LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#41


__ADS_3

Aunty Anna yang seharian kemarin melemparkan barang-barang milik suaminya di dalam kamar, tertidur dengan cepat karena kelelahan. Ia bahkan tak keluar kamar untuk makan malam.


Pagi ini, ia sudah merasa lebih lega karena sudah meluapkan semua kemarahannya. Aunty Anna meminta pelayan membersihkan kamar tidurnya, sementara ia akan pergi ke taman belakang untuk duduk sejenak dan menikmati kesendiriannya.


Aku tak menyangka kamu mengkhianatiku … (tertawa tipis) bahkan dengan wanita ular yang rasanya ingin kucabik-cabik saat pertama kali aku melihatnya. Ternyata semua ucapanmu, yang ingin membantuku agar Alice menikah dengan Rhys, hanya alasanmu saja. Itu agar kamu bisa dengan leluasa bersama dengan wanita jallang itu! - kekesalan dalam hati Aunty Anna seakan kembali menggebu-gebu ketika mengingat perselingkuhan suaminya.


“Rhys!!! Honey!! Aku tahu kamu di dalam! Mengapa kamu mengunci pintu kamarmu. Izinkan aku masuk, kita perlu bicara!”


Mata Aunty Anna membulat saat mendengar suara seorang wanita dari dalam rumah. Ia mengenali suara itu, bahkan ia sudah merekam di dalam ingatannya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung bangkit dan masuk ke dalam.


“Dasar wanita murrahan!” gumam Aunty Anna saat melihat Eve berada di depan pintu kamar tidur Rhys dan terus berusaha mengetuk.


“Arghhh!!!” Dengan kasar Aunty Anna menarik rambut Eve dan menjauhkan wanita itu dari depan pintu.


“Hei, apa yang kamu lakukan? Kasar sekali!” teriak Eve yang langsung merapikan kembali rambutnya.


“Dasar jallang!!” teriak Aunty Anna. Saat melihat Eve, ia mulai membayangkan bagaimana suaminya itu memeluk wanita di hadapannya ini. Ia semakin kesal dan penuh amarah.


Eve tersenyum sinis saat melihat Aunty Anna, “hei, nenek tua! Jangan mengataiku jallang. Kamu itu sudat keriput, peyot, beruban, ahhh pokoknya nggak ada yang kencang di tubuhmu itu.”


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Eve, membuat wanita itu langsung memegang pipinya dan menatap Aunty Anna dengan tatapan nyalang.


“Berani sekali kamu menamparku?! Dasar wanita tua! Pantas saja suamimu itu tidak betah denganmu. Wanita kasar sepertimu memang tidak pantas untuk disayangi dan dicintai!” teriak Eve yang semakin membuat Aunty Anna kesal.


“Sialannn!!! Dasar wanita murrahan!!” Aunty Anna sudah melayangkan tangannya kembali untuk menampar Eve. Namun, Eve berhasil memegang pergelangan tangan Aunty Anna dan menahannya.


“Jangan harap kamu bisa menamparku lagi! Aku tak akan membiarkannya. Aku akan membuat kamu semakin hancur. Dengarkan ini, kamu ini hanya wanita tua yang sudah tak berguna. Apalagi tubuhmu, sudah tak bisa memberikan kenikmatan pada suamimu itu. Kamu tahu, suamimu sangat puas dan menikmti setiap permainanku. Lihatlah, inilah hasilnya … aku sedang mengandung anak dari suamimu,” kata Eve.


Mata Aunty Anna membulat. Tak cukup dengan kenyataan bahwa Ronald berselingkuh, mereka ternyata telah berbuat terlampau jauh dan menghasilkan nyawa di dalam perut Eve.


“Matii kamuuu!!!” teriak Aunty Anna yang berniat kembali mendorong Eve dari ujung tangga.

__ADS_1


Eve yang dengan cepat menyadari, langsung menghindar. Hal itu membuat Aunty Anna yang justru terjatuh dari tangga karena tak sempat berpegangan lagi.


“Aahhhh!!!”


