
“Aku senang sekali melihat kalian berdua,” kata Finn saat melihat kedatangan Rhys bersama Celine dalam suasana yang begitu romantis.
“Jangan menggodaku, ayo kita pulang,” ujar Rhys.
Ia terus menggenggam tangan Celine seakan tak rela jika wanita itu sampai terlepas lagi darinya.
“Bagaimana keadaan perusahaan, Finn?” tanya Rhys.
“Perusahaan Alban baik, Albanie juga sudah lebih baik, akan tetapi Rafael tetap saja ingin berusaha mengambil alih kepemilikannya,” jawab Finn.
“Ada apa dengannya? Jadwalkan pertemuanku dengannya, Finn,” pinta Rhys.
“Baiklah.”
“Lalu bagaimana keadaan Aunty Anna?”
Celine tak berkata apapun, ia hanya mendengar dengan seksama semua pembicaraan antara Rhys dengan Finn.
“Aunty Anna akan segera dipindahkan ke rumah sakit di Jepang, sesuai rekomendasi yang kamu berikan. Alice juga sudah bersiap untuk ikut ke sana. Oleh karena itu, tak ada yang memimpin Albanie.”
“Albanie adalah milikmu, sayang. Apa kamu ingin mencoba memimpinnya?”
“Milikku?” tanya Celine yang tak percaya akan hal itu.
“Dad Dave yang memberikannya saat ulang tahunmu, kamu tidak ingat?” tanya Rhys.
Celine menggelengkan kepalanya.
Mana mungkin aku ingat hal seperti itu. Mataku hanya tertuju padamu sejak dulu. Bagiku hal lain tak terlalu penting. - batin Celine.
“Hmm … bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Celine.
“Tanyalah. Kamu boleh bertanya apa saja,” jawab Rhys.
“Dari mana kamu tahu keberadaanku?”
__ADS_1
“Dia itu harus dipaksa untuk liburan dulu, bahkan aku harus menariknya. Kalau saja ia menolak, tak mungkin ia menemukanmu!” Celetuk Finn.
Jadi bukan Alice yang memberitahukan keberadaanku pada Rhys? Ya Tuhan, aku bersalah pada Alice. Ia sudah menolongku, tapi aku malah mencurigainya. - batin Celine.
Rhys berdecak kesal, tapi tak ia pungkiri bahwa liburannya membawa berkah. Ia bisa menemukan wanita yang ia cari, wanita yang ia cintai.
“Oya, Rhys. Ada hal yang perlu kubicarakan denganmu,” kata Finn serius.
“Baiklah, nanti kita bicarakan di ruang kerja.”
Finn mengemudikan mobil menuju ke Kediaman Keluarga Alban. Biasanya mereka menggunakan supir, namun kali ini Finn sendiri yang menjemput atasannya itu.
Saat melihat Kediaman Keluarga Alban, Celine kembali terdiam. Yang diingatnya hanyalah kenangan buruk. Rhys melihat ke arah Celine dan ia tahu apa yang ada di pikiran Celine.
“Maafkan aku karena memberimu kenangan buruk di sini. Tapi aku berjanji mulai sekarang, hanya akan ada kenangan indah kita di sini bersama dengan anak-anak kita,” kata Rhys dengan lembut.
“Sudah, sudah! Jangan romantis di depan orang yang masih jomblo,” kata Finn.
“Makanya cepat cari pasangan,” ujar Rhys.
“Bagaimana mau cari pasangan kalau setiap hari hanya diisi dengan kerja, kerja, dan kerja. Bahkan harus menggantikan atasannya yang pergi berlibur,” Finn seakan mencari celah untuk membuat Rhys merasa bersalah.
“Bisa berlibur!!” teriak Finn.
“Bisa menggantikan Alice untuk mengurus Albanie,” lanjut Rhys.
Wajah Finn seketika berubah. Bukan liburan yang ia dapat, tapi malah harus mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh Celine.
“Dasar temen nggak ada akhlak!” teriak Finn dengan kesal.
