesekali berselancar di ponsel, melihat seorang wanita yang hingga kini masih menimbulkan luka di hati Albert. Albert bisa melihat wanita itu kini tengah mengandung, dengan perut yang membuncit.
Ia sedang hamil? - batin Albert.
🌹🌹🌹
__ADS_1