
Alice telah sampai di sebuah rumah di pinggir kota Tokyo. Rumah tersebut juga lokasinya dekat dengan rumah sakit di mana Mommynya (Pansy ganti sebutannya jadi Mom Anna ya) akan melakukan terapi.
“Mom, makan dulu,” kata Alice yang kini duduk di hadapan Mom Anna yang hanya terdiam di sebuah kursi roda. Sejak kejadian jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan pada kepalanya, kaki sebelah kanan Mom Anna tak bisa digerakkan, sehingga ia harus menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya.
“Mom tidak mau makan,” ujar Mom Anna.
“Mom, besok kita harus pergi untuk melakukan kemo. Mommy harus berada dalam keadaan sehat,” kata Alice.
“Untuk apa Mom sehat? Hanya untuk dikhianati, diselingkuhi, atau untuk dihina?” kata Mom Anna dengan lirih.
“Apa Mom tak ingin sembuh? Apa bagi Mom sembuh hanya untuk Dad? Apa tidak pernah memikirkan aku?” kini Alice yang merasa bahwa dirinya tak bernilai di mata Mom Anna.
“Mom lebih baik mati saja! Mom tidak mau hidup cacat seperti ini!” teriak Mom Anna.
“Mom hentikan!” kata Alice sambil memegang bagian kanan dan kiri kursi roda yang diduduki Mom Anna.
“Baiklah, terserah Mom mau makan atau tidak,” Alice akhirnya meninggalkan Mom Anna sendirian di dalam kamar. Untuk apa ia terus memaksa Mom Anna kalau dari dalam diri Mom Anna sendiri tak ada keinginan untuk sembuh.
Sakit? Ya. Ia tak diinginkan oleh siapapun. Bahkan Mommynya sendiri lebih memilih mati daripada hidup untuknya. Alice hanya bisa membuka jendela dan menatap halaman depan rumah yang saat ini ia tempati.
**
Rhys selalu mengajak Celine ke mana pun ia pergi. Namun, Celine selalu menolak karena tubuhnya yang belakangan ini terasa mudah lelah. Oleh karena itu lebih memilih beristirahat di rumah.
“Tak ingin ikut denganku?” tanya Rhys.
“Aku lelah. Bolehkan hari ini aku tidak ikut? Aku ingin beristirahat saja,” jawab Celine.
Rhys sedikit terkekeh karena ia juga yang membuat istrinya itu kelelahan. Tubuh Celine seakan menjadi candu baginya. Ia ingin terus-menerus menyentuhnya dan bersama berbagi peluh.
“Tentu saja boleh. Aku akan pulang cepat hari ini,” kata Rhys yang tak ingin lama-lama berjauhan dengan sang istri.
__ADS_1
“Terima kasih, sayang,” Celine mengecup bibir Rhys, membuat Rhys tersenyum dan rasanya tak ingin meninggalkan istrinya itu. Namun, ia juga tak mungkin berada di sana karena bisa-bisa ia akan membuat Celine bertambah lelah.
Ia pun pergi ke Perusahaan Alban seorang diri. Finn juga sibuk di Perusahaan Albanie. Rhys tak ingin Albanie sampai hancur dan bangkrut. Itu adalah perusahaan milik istrinya yang juga diberikan oleh Dad Dave. Ia harus selalu menjaganya.
Saat jam makan siang, Rhys mendapat telepon dari Celine, “ada apa, sayang?”
“Aku ingin pergi mengunjungi makam Dad.”
“Aku akan menjemputmu. Kita akan pergi bersama,” Rhys lupa kalau sudah lama sekali ia tak mengunjungi makam Dad Dave dan Mom Diana, begitu juga dengan Dad Harry.
Kekacauan di Perusahaan Alban saat kepergian Celine, membuatnya melupakan semua itu. Pikirannya hanya berpusat pada istrinya.
Rhys menghubungi supirnya untuk menyiapkan mobil. Rhys hampir tak pernah mengemudikan mobilnya sendiri sejak kecelakaan yang ia alami bersama Mom Diana.
**
“Bangun!” teriak Mom Sophia sambil menarik selimut yang menutupi tubuh putranya, Rafael.
“Bangun sekarang!” Mom Sophia menjewer telinga Rafael yang langsung membuat putranya itu meringis.
“Mom, sakit!” teriak Rafael sambil memegang telinganya yang terasa panas dan ia pastikan sudah memerah.
“Sakit?! Bagaimana Mom yang melihatmu pulang dengan keadaan mabuk, hmm? Apa kamu tak memikirkan Dad Raul kalau sampai ia mengetahui keadaanmu yang seperti ini?” tanya Mom Sophia.
“Maafkan aku, Mom,” kata Rafael.
Mom Sophia duduk persis di sebelah putranya yang terlihat sangat berantakan,“ sekarang ceritakan pada Mommy, apa yang terjadi padamu.
Rafael pun memeluk Mom Sophia. Meskipun di luar ia tampak begitu gagah dan mandiri, kalau di rumah ia adalah anak Mommy yang paling manja. Dad Raul dan Mom Sophia memang memanjakan Rafael karena ia adalah putra satu-satunya dan mereka sangat mengharapkan kehadirannya.
“Mom, apa Mommy akan marah padaku kalau aku menceritakan yang sejujurnya?”
__ADS_1
“Tergantung apa itu. Mommy akan tetap memarahimu kalau kamu salah,” kata Mom Sophia.
“Tapi … jangan beritahu Dad,” kata Rafael memohon berusaha membujuk Mommynya itu.
“Hmm … tapi katakan sejujurnya,” Rafael pun menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, ia menceritakan semua yang terjadi kepada Mom Sophia. Rafael sempat terhenti saat bercerita karena Mom Sophia terus saja menjitak kepalanya karema kesal.
“Mom, sakit!” Kata Rafael lagi.
“Kamu sungguh keterlaluan, Raf. Apa kamu tidak memikirkan Mommy saat melakukannya? Mommy juga seorang wanita. Mommy tak bisa membayangkan bagaimana hancur perasaannya.”
“Aku tahu Mom aku salah, karena itu aku ingin menemukannya dan menikahinya.”
“Menikahinya? Apa kamu yakin dia mau menikah denganmu? Mommy rasa tidak. Mommy yakin hatinya sangat sakit. Jangan berharap bisa menikah dengannya karena ia sudah mengatakan padamu untuk tak memgenalnya.” Kata Mom Sophia.
“Kenapa Mom jadi membelanya terus menerus?” ungkap Rafael.
“Mom akan membela siapa yang benar. Mommy sangat marah padamu, Raf,” Mom Sophia bangkit dari tempat tidur Rafael kemudian keluar dari sana.
Rafael tahu ia salah dalam memperlakukan Alice. Ia akan bertanggung jawab. Akan tetapi, di mana Alice sekarang?
**
Di hadapan 2 buah nisan yang bersebelahan, kini mereka setengah berlutut sambil meletakkan sebuket bunga.
“Mom, Dad, aku datang,” kata Celine. Tanpa terasa, air mata sudah mengalir di pipinya. Setelah meninggalnya Dad Harry, baru kali ini lagi ia datang, setelah pemakaman.
Kerinduan di dalam hatinya tiba-tiba membuncah dan membuatnya langsung memeluk nisan Dad Harry. Ia merindukannya, sangat merindukannya. Tak ada kata-kata yang mampu ia utarakan, hanya keinginan untuk memeluk saja.
Rhys yang melihat hal itu pun memeluk Celine dari belakang, “Maaf, maafkan aku yang membuatmu kehilangan momen bersama Dad Harry.”
__ADS_1
🌹🌹🌹