LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#46


__ADS_3

Di depan sebuah hotel, Alice berdiri dan menatap tingginya gedung hotel itu. Ia memejamkan matanya dan menghela nafasnya pelan.


Tadi siang, Rafael mengirimkan pesan padanya dan menagih bayarannya. Alice akan menganggap ini adalah terakhir kalinya ia akan bertemu dengan Rafael. Setelah ini, ia akan menganggap pria itu orang asing, karena ia tak memiliki teman yang mengambil keuntungan dari teman lainnya.


Setelah menarik nafas panjang, Alice memasuki lobby hotel dan masuk ke dalam lift. Rafael bahkan telah memberikan nomor kamar di mana ia berada.


Alice mengetuk pintu dan setelah beberapa saat, pintu terbuka. Sosok Rafael berdiri dengan hanya menggunakan sebuah bathrobe.


“Ahh kamu sudah datang ternyata. Tunggu sebentar ya,” Rafael masuk ke dalam, kemudian tak lama seorang wanita keluar. Hati Alice terasa begitu sakit saat melihat Rafael ternyata baru saja melakukannya dengan seorang wanita.


“Ayo masuk, giliranmu sekarang. Tenang saja, aku masih kuat,” kata Rafael.


Alice melihat kamar yang lumayan luas dan tempat tidur yang terlihat berantakan. Tanpa diberi tahu pun, Alice tahu apa yang telah terjadi di sana. Ia bukan anak kecil ataupun remaja yang tak mengetahuinya.


“Mandilah dulu, aku tak suka wanita yang berkeringat,” perkataan Rafael sangatlah menusuk hati Alice. Saat ini ia benar-benar dianggap sebagai wanita panggilan yang begitu kotor.


Tak banyak bicara, Alice masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu, ia keluar dengan menggunakan bathrobe. Di luar, Rafael yang masih mengenakan bathrobe-nya, terlihat sedang memegang sebuah gelas berisi minuman berwarna ungu kehitaman. Ia memutar-mutar gelas itu perlahan, menciumnya, dan kemudian meneguknya.


“Wah cepat sekali kamu selesai, apa kamu begitu tidak sabar ingin menikmati tubuhku?” tanya Rafael dengan setengah mengejek.


Diam, hanya itu yang dilakukan Alice. Ia tak ingin terlalu menanggapi Rafael lagi. Ia lelah, baik secapa fisik maupun psikis. Kejadian belakangan ini yang menimpa keluarganya cukup membuat psikisnya hancur meski tak ada yang menyadarinya, belum ditambah dengan kelelahan menjaga Mommynya di rumah sakit setiap pulang bekerja.


Rafael berjalan mendekati Alice, kemudian langsung menggendonh wanita itu dan memghempaskannya ke atas tempat tidur.


“Kamu sudah siap?” tanya Rafael.

__ADS_1


“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Setelah ini aku tidak punya hutang apapun dan sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Aku akan menganggap tidak mengenal dirimu.”


Rafael tertawa, “ooo jadi Nyonya Rhys Alban sudah tak mau mengenal seorang Rafael Kaili? Tangkapanmu besar sepertinya kali ini.”


Alice hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia ingin mencoba meluruskan kesalahpahaman ini, namun ia merasa tak akan ada gunanya.


“Kalau begitu, sebelum kamu menjadi Nyonya Alban, aku akan memberikan pelayanan bagimu. Aku yakin kamu akan lebih puas dengan milikku.”


Rafael menempelkan bibirnya pada bibir Alice. Ia melummatnya, membuat tubuhnya tiba-tiba menghangat sekaligus bergetar. Hal ini membuat hassrat dan gairrahnya langsung naik, ia membuka bathrobe yang digunakan oleh Alice.


Kalau saja Rafael tak menganggapnya wanita murrahan dan mencintainya, mungkin ciuman yang diberikan oleh Rafael akan membuat hati Alice terbang ke awan-awan. Namun, ia berada di atas tempat tidur ini, tak ada bedanya dengan wanita yang sebelumnya, yang hany sekedar dinikmti layaknya wanita panggilan.


