
“Apa sebenarnya yang ia inginkan?” Alice tak habis pikir, bagaimana Rafael tiba-tiba ingin membeli Perusahaan Albanie. Jika Albanie bermasalah pun, masih Ada Perusahaan Alban yang akan menjaga dan menyuntikkan dana, tak perlu sampai Perusahaan milik Rafael yang melakukannya.
Tokk tokk tokk
“Masuklah,” Tina memasuki ruangan kerja Alice.
“Ada Tuan Rafael ingin bertemu dengan anda, Nona.”
Persahabatannya dengan Rafael seakan menguap begitu saja. Perubahan sikap yang ditunjukkan oleh pria itu membuat Alice menjadi bingung. Semua itu berubah ketika Alice meminta bantuannya untuk mengurus perceraian Rhys dan Celine.
“Persilakan dia masuk,” kata Alice.
“Baik, Nona.”
Tina mempersilakan Rafael untuk masuk ke dalam ruang kerja Alice. Rafael datang seorang diri, tanpa asisten pribadinya.
“Ahhh Nona Alban sedang sibuk sepertinya,” Rafael seakan mengejek Alice.
Alice menghela nafasnya pelan. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapn Rafael yang ntah mengapa belakangan ini selalu mencari masalah dengannya. Apa sebenarnya salah dirinya, ia pun tak tahu.
“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Alice.
Rafael tertawa sinis, “Ooo jadi ketika kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, aku tak boleh datang menemuimu? Apa hanya ketika kamu membutuhkan sesuatu saja, kamu menemuiku?”
Alice bangkit dari duduknya dan menghela nafasnya kasar, “ada apa sebenarnya denganmu, Raf? Aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun padamu. Mengapa sepertinya kamu jadi memiliki dendam pribadi padaku.”
“Menurutmu begitu?” Rafael seakan tak menjawab pertanyaan Alice.
Rafael bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Alice. Alice yang merasa aneh pada Rafael pun bergerak mundur, hingga tubuhnya tertahan mejanya sendiri dan ia tak dapat mundur lagi.
“Apa Rhys sudah mencicipimu?” bisik Rafael di telinga Alice.
__ADS_1
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rafael, “Keluar! Sebelum aku memanggil security untuk mengusirmu!”
“Apa kamu tidak mengijinkanku mencicipimu juga? Tidak masalah jika itu bekas Rhys, dia juga sahabatku.”
Plakkk
Kembali Alice melayangkan tangannya ke pipi Rafael. Pria yang selalu ia anggap sebagai pria yang baik, telah berubah. Sejak dulu, Alice berharap Rafael akan menoleh kepadanya dan memiliki rasa terhadapnya. Namun, kini ia bisa melihat bahwa pria di hadapannya hanya memandang rendah dirinya.
“Keluar dari sini dan jangan pernah temui aku lagi!”
“Lalu bagaimana dengan bayaran atas bantuanku selama ini padamu?” tanya Rafael.
“Apa yang kamu inginkan sebagai bayarannya?” tanya Alice.
“Tubuhmu,” bisik Rafael.
“Katakan saja padaku di mana kamu menginginkannya. Aku akan datang,” kata Alice.
Rafael tersenyum tipis, “aku akan mengirimkan pesan padamu.”
Setelah itu, Rafael keluar dari ruangan kerja Alice, meninggalkan wanita yang kini hanya bisa diam seribu bahasa karena permintaan seorang Rafael Kaili.
**
Setelah menyelesaikan semua urusan di Desa Lauterbrunnen, Rhys dan Celine berencana kembali ke Kota Helsinki. Rhys telah memasukkan semua barang-barang miliknya dan juga milik Celine ke dalam mobil.
“Aunty, terima kasih banyak atas semuanya. Aunty sangat baik sekali padaku dan aku tidak tahu bagaimana lagi harus mengucapkan terima kasih.” Kata Celine.
“Aunty sudah sangat senang dengan keberadaanmu di sini. Hanya saja Aunty tidak menyangka bahwa Tuan Rhys adalah suamimu,” kata Aunty Giza.
__ADS_1
“Aunty, bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Rhys.
“Tentu saja, katakanlah.”
“Aku ingin kamar yang ditempati Celine, di renovasi sebagua mungkin. Dan aku secara khusus meminta agar kamar itu tak disewakan lagi pada siapapun. Aku akan membayar sewanya setiap bulan dan aku akan meminta sekretarisku untuk menyelesaikan semuanya,” kata Rhys.
Mendengar hal itu tentu saja Aunty Giza sangat senang. Itu berarti setiap bulan ia akan terus mendapat pemasukan. Selain itu, yang terpenting adalah bahwa Celine akan kembali ke Desa Lauterbrunnen dan mengunjunginya.
“Kamu akan kembali ke sini kan?” tanya Aunty Giza.
“Tentu saja, Aunty. Aku akan sangat merindukan tempat ini beserta pemandangannya. Aku akan datang ke sini bersama suami dan anak kami.”
Senyum lebar terlihat di wajah Aunty Giza. Kedua putranya belum menikah, tentu ia akan sangat senang dengan kedatangan Celine nanti bersama dengan anaknya.
“Aunty akan selalu menunggumu,” kata Aunty Giza.
“Sekretarisku akan segera menghubungimu, Aunty. Sekarang, kami pamit dulu,” kata Rhys.
“Hmm … sampai jumpa.”
Celine melambaikan tangannya pada Aunty Giza, kemudian masuk ke dalam mobil. Keduanya kini telah pergi meninggalkan desa Lauterbrunnen, untuk kembali ke Kota Helsinki.
**
Sepulang dari Albanie, Alice selalu menyempatkan diri untuk menemui Mommynya di rumah sakit.
“Mom, apa ini yang harus kuterima? Apa aku harus menyerahkan milikku pada pria seperti Rafael? Aku memang mencintainya, tapi sepertinya tidak dengannya. Ia hanya memandang rendah diriku.”
Aunty Anna masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya masih terpejam karena ia sedang dalam pengaruh obat. Alice hanya bisa menangis dan bercerita pada Mommynya, tapi dalam keadaan seperti itu. Mungkin ketika Mommynya terbangun, ia tak akan berani melakukannya.
“Aku harap jalan yang kupilih adalah benar. Setelah ini, mungkin hanya yang baik saja yang akan terjadi pada keluarga kita,” kata Alice pada akhirnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