LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#42


__ADS_3

Celine menggeliat seakan telah terbangun dari tidur panjangnya. Ia merasakan tidur yang sangat myenyak malam ini. Rasa hangat seakan membalut tubuhnya dan memberikan rasa nyaman.


Pagi ini, Celine tak perlu terburu-buru. Ini adalah hari Minggu dan ia tak perlu bekerja, sama seperti kemarin. Ia akan melakukan terapi hati, ya ia selalu berjalan-jalan di akhir minggu dan menikmati keindahan Desa Lauterbrunnen.


Dengan dress cantik bergambar bunga matahari, Celine keluar dari penginapan. Ia menyapa Aunty Giza yang berada di meka resepsionis seperti biasanya.


“Pergi, Lin?” tanya Aunty Giza.


“Hanya berkeliling,” jawab Celine tersenyum sambil memegang perutnya.


“Hati-hati, sayang.”


“Terima kasih, Aunty.”


Celine keluar dari penginapan dan berjalan menyusuri jalan, menuju taman yang sering dijadikan tempat duduk-duduk oleh para wisatawan.


Celine tersenyum saat melihat sebuah tempat kosong di bawah sebuah pohon besar. Ia bisa duduk di sana bersandar sambil menikmati keindahan Desa Lauterbrunnen. Ia menggelar sebuah kain di sana dan duduk.


“Kamu tidak membawa sarapan?” Rhys yang tiba-tiba saja datang dengan membawa sebuah tas kain, kemudian meletakkannya di hadapan Celine.


Celine ingin beranjak dari sana, tapi Rhys menahan pergelangan tangannya, “Jangan pergi. Izinkan aku menikmati keindahan ini berdua denganmu, eh bertiga dengan anak kita.”


Celine terdiam dan tetap duduk sambil terus menatap ke arah pemandangan Desa Lauterbrunnen, tanpa mengindahkan Rhys.

__ADS_1


Tadi pagi, Rhys kembali ke kamarnya setelah semalaman ia memeluk Celine dalam tidurnya. Ia akan terus berada dekat dengan Celine, tanpa membuat wanita itu merasa tertekan. Aneh? Ya memang, tapi Celine adalah cinta pertama bagi Rhys dan akan menjadi cinta terakhirnya.


Rhys ingin mengembalikan kenangan indah yang tercipta di antara mereka. Ia ingin Celine kembali mengingat itu dan melupakan segala hal buruk yang pernah ia lakukan.


Ia membuka tas kain dan mengeluarkan sebuah tempat makan, kemudian membukanya, “makanlah.”


Celine melihat ke arah Rhys namun tak berkata apa-apa. Ia mengambil sepotong roti sandwich yang ada di tempat makan itu. Tadi ia sama sekali tidak merasa lapar, tapi melihat makanan yang dibawa oleh Rhys, tiba-tiba saja perutnya bergejolak.


Rhys yang melihatnya tersenyum. Ia senang karena Celine memakan bekal yang ia bawa, tidak menolaknya. Keduanya menikmati keindahan Desa Lauterbrunnen sambil menikmati makanan dan minuman, layaknya sedang piknik di sebuah taman.


“Kamu tak ingin kembali bersamaku?” tanya Rhys.


Celine menoleh ke arah Rhys dengan tatapan biasa. Ia menatap wajah pria yang sudah dicintainya sejak dulu, bahkan rasa itu masih ada hingga kini. Ia merasa banyak ganjalan yang akan ia dapatkan jika ia kembali lagi kepada Rhys.


“Dia memang mengandung, tapi aku yakin ia bukan mengandung anakku. Justru saat ini, kamu yang memerlukan perhatianku,” kata Rhys menatap Celine dengan intens.


“Apa kamu yakin bahwa itu bukan anakmu? Bukankah kalian melakukannya?” Pertanyaan Celine membuat Rhys merasa sangat bersalah karena pengkhianatannya.


Rhys menggenggam tangan Celine, “Maukah kamu percaya padaku? Malam itu, aku mabuk. Tapi … aku sama sekali tak mengingat apa yang terjadi, tak seperti saat aku melewati malam bersamamu. Meskipun aku juga membuat diriku mabuk, tapi aku bisa merasakan semuanya. Aku akan membuktikan padamu, bahwa tak pernah terjadi apapun antara diriku dengannya.”


“Tapi berjanjilah, jika memang anak yang dikandungnya adalah anakmu, maka lepaskanlah aku,” kata Celine. Hati Rhys selalu sakit ketika Celine mengatakan untuk melepaskannya.


“Aku tak akan berjanji apapun karena aku tak akan melepaskanmu. Kamu adalah milikku, selamanya milikku. Aku akan membuktikan bahwa hanya dirimu satu-satunya wanita yanh pernah tidur denganku dan akan menjadi satu-satunya istri dan Mom dari anak-anakku,” kata Rhys dengan mantap.

__ADS_1


Hati Celine sedikit bergetar mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rhys. Ingin sekali rasanya ia memeluk pria itu, seperti dulu. Namun Celine berusaha menahan dirinya. Setelah mereka duduk sedikit agak lama, Celine pun bangkit.


“Kamu sudah mau pulang?” tanya Rhys.


“Hmm …”


“Aku temani ya,” Celine tak menolak ketika Rhys ingin menemaninya pulang.


Sesampai di penginapan, Aunty Giza menautkan kedua alisnya saat melihat Celine dan Rhys pulang bersama-sama.


“Aku pulang, Aunty. Aku naik dulu ya,” sapa Celine pada Aunty Giza, sementara Rhys hanya tersenyum saja.


Aunty Giza bahkan melihat Rhys membantu dan memegangi Celine saat naik tangga. Ia menggelengkan kepalanya dan mulai berpikir, tapi ia masih belum bisa menyimpulkan apapun.


“Masuk dan beristirahatlah. Panggil aku jika kamu membutuhkan apapun,” kata Rhys yang sebenarnya tak rela. Ia ingin ikut masuk ke dalam kamar Celine dan memeluk tubuh wanita itu, seperti semalam.


“Terima kasih.”


Rhys menyugar rambutnya dan masih berdiri di depan pintu kamar Celine. Ingin ia mengetuk dan meminta izin untuk masuk, tapi kembali diurungkan. Ia tak ingin terlalu terburu-buru dan malah membuat Celine menjauh. Akhirnya Rhys masuk ke kamarnya sendiri.


Aku harus segera mendapatkan hasil test DNA itu! - batin Rhys.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2