LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#36


__ADS_3

Semua mata langsung tertuju pada sosok yang berdiri di depan pintu. Rhys masuk ke dalam ruang meeting dengan gagah dengan posisi Finn di belakangnya dan membawa beberapa map.


“Selamat siang, Tuan-tuan semua,” sapa Rhys dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Mata Rhys melihat ke arah Uncle Ronald dengan tajam seakan ingin menguliti habis pria itu. Hal itu membuat Uncle Ronald sedikit menunduk dan segera berpindah tempat duduk karena tempat yang ia tempati saat ini adalah milik Rhys.


Rhys berdiri di hadapan mereka semua dan menatap satu-persatu setiap wajah di sana. Ia tersenyum tipis dan melihat ke arah layar besar, di mana masih bisa terlihat laporan keuangan yang di-manipulasi.


“Kalian melakukan meeting bersama, mengapa tidak mengajakku?” tanya Rhys.


Uncle Ronald yang merasa dirinya akan menang, mulai mengeluarkan suaranya.


“Tidak usah berbasa-basi, Rhys! Perusahaan Alban adalah milik adikku, mengapa kamu menghancurkannya begitu saja dengan tindakan burukmu!” Uncle Ronald sengaja menekankan kata-kata adik agar para pemegang saham nanti akan memilihnya sebagai pengganti Rhys.


“Benar! Aku tak menyangka bahwa kamu akan melakukan itu! Kamu menipu kami, Tuan Rhys,” kata salah seorang pemegang saham.


“Ya! Dan kamu tak mau dipimpin oleh seorang penipu. Kami sudah melihat semua bukti dan kami rasa kamu harus segera mengundurkan diri. Sebaiknya kita memutuskan siapa yang akan menggantikan Tuan Rhys,” kata salah seorang pemegang saham yang lain.


“Aku rasa, Tuan Ronald-lah yang paling pantas berada di posisi itu. Ia adalah kakak dari Tuan Dave dan aku yakin ia bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik.”


Beberapa pemegang saham pun mengangguk setuju. Sementara itu Rhys dan Finn hanya melihat saja interaksi di antara mereka, tanpa keinginan untuk mengganggu.


“Kalau begitu, apa semua setuju jika aku yang menjadi CEO dari Perusahaan Alban saat ini?” Uncle Ronald berdiri dari duduknya dan rasa bangga seakan mulai meliputi dirinya.


“Setuju!!” Hampir semua bersorak, sementara sebagian lainnya melihat ke arah Rhys dan masih berharap bahwa apa yang terjadi adalah hanya mimpi.


“Kalau begitu, saat ini aku sudah resmi menjadi CEO di Perusahaan Alban. Keputusan pertamaku adalah dengan menendang Rhys keluar dari perusahaan ini. Aku tak ingin memelihara penipu dan pengkhianat di sini!”


“Huuuu!!!” Sorak sorai kembali memenuhi ruangan itu dan Rhys hanya tersenyum sinis mendengarnya.


“Sayanggg!!!” Pintu ruang meeting terbuka dan terlihat Eve masuk ke dalam sana.


Rhys sedikit memundurkan tubuhnya, ia tak ingin lagi berdekatan dengan Eve. Namun, ternyata Eve bukan mendekatinya, melainkan mendekati Uncle Ronald. Mata Rhys langsung membulat dan membuatnya menoleh ke arah Finn. Finn hanya mengendikkan bahunya tanda tak tahu-menahu.


Eve bergelayut manja di lengan Uncle Ronald, membuat Rhys menatap jijik wanita itu.

__ADS_1


“Jadi Rhys, aku minta kamu segera mengosongkan ruanganmu. Aku akan segera menempatinya. Bukan begitu, sayang?” Uncle Ronald merangkul Eve dengan mesra, membuat Rhys semakin mengejek keduanya dalam hati.


Ternyata kalian berdua sama saja, serigala berbulu domba. Pura-pura tersakiti, tapi menusuk dari belakang. Keputusan dari dalam hatiku ternyata benar, kamu tak akan pernah pantas menjadi seorang Nyonya Rhys Alban. Aku juga mulai yakin bahwa anak dalam kandunganmu itu bukan milikku, karena aku sama sekali tidak bisa mengingat malam itu, sedikit pun. - batin Rhys.


“Hmm … tentu saja, sayang.”


“Dan kami berdua akan segera menikah,” Uncle Ronald tersenyum pada Eve dan mencium bibir wanita itu.


“Ya, karena kini aku sedang hamil buah hati kami,” kata Eve yang kembali mencium bibir Uncle Ronald.


“Rhys, aku tak salah dengar kan?” Bisik Finn.


“Tentu tidak! Kamu mendengar dengan sangat jelas. Jadi, apa pertunjukkannya bisa kita mulai sekarang? Sepertinya kita mendapat tambahan pemain figuran,” kata Rhys.


