LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#48


__ADS_3

Rafael menatap Kota Helsinki dari jendela ruang kerjanya. Sebuah jendela besar, ia buka gorden-nya lebar-lebar, agar cahaya matahari bisa masuk dan menghangatkan hati dan pikirannya.


Sejak malam Alice meninggalkannya, ia belum menemui wanita itu lagi. Ada rasa malu dan menyesal saat mengingat bagaimana ia menilai Alice.


Ia pasti kan segera menikah dengan Rhys. Tak apa, setidaknya aku adalah pria pertama yang memasukinya. Aku adalah pria pertama yang merasakan tubuhnya. - batin Rafael. Tubuhnya kembali bergetar mengingat malam panasnya bersama dengan Alice.


Rafael kemudian duduk di kursi kerjanya dan menyalakan televisi. Ia melihat acara konferensi pers yang disiarkan hampir di seluruh stasiun televisi.


“Acara apa ini?” gumam Rafael. Ia yang penasaran akhirnya membuatkan televisi terus menyala, kemudian membuka salah satu berkas yang harus ia periksa.


“Anda akan menikah, Tuan?” tanya seorang wartawan.


“Ya, hanya resepsi saja, karena sebenarnya saya sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan saat ini istri saya sedang hamil.”


Rafael yang mengenali suara pria di televisi, langsung menoleh dan melihat kembali ke arah televisi. Di sana ia melihat Rhys berdiri dengan sosok seorang wanita di sebelahnya. Perut wanita itu terlihat sedikit membuncit.


“Rhys dan Celine?”


Rafael langsung meraih jas-nya yang ia letakkan di sandaran kursi, kemudian menuju ruangan Max.


“Max, aku pergi dulu. Kunci mobilku?” Max melemparkan kunci mobil kepada atasannya itu, tanpa banyak bertanya.


Dengan langkah tegap dan lebar, Rafael langsung menuju ke arah lift. Seluruh pegawai yang melihat Rafael keluar dari lift, langsung menunduk hormat. Tak sedikit pula yang berbisik dan mengagumi ketampanan pemimpin perusahaan mereka itu.


Rafael melajukan mobilnya ke Perusahaan Albanie. Ia ingin menemui Alice dan menanyakan semuanya. Bukankah ia dan Rhys yang akan menikah?


Brakkk


Dengan kasar dan tanpa izin, Rafael langsung membuka ruangan yang ditempati oleh Alice. Tina yang berada di depan ruangan itu pun merasa kaget.


“Tuan Rafael,” sapa Finn yang bangkit dari duduknya. Sebenarnya ia sangat kaget hingga bangkit dari duduk tanpa ia sadari.

__ADS_1


“Di mana Alice?” tanya Rafael langsung.


“Ooo Nona Alice sedang pergi untuk perjalanan bisnis,” Alice memang ingin merahasiakan kepergiannya dari semua. Ia tak ingin masalah keluarganya menjadi bahan pembicaraan banyak orang yang nantinya akan menambah beban bagi Mommynya.


“Ke mana?”


“Maaf, tapi itu adalah rahasia perusahaan,” jawab Finn.


Rafael langsung mendekati Finn dan meraih kerah kemeja yang digunakan oleh Finn, “Cepat katakan atau aku akan membuat perhitungan denganmu!”


“Apa hubunganmu dengan Alice hingga aku harus memberitahukan padamu?” Finn yang sangat tahu bahwa Rafael ingin mengambil alih Perusahaan Albanie, justru sengaja memancing keributan dengan Rafael.


Rafael terdiam sesaat, namun dengan tangan yang masih memegang kerah kemeja Finn, “hubungan apapun aku dengannya, itu bukan urusanmu dan itu tak ada hubungannya denganmu!”


Finn tertawa kecil seakan mengejek, “Aku tak akan membiarkanmu mengambil alih Perusahaan Albanie. Sekarang lebih baik kamu pergi, karena aku tidak tahu ke mana Alice pergi.”


