LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#67


__ADS_3

Rafael akan langsung membawa Alice pergi honeymoon. Ia ingin menghabiskan waktu berduaan saja dengan Alice, seperti apa yang ia inginkan selama ini.


Di dalam pesawat, Rafael terus saja memandangi Alice, seakan ia tak pernah puas.


“Bisakah kamu berhenti memandangiku?” tanya Alice.


“Tidak. Aku akan terus memandangimu seperti ini,” jawab Rafael yang tentu saja membuat wajah Alice pun memerah.


Cupp


Rafael tak tahan melihat wajah Alice yang memerah dan membuatnya gemas. Dengan cepat ia langsung menyambar bibir wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


“I love you,” kata Rafael.


“I love you, I love you, I love you. Aku tak akan pernah bosan mengatakan itu padamu,” lanjut Rafael yang membuat Alice tersenyum.


“Terima kasih.”


Rafael kembali mencium bibir Alice dan kini Alice membalasnya. Mereka berada di pesawat pribadi milik Rhys, jadi tak akan ada yang melihat mereka, kecuali seorang pramugari yang bertugas.


**


“Kamu mau membawaku ke mana?” tanya Lynelle pada Finn. Pria itu dengan seenaknya langsung mendudukkannya di kursi mobil dan mengaitkan seatbelt.


“Ke apartemenku,” jawab Finn.


“Tidak! Aku tidak mau! Turunkan aku di sini.”


“Diamlah!”

__ADS_1


Lynelle tak ingin mengganggu konsentrasi Finn, namun ia juga tak mau ikut Finn ke apartemen. Apa yang akan pria itu lakukan dengan membawanya ke sana.


Sesampainya di basement apartemen, Finn mematikan mesin mobilnya.


“Turunlah.”


Lynelle menghela nafasnya pelan. Ia turun kemudian melihat ke kiri dan ke kanan.


“Jangan mencoba untuk melarikan diri karena aku bisa kembali menemukanmu. Cepat ikut denganku,” kata Finn.


Lynelle mencebik kesal. Pria di hadapannya ini sepertinya lebih mengesalkan daripada pria-pria lain yang pernah ia temui.


Finn membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Lyn untuk masuk. Bagian dalam apartemen itu tidak terlalu besar, tapi terlihat bersih dan sangat nyaman.


“Duduklah,” kata Finn pada Lynelle. Ia sendiri kemudian berjalan ke arah kamar tidurnya dan mengambil sebuah kotak putih dengan notasi tambah berwarna merah di bagian luarnya.


“Biar aku sendiri saja,” ujar Lyn.


“Diamlah,” kata Finn.


Pria di hadapan Lynelle ini terlihat irit sekali dalam menjawab. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Lyn, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafasnya saat mengobati sudut bibir Lyn yang berdarah.


“Tunggu sebentar,” Finn bangkit dari duduk dan berjalan ke dapur. Ia mengambil es batu dan ia letakkan di dalam kain. Ia mulai mengompres pipi Lynelle yang terlihat memar.


“Shhhh …,” Lynelle sedikit meringis saat kompres tersebut menyentuh pipinya.


“Kamu tak mengaduh saat dipukuli, tapi saat dikompres malah meringis,” ujar Finn, “Apa kamu suka sekali dipukuli hingga menerima begitu saja dan tak melawan?”


Lynelle diam dan melihat wajah Finn. Finn meletakkan kotak P3K nya di atas meja.

__ADS_1


“Jangan seperti itu lagi. Aku tak suka melihatnya. Kamu itu seorang wanita. Jangan pasrah begitu saja saat dipukul,” kata Finn.


Hati Lynelle seakan menghangat. Tak pernah ada yang memperhatikannya, bahkan Dad Lucas saja tak pernah mempedulikan dirinya. Lalu mengapa pria yang baru ia kenal ini justru memperhatikannya.


“Tinggallah di sini. Di sana ada kamar kosong, kamu bisa menempatinya,” kata Finn.


“Aku tak bisa menerima kebaikanmu. Aku juga tak ingin hidupku bergantung padamu. Aku akan menginap di sini semalam dan besok aku akan pergi,” kata Lynelle.


“Kamu akan tetap di sini, kamu tak akan ke mana mana,” ujar Finn.


“T-tapi …”


Finn melihat ke arah Lynelle dan menatap manik mata wanita di hadapannya. Ia menghela nafasnya pelan.


“Menikahlah denganku. Aku akan memberikan perlindungan padamu.”


Finn tak bisa melihat wanita disakiti. Ia pernah melihat Mommynya mengalami KDRT dan ia membenci perbuatan itu. Ia juga bingung mengapa ia tak bisa membiarkan Lyn pergi begitu saja.


“Jangan bercanda denganku, Tuan. Aku tak akan pernah menikah dengan siapapun. Baiklah, aku tak akan pergi. Aku akan menjadi asisten rumah tanggamu saja sebagai bayaran untuk tinggal di sini,” kata Lynelle.


Finn bangkit dari duduknya, “terserah padamu.”


Ia mengambil kotak P3K dan masuk ke dalam kamar. Ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Di bawah kucuran air shower, Finn terdiam. Ia menghela nafasnya kasar. Ntah keberanian dari mana ia bisa mengajak seorang wanita menikah, bahkan ia baru saja mengenal wanita itu.


Aku tak akan menikah dengan siapapun. - kalimat itu terus terngiang di kepala Finn dan ia tak suka dengan itu. Tapi jika memikirkan wanita itu akan menikah dengan pria lain, ia juga tak suka.


“Aku bisa gila jika seperti ini,” ujar Finn saat masih di bawah kucuran shower.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2