Dari ujung tangga, Eve tersenyum puas. Ia langsung turun dari tangga dan melewati Aunty Anna yang berusaha menggapainya. Mata Aunty Anna yang masih terbuka, terus melihat ke arah Eve dan menatapnya nyalang.


“Aku harap kamu segera mati, dasar wanita tua!” bisik Eve di telinga Aunty Anna sebelum akhirnya pergi dari rumah.


**


Alice berlari di koridor rumah sakit. Seorang pelayan di Kediaman Keluarga Alban, menghubunginya dan mengabarkan bahwa Mommynya masuk rumah sakit karena terjatuh dari tangga.


Tadinya ia sudah berada di bandara dan siap pergi ke Swiss untuk mengunjungi Celine. Sejak Celine sulit dihubungi, Alice merasa kuatir. Ia takut terjadi hal yang buruk pada wanita itu.


Namun, ia juga mengkuatirkan Mommynya. Meninggalkan bandara, ia langsung menaiki taksi. Ia menitipkan koper kecilnya ke bagian resepsionis rumah sakit karena tak mungkin ia membawanya ke dalam.


“Bagaimana keadaan Mommy?” tanya Alice pada seorang pelayang yang turut membawa Aunty Anna ke rumah sakit bersama dengan seorang supir.


“Apa yang terjadi? Mengapa Mommy bisa terjatuh?” tanya Alice lagi.


“Tadi … Nona Eve datang ke rumah mencari Tuan Rhys. Itu yang saya dengar dari Johan (petugas keamanan).”


“Wanita itu lagi,” gumam Alice.


Seorang dokter keluar dari ruangan dan mendekati Alice dan sang pelayan.


“Keluarga Anna Alban?” tanya sang dokter.


“Saya putrinya,” jawab Alice dengan cepat.


“Bisakah kita bicara di ruangan saya?”


“Baiklah. Bi, di sini dulu ya, temani Mommy. Aku akan segera kembali,” kata Alice pada sang pelayan.

__ADS_1


“Baik, Non.”


Alice mengikuti sang dokter ke ruangan pribadinya yang biasa dipergunakan untuk praktek. keduanya kini duduk berhadapan dan sang dokter mulai membuka laporan pemeriksaan milik Aunty Anna.


Dokter itu menghela nafasnya pelan saat membuka laporan itu, namun tetap terdengar jelas oleh Alice. Alice bukan wanita bodoh, ia tahu bahwa pasti ada yang tidak beres dengan Mommynya.


“Dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa terjadi benturan yang cukup keras pada kepalanya dan menyebabkan pendarahan.”


Dokter tersebut mengeluarkan hasil rontgen dan meletakkannya pada sebuah alat di dinding dan menyalakan lampu alat itu agar hasil rontgen tersebut terlihat.


“Inilah pendarahannya,” kata sang dokter sambil menunjuk titik yang dimaksud.


“Lalu bagaimana dengan yang sebelah sana?” tanya Alice.


“Ini … ini adalah sel kanker. Nyonya Anna Alban terdiagnosa mengidap penyakit kanker otak stadium 2.”


“Tidak mungkin! Mommy saya tidak pernah mengeluhkan apa-apa,” kata Alice.


“Tenang dulu. Untuk kanker stadium 2, masih bisa disembuhkan dengan kemoterapi dan juga operasi.”


Alice sedikit bernafas dengan lega. Namun, ia tetap harus waspada akan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


“Lakukan yang terbaik, Dok.”


“Kita akan melakukan operasi untuk menghentikan pendarahan ini terlebih dulu. Setelahnya kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada sel kanker itu, apakah ganas atau tidak,” jelas sang dokter.


“Baiklah, saya mengerti. Saya percaya anda akan melakukan yang terbaik,” kata Alice.


“Terima kasih, Nona.”


Alice pun keluar dari ruangan dokter dengan perasaan yang tidak menentu. Kejadian demi kejadian yang menimpa keluarganya seakan begitu tiba-tiba. Namun, ia tak boleh lemah. Jika memang Eve yang bertanggung jawab atas kejadian ini, maka ia akan membuat wanita itu berurusan dengan pihak kepolisian.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2