LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#60


__ADS_3

Sebuah musik tiba-tiba mengalun dengan begitu lembut. Salah seorang pelayan memberi tanda pada pelayan yang lain untuk turut memberikan ruang dan suasana yang romantis pada Rafael dan Alice.


Rafael tersenyum ketika seluruh pelayan cafe tersebut seakan mendukungnya dan membantunya menciptakan suasana. Ia sangat berterima kasih pada mereka dan sudah pasti akan memberikan bonus, apalagi jika Alice mengatakan ya, mungkin ia akan langsung menemui pemilik cafe dan membeli cafe tersebut.


“Will you marry me?” Rafael keluar dari kursi dan berlutut di hadapan Alice.


Terima! Terima! Terima!


Alice melihat ke sekeliling di mana para pengunjung dan para pelayan melihat ke arahnya. Ia seakan menjadi pusat perhatian. Setelahnya ia melihat ke arah Rafael yang mengangkat cincin berlian dengan kepala yang menunduk.


Ia melihat ke arah Rafael. Apa ia akan kembali menolak setelah 2 kali ia menggantung jawaban untuk pria di hadapannya ini?


“Yes,” jawab Alice.


Rafael langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alice, “katakan sekali lagi,” pintanya.


“Yes, I will marry you.”


Rafael langsung memeluk Alice dan seluruh pengunjung serta pelayan di cafe tersebut memberikan tepuk tangan.


“Terima kasih,” bisik Rafael dan ia langsung menyematkan cincin itu di jari Alice. Setelahnya, ia kembali memeluk dan kemudian mengecup kening wanita itu.


Rafael berdiri dan berterima kasih pada seluruh pengunjung, “Terima kasih atas dukungannya. Sebagai ungkapan rasa bahagia saya, maka seluruh makanan kalian, saya yang akan membayarnya! Makanlah sepuasnya!”


Suara riuh kembali membahana di dalam cafe tersebut. Alice tersenyum saat melihat wajah bahagia Rafael. Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat wajah itu, wajah yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan saat ini, ia kembali merasakan hal itu, jatuh cinta pada Daddy dari bayi yang ada dalam kandungannya.


**


“Tidak! Kalian bohong!” teriak seorang wanita yang baru saja berhasil kembali masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke bagian administrasi. 2 kali, ya 2 kali ia terlambat.

__ADS_1


Pertama saat tadi pagi mengantarkan Mommynya untuk berobat karena penyakitnya yang tiba-tiba kambuh, ia terlambat membawa Mommynya itu karena terhadang kemacetan di jalan menuju rumah sakit serta penuhnya wartawan di area rumah sakit.


Kedua, ia harus segera mendapatkan uang untuk biaya operasi Mommynya. Namun karena ia terlambat membawa uang, Mommynya itu tidak ditangani dengan segera.


“Sejak awal aku memang salah membawa Mommyku ke sini. Kalian tidak profesional sama sekali!” teriak Lynelle. Lyn sangat kesal dengan penanganan rumah sakit milik Keluarga Alban itu. Sejak pertama ia datang untuk berobat, rasanya selalu saja bermasalah.


Dengan menggunakan ambulans, ia membawa pulang jenazah Mommynya. Saat melewati teras lobby, ia masih melihat para wartawan yang memburu berita tentang kelahiran putra Keluarga Alban.


Ia meminta supir ambulans untuk menghentikan mobil tersebut di dekat wartawan. Ia segera membuka pintu dan berteriak.


“Lihat akibat perbuatan kalian! Mommyku meninggal karena terlambat mendapat penanganan! Kalian cari saja berita yang tidak bermutu itu. Tanpa kalian sadari, kalian sudah ikut bertanggung jawab pada meninggalnya Mommyku. Aku akan kembali dan meminta pertanggungjawaban kalian. Keluarga Alban! Dengarkan aku, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!” teriak Lynelle. Ia ingin meluapkan segala amarah, kekesalan, serta kesedihan yang ada dalam hatinya saat ini.


Apa yang ia lakukan tentu saja mendapat sorotan dari para wartawan. Ini akan menggantikan berita tentang kelahiran putra Keluarga Alban yang tak kunjung melakukan konferensi pers.


Lynelle kembali masuk ke dalam ambulans dan meminta supir untuk membantunya membawa jenazah Mommynya menuju pusat krematorium. Ia tak memiliki biaya untuk membeli tanah makam.


**


Selain itu, Rhys juga meminta Finn untuk menyelidiki rumah sakit Keluarga Alban yang dianggap lalai karena mengutamakan administrasi dan pembayaran terlebih dahulu. Ia tak mau Rumah Sakit yang notabene adalah milik Mom Diana, namanya tercoreng karena ulah segelintir oknum yang menginginkan keuntungan pribadi.


Sementara itu, seorang wanita kini hanya berdiam di dalam rumah. Kehilangan Mommy bukanlah hal yang mudah baginya. Selama ini hanya Mommynya yang menjadi sandaram hidupnya, sementara Daddynya hanya mencari keuntungan dari mereka.


Pranggg


Kembali terdengar suara barang dipecahkan dari luar kamar tidur. Lynelle menutup rapat telinganya dengan kedua tangan dan ia duduk di lantai dengan menekuk kedua kaki mendekati dada.


Pranggg Pyarrr


Lynelle kembali mengeratkan tangannya di telinga. Ia sudah sering mendengar ini, seharusnya ia sudah terbiasa. Namun, semakin lama justru semakin membuatnya depresi dan tak tahan dengan semua itu.

__ADS_1


Bersamaan dengan hal itu, pintu depan rumah mereka didobrak paksa. Tampak sosok seorang pria bertubuh gempal dengan beberapa anak buah yang berwajah menyeramkan dan menyebalkan.


“Lucas, kamu di rumah?” kata Benzo menyeringai.


“Ada apa kamu datang ke sini? Aku tidak memiliki memiliki hutang lagi padamu. Aku sudah membayarnya kan?”


“Kamu memang sudah tak memiliki hutang denganku, tapi putrimu punya. Ia mengatakan bahwa kamu yang akan membayarnya. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk menagihnya,” kata Benzo dengan suara yang pelan namun menyeramkan.


“Lyn? Kalau begitu, mintalah sendiri padanya! Jangan padaku!” Lucas mulai meninggikan suaranya.


“Hajar dia!” teriak Benzo.


Dari dalam kamar, Lyn menutup telinganya. Ia tahu apa yang terjadi di luar. Namun tak sedikit pun ia berkeinginan untuk membantu Dad Lucas.


“Dia ada di kamar! Ambillah dia sebagai bayaran atas hutang-hutangnya!”


Degg ..


Jantung Lynelle langsung berdetak cepat. Apa Dad Lucas begitu tega akan memberikannya pada Benzo sebagai pengganti uang yang ia pinjam untuk berobat Mom Inez?


Ia sudah mengembalikan semua uang itu pada Benzo dan memang dasarnya lintah darat, ia tetap membebankan bunga meski ia hanya meminjam tak sampai 1 hari.


Brakkk


Pintu kamar tidur Lynelle terbuka dan tampak Benzo dengan seringai liciknya, “ikut denganku kucing manis … kita akan bersenang-senang.”


“Tidak! Lepaskan aku!! Daddd!! Tolong aku!! Dadd!!” Lynelle menatap ke arah Dad Lucas meminta pertolongan, akan tetapi Dad Lucas bahkan terlihat tak peduli.


“Cepat bawa dia!!” Teriak Benzo yang tertawa dengan senang.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2