
Para petinggi rumah sakit kini tak bisa banyak bergerak. Setelah Finn memegang kendali penuh atas operasional rumah sakit, keadaan seakan berputar 180 derajat. Para pasien tidak dibebankan untuk mengurus pembayaran sebelum semua proses pengobatan selesai.
Jika dari antara para pasien ada yang tidak mampu, maka mereka akan mendapatkan keringanan ataupun pembebasan biaya, dengan syarat menunjukkan bukti keterangan tidak mampu.
Finn kembali berjalan menuju ruang rawat VIP di mana Lynelle ditempatkan. Sudah 3 hari ini ia sangat sibuk mempelajari semua seluk beluk rumah sakit, bahkan ia menginap di sana karena terlau banyak yang harus ia ubah.
Ketika ia membuka pintu ruangan, ia kembali melihat Dokter Abe berada di sana. Ia mencoba berbicara dengan Lynelle, namun wanita itu hanya diam dan memalingkan wajahnya. Wanita itu terlihat sangat dingin sekali, tak ada ekspresi di wajahnya. Tatapannya begitu kosong seakan jiwanya tak berada di sana.
“Keluarlah, Dokter. Anda tak akan bisa terus menghabiskan waktu di sini. Ia tak ingin berbicara dengan anda,” ujar Finn.
Dokter Abe menghela nafasnya. Ia pun berdiri dan melihat ke arah Finn, “ia memerlukan bantuan dari kita untuk berinteraksi. Untuk itulah aku berada di sini. Aku mencoba mengajaknya berbicara agar ia tahu bahwa ia tak sendiri.”
“Tapi itu bukan berarti anda menghabiskan waktu di sini. Sudah beberapa hari ini saya perhatikan bahwa anda melewatkan jam praktek anda sendiri hanya untuk berada di sini,” kata Finn yang langsung membuat jantung Dokter Abe berdetak lebih cepat.
“Sebaiknya anda tidak melakukan hal itu lagi atau surat pemutusan hubungan kerja akan sampai di meja anda hari ini juga,” ancam Finn.
Dokter Abe menghela nafasnya kasar. Ia berada di sana memang tak hanya untuk mengobati Lynelle. Saat pertama kali melihatnya, Dokter Abe mengenali Lynelle sebagai wanita yang pernah menyatakan cinta padanya saat masa sekolah dulu.
Setelah ia mengetahui bahwa Finn adalah pimpinan mereka yang baru, dan merupakan utusan langsung dari Tuan Rhys Alban, ia sempat merasa syok. Apalagi ia telah berkata sedikit keras pada pria itu.
Dokter Abe pun keluar dari ruangan, meninggalkan Lynelle bersama dengan Finn. Finn berjalan mendekati Lynelle yang masih duduk diam dan melihat hanya ke arah jendela.
“Apa kamu akan terus diam seperti ini? Apa kamu tak ingin menuntut rumah sakit ini karena kematian Mommymu?”
Perkataan Finn membuat Lynelle menoleh padanya. Benar perkiraan Finn, bahwa wanita itu akan terpengaruh pada hal-hal yang berhubungan dengan Mommynya.
“Aku tak akan menuntut, tapi aku hanya meminta 1 hal saja pada kalian,” kata Lynelle.
“Katakan padaku.”
“Kamu yakin akan mengabulkannya?”
“Jika aku bisa, maka aku akan mengabulkannya,” jawab Finn.
__ADS_1
“Aku ingin mati. Apa kalian bisa menyuntik mati diriku?” Tanya Lynelle tanpa ada ekspresi sama sekali. Wanita ini seakan menganggap hal itu biasa saja.
“Kamu gila! Aku tak akan mengabulkannya!”
“Kamu takut rumah sakit ini dianggap buruk? Kalau begitu, biarkan aku keluar dari sini, jangan menahanku,” kata Lynelle.
“Dan membiarkanmu mati di luar sana?” Tanya Finn.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Lynelle dengan dingin.
“Aku tak akan membiarkanmu keluar dari sini jika tujuanmu hanya untuk mati,” kata Finn.
“Kamu bukan siapa-siapa yang berhak mengatur hidupku!”
“Aku memang bukan siapa-siapa, tapi kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan padaku,” kata Finn.
“Aku tak melakukan apapun padamu,” kata Lynelle.
“Apa kamu tak ingat bahwa kamu melukai wajahku?”
“Tapi wajahmu sudah sembuh,” kata Lynelle.
“Tapi biaya untuk menyembuhkannya tidaklah murah. Kalau aku tidak menggunakan perawatan mahal, maka luka yang kamu buat itu akan meninggalkan bekas. Kamu tahu kan apa yang akan terjadi kalau luka itu sampai meninggalkan bekas di wajahku?” Tanya Finn.
Lynelle menghela nafasnya kasar. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan seseorang dan masalahnya adalah uang. Mengapa hidupnya selalu dihadapkan dengan masalah uang.
“Kamu ingin meminta ganti rugi atas biaya pengobatanmu itu?” tanya Lynelle.
“Ya. Bagaimana kalau kamu menjadi asisten pribadiku? Aku akan memotong gajimu sebagai bentuk tanggung jawabmu atas apa yang kamu lakukan padaku.”
Lynelle berdecih, “aku tidak mau diperbudak lagi dengan hal seperti itu. Biarkan aku keluar, aku akan segera memberikan uang padamu. Beri aku waktu 1 minggu.”
“Kamu ingin lari?” tanya Finn.
__ADS_1
“Aku tak pernah lari dari tanggung jawabku. Aku berjanji akan membayar biaya pengobatanmu itu. Bisakah sekarang kamu tinggalkan aku. Aku lelah dan ingin istirahat,” ungkap Lynelle.
Lynelle segera berbaring membelakangi Finn. Ia memejamkan matanya dan membiarkan Finn berdiri seorang diri. Finn tersenyum tipis dan akhirnya keluar dari ruangan.
“Benar-benar wanita yang menarik,” gumam Finn sebelum ia melangkahkan kaki meninggalkan ruang rawat Lynelle.
**
Bughhh
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Dad Lucas.
“Uang!”
“Aku sudah memberikan putriku padamu dan kamu masih meminta uang padaku?!”
“Dia masuk rumah sakit dan aku tidak mau menanggung biaya itu sendirian,” kata Benzo.
“Cihhh!!! Enak saja! Aku tak punya uang. Culik saja dia lalu kamu jual! Aku tak bisa membantumu lagi,” kata Dad Lucas.
“Bagaimana dengan rumah ini? Kamu bisa menjualnya dan mendapatkan uang kan?” tanya Benzo.
Dad Lucas terdiam sesaat. Ia baru teringat bahwa tumah yang mereka tempati itu adalah murni milik istrinya. Jika ia menemukan surat kepemilikannya, maka ia bisa menjualnya. Ia akan kembali memiliki uang.
“Aku tidak memiliki surat-suratnya.”
“Jangan membohongiku!” bughhh
Satu pukulan lagi mendarat di wajah Dad Lucas. Ia benar-benar akan dihabisi jika tak memberikan uang pada si preman Benzo.
“Aku benar-benar tak tahu. Lyn yang menyimpannya,” kata Dad Lucas.
“Cepat cari dan berikan padaku. Aku akan memberikan uang yang banyak padamu,” kata Benzo dengan sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
🌹🌹🌹