“Bulan depan, aku berjanji akan memberimu liburan. Tapi sekarang bantu aku dulu untuk mengembalikan Albanie seperti semula,” kata Rhys.
“Benar ya?! Ingat janji adalah janji. Celine, kamu saksinya ya,” kata Finn. Ia tak mau lagi hanya makan janji kosong dari Rhys.
Celine hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya. Rhys pun akhirnya membawa Celine masuk ke dalam, tentu saja dengan menggenggam erat tangan istrinya itu.
__ADS_1
Saat mereka sampai di pintu, terlihat Alice yang baru saja menuruni tangga sambil memegang sebuah map. Mata Alice membulat saat melihat kehadiran Celine di sana. Ia pun menghampiri.
“Lin, kamu baik-baik saja? Aku menghubungimu, tapi kamu tak pernah mengangkatnya. Aku bahkan ingin pergi ke sana, tapi … Mommyku masuk rumah sakit,” kata Alice. Alice lupa kalau Rhys tak tahu kalau ia ambil bagian dalam kepergian Celine. Hal itu tentu saja membuat Rhys menautkan kedua alisnya dan bertanya-tanya.
“Jangan pernah menyalahkannya, aku yang memintanya. Ia tak tega melihatmu berlaku kasar padaku. Kita lupakan saja ya, bukankah kamu sudah berjanji?” Celine berusaha berbicara setenang mungkin. Ia tak ingin Rhys marah pada Alice.
“Aku harus pergi sekarang, Aku hanya mengambil barang yang tertinggal. Lin, kuharap kebahagian akan selalu ada bersamamu. Sampai jumpa lagi,” kata Alice yang kemudian pergi meninggalkan kediaman Keluarga Alban. Ia juga pamit pada Rhys dan Finn.
Rhys membawa Celine masuk ke dalam, tentu saja hal itu membuat Celine menatap ke sekeliling. Tak ada yang berubah, hanya saja rumah itu kelihatan lebih sepi dari sebelumnya.
“Sepi sekali,” kata Celine pada akhirnya.
“Aunty Anna dan Alice akan menetap di Jepang sementara waktu, sampai Aunty Anna pulih. Uncle Ronald, ia dipenjara karena telah melakukan penggelapan uang perusahaan.”
“Lalu … Eve?”
“Aku tak mengijinkannya lagi datang ke sini ataupun ke perusahaan sejak ia mengkhianatiku dan aku mengingat dengan jelas siapa yang sebenarnya kucintai,” jawab Rhys.
“Kita akan mengubah interior rumah ini, agar kamu memiliki suasana baru, hmm …,” Rhys tersenyum dan merangkul Celine, kemudian mengajaknya ke kamar tidur yang akan mereka tempati.
**
Alice berlari ketika sampai di bandara. Tinggal 30 menit sebelum pesawat yang membawanya pergi akan lepas landas.
Ia berlari menuju konter check-in, untung saja masih sempat. Ia segera masuk dan menemui seorang perawat yang bersama dengan Mommy-nya.
“Syukurlah aku masih sempat,” kata Alice yang langsung duduk di kursinya.
“Bagaimana Mommy?” tanya Alice pada Nina, sang perawat.
“Nyonya baik-baik saja, sekarang sedang tertidur,” jawab Nina.
“Kamu juga sebaiknya beristirahat, perjalanan kita akan panjang,” kata Alice.
Setelah menunggu sebentar, suara pilot di kabin pesawat mulai terdengar, yang artinya mereka akan segera berangkat, meninggalkan Kota Helsinki.
__ADS_1
Ini semua sudah benar. Ini jalan yang kuambil. Aku tak punya hutang apapun, aku juga telah melihat bahwa Celine kembali pada Rhys. Itu artinya sudah ada yang menjaganya. Dad, kuharap Daddy bisa merenungi kesalahan Daddy. Raf, terima kasih sudah pernah menjadi sahabatku, meskipun tak berakhir dengan baik. Selamat tinggal. - batin Alice dalam hati.
🌹🌹🌹