“Jangan membohongiku!” Rafael kembali menarik kerah kemeja Finn dan memaksa pria itu mengatakan yang sebenarnya.


Namun, bibir Finn mengatup rapat. Ia tak akan memberitahukan apapun pada siapapun mengenai Alice dan Aunty Anna. Selain karena permintaan Alice, ini juga agar Perusahaan Alban dan Albanie tidak kesulitan dalam masa pemulihan.


Di dalam mobil, Rafael menarik rambutnya. Perasaannya sangat kacau saat ini. Ia segera mengarahkan mobilnya menuju ke Kediaman Keluarga Alban. Ia yakin pasti akan menemukan Alice di sana.


Ia langsung memarkirkan mobilnya di depan pintu pagar Kediaman Keluarga Alban. Ia turun dan masuk ke dalam setelah berbicara dengan petugas keamanan.


“Al!” teriak Rafael memanggil.


Kosong! Hanya ada seorang pelayan yang datang menghampiri, “Selamat siang, Tuan. Anda ingin bertemu dengan siapa?”


“Alice! Di mana Alice?” tanya Rafael.


“Nona Alice? Nona sedang pergi, Tuan,” jawab sang pelayan.

__ADS_1


“Pergi ke mana?”


“Maaf, Tuan. Saya kurang tahu. Mungkin anda bisa menanyakannya pada Tuan Rhys.”


Rafael kembali menghela nafasnya dalam. Ia pun segera berlalu dari sana dan menuju ke Perusahaan Alban. Tadi, Rhys melakukan konferensi pers di sana, berarti saat ini ia juga masih ada di sana.


Ia mengemudikan mobilnya dengan kacau, bahkan beberapa kali ia hampir menabrak mobil di depannya. Tak menemukan Alice di mana pun, membuatnya gelisah.


Hutangku sudah lunas. Mulai detik ini, aku berharap kita tak bertemu lagi dan jika bertemu pun, anggaplah kamu tak mengenalku.


Di kepala Rafael, terus terngiang-ngiang perkataan Alice. Jantungnya bergemuruh karena ketakutannya tak bisa melihat wanita itu lagi. Ia pun langsung menuju ke lift, tanpa ke resepsionis lagi.


“Tuan, tunggu!” teriak Revan yang berusaha menghentikan Rafael yang akan masuk ke dalam ruangan Rhys.


Brakkk


Di dalam ruang kerja Rhys, terlihat Rhys tengah duduk bersebelahan dengan Celine di sofa. Jantung Rafael yang tengah berpacu cepat, kini menyisakan nafas yang terengah-engah.


“Raf!” Rhys memberi tanda pada Revan bahwa ia tidak apa-apa. Rhys sebenarnya kaget dengan kedatangan Rafael yang tiba-tiba, bahkan membuka pintu ruangan seenaknya. Untung saja dia tidak sedang melakukan sesuatu yang enak-enak dengan Celine.


“Rhys! Katakan di mana Alice?!”


“Alice?” Rhys malah bertanya balik.


“Bukankah Alice ada di Albanie?” Lanjut Rhys. Ia sudah mendapatkan pesan singkat dari Finn tadi bahwa Rafael datang ke sana dan mencari Alice.


“Jangan bercanda denganku! Cepat katakan di mana Alice!” teriak Rafael. Hal itu tentu saja membuat Celine sedikit kaget dan langsung memeluk Rhys. Suara Rafael yang tinggi membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya.


“Jangan berteriak! Ini ruanganku, ini perusahaanku! Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Alice, tapi saat ini ia tidak ada di sini dan aku tidak tahu ke mana dia pergi. Keluarlah!” Rhys akhirnya juga menatap tajam ke arah Rafael.


“Arghhh!!!” jerit Rafael kesal. Akhirnya ia pergi meninggalkan Perusahaan Alban karena tak menemukan apapun.

__ADS_1


Ke mana kamu pergi? Apa kamu benar-benar tak ingin bertemu lagi denganku? Ahhh sialannn!!! - batin Rafael.


🌹🌹🌹


__ADS_2