Alice menolehkan wajahnya ke samping ketika Rafael berhasil membuka bathrobe yang dikenakannya. Pria itu telah mengungkung tubuhnya dalam keadaan yang sama. Rafael meraih dagu Alice dan menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya.


Ia tak ingin membuat Alice menangis, namun amarah dan rasa kesal karena Alice memilih Rhys, bahkan memintanya untuk membantu perceraian keduanya, membuatnya gelap mata, meskipun ia tetap membantu Alice.


Rafael mulai memberikan kecupan di leher dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Tak bisa dipungkiri, Alice merasakan getaran dan gelenyar akan sentuhan Rafael. Ia berusaha sebisa mungkin menahan dessahannya dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Namun, ketika Rafael mulai meremas aset kembarnya dan mengullum yang sebelahnya, bibirnya pun terbuka, hingga ia tak kuasa menahan desaahannya.


“Akhirnya kamu mengeluarkan suara indahmu itu, sudah pasti apa yang kuberikan lebih dari Rhys kan?” Rafael terus saja membandingkan dirinya dengan Rhys, dan merasa lebih hebat.


Ketika Rafael telah menyentuh semua tubuh Alice, ia membuka kedua kaki wanita itu. Ia sudah merasakan basah di bawah sana dan hal itu membuatnya tersenyum. Ia pun mengarahkan juniornya pada gua milik Alice.


Alice menahan rasa sakitnya hingga mencengkeram sprei. Rafael membulatkan matanya karena rasa sulit saat memasuki gua milik Alice.

__ADS_1


“Al, k-kamu?” Rafael awalnya ingin menarik kembali miliknya, namun tangan Alice justru kini menarik tubuhnya hingga milik Rafael terbenam sempurna.


Raaa hangat yang terasa pada milik Rafael, membuatnya tahu bahwa ia adalah yang pertama bagi Alice. Ia menatap wanita yang kini memalingkan wajah darinya.


“Cepatlah selesaikan dan jangan melihat ke arahku,” kata Alice.


Rafael akhirnya menghentakkan tubuhnya. Ia tak pernah melakukan ini pada wanita mana pun. Ya, wanita yang tadi keluar adalah wanita yang ia bayar untuk membuat Alice semakin tersakiti dan menganggap bahwa ia tak lebih dari seorang wanita panggilan. Bahkan Rafael berpikir keras untuk membuat kamar hotelnya terlihat seperti habis digunakan ehem-ehem.


Rafael menyemburkan benihnya dengan sempurna di rahim Alice, kemudian jatuh di samping Alice. Rasa sakit pada inti miliknya, tak menyurutkan keinginan Alice untuk segera keluar dari sana. Ia pergi ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan dirinya, kemudian kembali mengenakan pakaiannya.


“Al …,” panggil Rafael.


Alice melihat ke arah Rafael yang masih berada di atas tempat tidur sambil berselimut.


“Hutangku sudah lunas. Mulai detik ini, aku berharap kita tak bertemu lagi dan jika bertemu pun, anggaplah kamu tak mengenalku,” kata Alice.


Alice mengambil tas miliknya dan berjalan ke arah pintu, “Al, tunggu sebentar!”


Namun, Alice tak melambatkan sedikit pun langkah kakinya. Ia berjalan tanpa berhenti lagi. Ia tak ingin menoleh ke belakang dan akan meninggalkan semua hal buruk yang seakan menghimpitnya belakangan ini.


“Arghhh!!!” Rafael segera turun dari tempat tidur dan mengenakan celananya. Ia berjalan ke arah pintu dan melihat ke arah lift, tapi ia sudah tak melihat sosok Alice.


Sementara itu di bandara, Rhys baru saja tiba bersama dengan Celine. Keduanya saling merangkul dan tersenyum. Finn sudah menunggu kedatangan keduanya dengan sebuah mobil berwarna hitam.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2