
Hati Celine begitu tak rela saat melihat Rhys meninggalkan kamar penginapannya. Celine langsung mendekat dan memeluk Rhys. Cinta yang ia kubur dalam-dalam, seakan kembali tergali dan muncul ke permukaan.
Perhatian yang diberikan Rhys padanya, membuat hati Celine yang beku sedikit demi sedikit mencair hingga menyisakan hanya kehangatan.
“Aku ingin ikut denganmu,” kata Celine tiba-tiba. Tentu saja perkataan Celine membuat Rhys tersenyum dan lega. Rhys pun langsung memeluk wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.
“Aku akan mengurus semuanya, termasuk pekerjaanmu,” kata Rhys untuk menenangkan Celine.
Celine tersenyum dan mengangguk. Sebuah ciuman mendarat di bibir Celine, begitu hangat dan lembut. Rhys menahan tengkuk Celine untuk memperdalam ciumannya, hingga keduanya kehabisan nafas.
Mereka saling menatap manik mata masing-masing dan seakan kembali menemukan jati diri mereka yang dulu pernah hilang.
Siang itu, Rhys tak jadi kembali ke Helsinki. Ia akan mengurus pekerjaan Celine dulu esok hari dan berencana untuk kembali bersama-sama. Rhys hanya membantu Celine membereskan beberapa barang milik Celine.
“Bolehkah aku tidur bersamamu?” tanya Rhys.
“Bukankah kamu sudah melakukannya semalam? Mengapa masih bertanya?” jawab Celine.
Ya, semalam Celine sempat terbangun dan melihat keberadaan Rhys di atas tempat tidurnya. Ia ingin membangunkan dan meminta Rhys keluar, namun kehangatan pelukan Rhys dan kerinduannya pada Rhys, membuat Celine menggunakan kesempatan itu untuk memeluk pria itu, untuk meluapkan rasa rindunya.
Rhys tersenyum dan langsung merengkuh Celine dalam pelukannya, “aku merindukanmu, sangat.”
Ia kembali mencium bibir Celine dan melummatnya, serta mulai mengullumnya. Suasana Desa Lauterbrunnen yang dingin, membuat keduanya merasakan kehangatan saat sentuhan demi sentuhan mulai tercipta.
Tangan Rhys mulai masuk ke dalam gaun tidur yang dipakai oleh Celine. Belum lagi kedua aset kembar milik Celine yang terlihat lebih besar karena faktor kehamilannya, membuat Rhys semakin menginginkan wanita itu.
Mata Rhys menatap Celine penuh hassrat. Tubuhnya yang sudah diliputi gairrah seakan tak dapat dibendung lagi, “bolehkah aku melakukannya?”
__ADS_1
Celine yang juga menginginkannya, apalagi kehamilannya membuatnya ingin merasakan sentuhan suaminya, menganggukkan kepalanya, “Hmm … lakukanlah, suamiku.”
Rhys tersenyum dan kembali melummat bibir Celine, sementara kedua tangannya bekerja membuka gaun tidur milik Celine dan juga miliknya. Kini, keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun.
“Kamu benar-benar cantik, sayang,” kata Rhys, “I Love you.”
Rhys mulai memberi sentuhan di tubuh Celine dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di tubuh wanitanya itu. Tangan Rhys mulai meremaas aset kembar milik Celine yang begitu pas di tangannya.
“Aku akan melakukannya.”
Dengan perlahan Rhys mengarahkan miliknya ke milik Celine. Berbulan-bulan tak tersentuh, membuat milik Celine seakan kembali merapat seperti awal, terasa begitu sulit. Rhys bahkan tiba-tiba teringat ketika ia pertama kali melakukannya pada Celine, dengan cara yang kasar.
Berkali-kali ia mengucapkan maaf hingga Celine menangkup wajahnya dan melihat ke mata pria yang sangat ia cintai, “Aku memaafkanmu. I love you.”
Rhys pun berhasil memasukkan kembali miliknya pada tempat yang seharusnya. Tempat di mana hanya miliknya yang boleh masuk. Rhys menghentakkan tubuhnya perlahan karena ia tak ingin membuat Celine tersakiti, apalagi istrinya itu sedang hamil.
“Terima kasih, sayang. I love you more and more,” Rhys mencium kening Celine, kemudian memeluknya. Keduanya tertidur dalam sebuah selimut, dan masih dalam keadaan polos.
**
“Mom!” panggil Alice ketika merasakan pergerakan pada jari-jemari Mommynya.
Alice langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan pada Aunty Anna.
Keduanya melakukan pemeriksaan hampir sekitar 15 menit. Setelah itu, dokter melepaskan stetoskopnya dari telinga dan mengalungkannya di leher.
“Masa kritisnya sudah lewat. Oleh karena itu, saat ini kita sudah bisa mulai merencanakan untuk melakukan operasi pada sel kankernya,” kata sang dokter.
__ADS_1
Alice mengangguk paham. Operasi pertama yang dilakukan pada Auntu Anna adalah untuk menghentikan pendarahan akibat kecelakaan, setelah itu mereka akan kembali melakukan pemeriksaan untuk mulai melakukan operasi kedua.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Finn, untuk memberitahukan keadaan Mommynya. Ia juga berjanji akan kembali ke Albanie. Sementara untuk Eve, ia akan membiarkan wanita itu.
**
“Bagaimana, Max? Apa kamu bisa mendapatkan perusahaan itu?” tanya Rafael pada asisten pribadinya, Max.
Max sedikit menampakkan wajah pucat saat atasannya itu menanyakan target kerja mereka.
“Nona Alice sudah kembali ke perusahaan dan mengurus semuanya. Ia bahkan tak memberikan celah bagi kita untuk mencari kesalahan mereka.
Rafael masih menganggap bahwa Alice begitu mencintai Rhys, hingga dirinya kini dipenuhi rasa dendam dan sakit hati.
“Lalu di mana Rhys?” tanya Rafael.
“Ia sedang pergi ke luar negeri,” jawab Max.
“Hmm … aku mengerti. Sebenarnya ini waktu yang tepat bagi kita untuk bertindak lebih lagi,” kata Rafael.
“Anda yakin, Tuan?
“Tentu saja aku yakin!” jawab Rafael.
Rafael ingin menghancurkan Alice melalui Albanie. Ia ingin agar Alice tahu bahwa dirinya lebih dari Rhys.
🌹🌹🌹
__ADS_1