Plok plok plok plok


Rhys menepuk tangannya, “kalian luar biasa. Aku turut berbahagia dengan rencana pernikahan kalian. Eve, apa tak ada yang ingin kamu sampaikan padaku?”


“Sampaikan padamu? Ah tentu saja ada. Semoga kamu bisa hidup di luar sana tanpa uang. Untung aku belum menikah denganmu, kalau tidak … aku akan malu memiliki suami gelandangan sepertimu,” kata Eve.


Rhys memberi arahan pada Finn untuk memulainpertunjukkan mereka.


“Kalau begitu, saya akan memberikan hadiah terakhir bagi kalian semua. Aku akan mengingat di sini,” Rhys menunjuk pelipisnya, “Siapa yang loyal dan siapa yang pengkhianat.”


Seluruh pemegang saham pun duduk karena melihat Finn menyiapkan sesuatu. Layar besar yang awalnya menampilkan laporan hasil manipulasi, kini sudah berubah.


Rhys duduk diam dan tersenyum ketika lampu di ruang meeting dimatikan agar apa yang ada di layar terlihat lebih jelas. Sebuah video yang merupakan hasil CCTV mulai dimainkan.


Sebuah ruangan yang sangat dikenali oleh semua orang yang hadir di sana, mulai ditampilkan. Satu-persatu interaksi terjadi. Uncle Ronald yang tak menyangka bahwa di dalam ruangannya memiliki kamera CCTV, langsung tegang dan peluh mulai membasahi pelipisnya.


Eve yang berada di sebelah Uncle Ronald pun mulai merasa tegang. Ia yang awalnya memeluk Uncle Ronald, kini melepaskan pria paruh baya itu dan berpegangan pada kursi yang ia duduki saat ini.


Hasil rekaman CCTV itu mulai menampilkan bagaimana Uncle Ronald memaksa seorang pegawai kontrak, yang masih dalam masa percobaan, untuk memanipulasi beberapa angka di dalam laporan. Yang tidak dapat ditampik oleh Uncle Ronald adalah karena video tersebut juga memperdengarkan rekaman suara mereka, tak hanya gambar.


Ketika pegawai itu selesai, ia memberikannya pada seorang supervisor dan manager yang langsung menandatangani tanpa memeriksa. Di dalam ruangan Uncle Ronald, manager itu tersenyum dan memberikan hasil kerjanya.

__ADS_1


“Sudah. Semua sudah selesai, Tuan,” kata manager itu.


“Bagus. Kali ini aku yakin akan sangat mudah menjatuhkannya.”


“Jangan lupakan jasaku, Tuan,” kata manager itu lagi.


“Tentu saja. Aku pastikan kamu akan naik menjadi direktur keuangan. Yang perlu kamu lakukan hanya mendukungku untuk menjadi seorang CEO,” kata Uncle Ronald.


“Saya akan selalu mendukung anda, Tuan.”


“Baiklah, kamu boleh keluar.”


Dalam video terlihat Uncle Ronald tersenyum sambil memegang map. Video kemudian terputus dan tersambung dengan sebuah video di mana Eve masuk ke dalam ruangan itu dan mulai duduk di atas pangkuan Uncle Ronald.


Keduanya saling bercumbu dan mulai bertukar saliva. Bahkan suara cecapan keduanya begitu terdengar di dalam rekaman tersebut. Eve mulai panas dingin dan duduknya mulai tak tenang.


Ketika dalam video itu terlihat Eve mulai mengangkat bagian bawah gaun yang ia kenakan, Finn pun mematikan video.


“Aku rasa kalian sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi tak perlu kita melaksanakan acara nonton bareng, bukan begitu?” Kata Rhys dengan setengah mengejek.


Wajah Eve sudah memerah. Ia yang baru saja menghina Rhys, seakan terjun ke dasar jurang karena tengah dipermalukan.


“Jika kalian ingin melihat laporan keuangan yang sebenarnya, Finn akan segera membagikannya pada kalian satu-persatu. Oya, satu lagi ….”


Rhys melihat ke arah Finn dan asistennya itu langsung berjalan ke arah pintu. Ia membukakan pintu dan mempersilakan seseorang untuk masuk. Wajah Uncle Ronald mulai pias karena ia yakin bahwa wanita muda itu akan mengatakan semuanya.


Ia juga tak mungkin membela diri karena semua bukti yang ada terlihat begitu jelas dan semua mengarah pada dirinya.


“Bisakah kamu tunjukkan siapa yang memintamu melakukan semua itu?” tanya Finn pada wanita bernama Stephanie.


Stephanie langsung menunjuk ke arah Uncle Ronald. Selain itu, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya, rekaman suara saat ia diancam jika tak menuruti perkataan Uncle Ronald. Ia memang melakukan itu karena tak biasanya ia dipanggil ke dalam ruangan. Ia hanya berjaga-jaga.


Kurang ajar, ternyata ia juga cukup cerdik. - batin Uncle Ronald sambil mengepalkan tangannya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2