LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#59


__ADS_3

Oekk oekk …


Suara tangisan seorang bayi kini menggema di dalam ruang bersalin. Rhys tersenyum bahagia saat melihat jagoannya kini telah hadir di dunia.


“Terima kasih, sayang,” Rhys mengecup kening Celine. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat lelah. Seorang perawat memberikan bayi laki-laki itu ke tangan Rhys dan ia pun menggendongnya dengan hati-hati. Meski sedikit kesulitan, namun Rhys tetap berusaha. Ia mendekatkan putra mereka ke arah Celine, membuat istrinya itu tersenyum.


Rhys diminta keluar dari ruangan karena mereka akan melakukan proses terakhir pada Celine, yakni pembersihan. Saat itulah Rhys menghubungi Alice untuk memberitahukan bahwa Celine telah melahirkan.


**


Berita mengenai kelahiran putra dari Keluarga Alban, mulai memenuhi media, baik televisi, surat kabar, maupun online. Beberapa wartawan pun berkumpul di luar rumah sakit untuk mendapatkan berita tersebut.


“Mereka hampir saja menutupi area pintu masuk. Untung saja pihak keamanan rumah sakit bisa mengaturnya dengan baik,” kata Evan yang berdecak kesal karena kesulitan memasuki rumah sakit. Ada beberapa orang juga yang ingin masuk ke rumah sakit tapi malah terhalangi, padahal mereka ingin berobat.


“Bicaralah dengan kepala rumah sakit. Aku tak ingin hal ini tersebar di media. Aku bingung cepat sekali mereka mendapatkan berita,” ungkap Rhys kesal.


Kini Rhys dan Evan sudah berada di dalam ruang VVIP rumah sakit yang dimiliki oleh Keluarga Alban itu. Terlihat di dalam sudah ada Alice yang menemani Celine. Saat ini Alice tengah mengandung dan usia kandungannya sudah mencapai 3 bulan.


“Kamu tak ingin menikah, Al?” tanya Celine.


Alice tersenyum. Rafael telah 2 kali mengajaknya menikah, hanya saja Alice belum memberikan jawaban. Ia ingin melihat kesungguhan Rafael, tak hanya sekedar sebatas tanggung jawab atas kehamilannya.


“Siapa nama putramu?” tanya Alice mengalihkan pembicaraan.


“Aku meminta Rhys yang memberinya nama, tapi aku belum bertanya lagi padanya,” jawab Celine.


“Ada apa, sayang?” tanya Rhys saat mendengar namanya disebut.


“Alice bertanya siapa nama putra kita.”

__ADS_1


“Namanya Nix Arion Alban,” kata Rhys.


“Nama yang bagus,” kata Alice.


Pintu ruang rawat VVIP itu terbuka dan seorang perawat datang membawa box bayi yang terbuat dari kaca transparan. Ia tersenyum sambil mendorong box tersebut ke samping tempat tidur Celine.


“Ah, Nix! Kamu tampan sekali!” kata Alice saat melihat putra Celine untuk pertama kalinya.


“Tentu saja! Siapa dulu Daddynya,” kata Rhys dengan percaya diri, membuat perawat yang tadi mendorong box tersenyum kecil.


“Dasar narsis!” celetuk Finn yang berdiri di samping Rhys.


“Aku potong gajimu, baru tahu!”


Finn kembali berdecak kesal. Setelah itu, ia pun meninggalkan rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaan di Perusahaan Alban dan Albanie. Kepalanya seakan sudah mau pecah karena harus mengurus 2 perusahaan, padahal ia sudah mendapat liburan sebelumnya, tapi tetap saja tak berpengaruh untuk kesehatan pikirannya.


Brughhh


“Arghhh!!” Wanita itu mengumpat kesal karena saat ini ia sedang terburu-buru.


“Dasar Keluarga Alban! Bisanya hanya membuat keramaian hingga menyusahkan orang lain. Rumah sakit untuk berobat, bukan untuk mencari sensasi,” gumam wanita itu. Hal itu tentu saja masih terdengar oleh Finn. Ia menautkan kedua alisnya dan melihat ke arah wanita itu.


Wanita itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Finn. Ia mendengus kesal dan memberikan tatapan meremehkan. Tak ada kata maaf yang keluar dari bibir wanita itu karena telah menabrak Finn. Ia segera pergi meninggalkan Finn dan menuju ke arah eskalator.


“Dasar wanita tidak tahu diri. Apa dia tidak pernah dididik untuk punya etika? Sudah menabrak orang lain, tapi tidak minta maaf, malah pergi seenaknya,” gumam Finn, yang melanjutkan jalannya.


Ia melihat di area teras rumah sakit masih berkumpul para wartawan. Ia berdecak kesal karena ia juga harus mengatasi hal itu secepatnya. Ia pun berjalan dengan langkah lebar, menghampiri para wartawan.


“Tak akan ada konferensi pers atau berita apapun. Sebaiknya kalian pergi sekarang atau kami akan menuntut perusahaan kalian atas tindakan tidak menyenangkan dan mengganggu jalannya aktivitas rumah sakit,” kata Finn dengan tegas dan wajah yang bisa meledakkan amarah saat itu juga.

__ADS_1


Para petugas keamanan rumah sakit bergegas meminta para wartawan untuk membubarkan diri. Jumlah yang tidak sebanding antara petugas keamanan dengan wartawan, membuat mereka kesulitan. Pada akhirnya Finn menghubungi pihak kepolisian untuk membantunya karena sepertinya ucapannya tidak terlalu digubris.


**


Rafael yang mengetahui berita kelahiran anak Rhys dan Celine, langsung berangkat ke rumah sakit setelah jam makan siang. Pada pagi hari ia harus melakukan meeting dengan beberapa investor yang akan memulai sebuah proyek baru di beberapa negara di Benua Eropa.


Ia masuk ke dalam ruang rawat Celine setelah mengetuk sebelumnya. Ia masuk dan langsung memberikan selamat pada Rhys dan Celine yang kini sudah bergelar Daddy dan Mommy itu.


Tujuan kedatangan Rafael ke sana juga untuk menjemput Alice. Ia tak mau Alice pulang sendirian seperti saat berangkat tadi. Wanita itu masih sedikit keras kepala karena tak mau menunggu Rafael menjemputnya, ia malah pergi menggunakan taksi online.


Setelah melihat baby Nix dan mengobrol sebentar, Rafael mengajak Alice untuk pulang.


“Kamu sudah makan siang?” tanya Rafael.


“Belum,” jawab Alice.


“Kamu selalu saja menunda makan. Mungkin kamu tidak merasa lapar, tapi anak kita pasti lapar. Kita makan dulu ya,” Rafael mengarahkan mobilnya menuju salah satu cafe yang tak jauh dari rumah sakit.


Ia membukakan pintu untuk Alice dan menuntun wanita itu. Rafael sangat amat menjaga Alice, hingga kadang Alice merasa terkekang. Oleh karena itulah tadi ia pergi sendiri ke rumah sakit karena Rafael pasti akan melarang ini dan itu padanya.


Rafel memberikan buku menu kepada pelayan setelah mereka memilih. Ia kemudian melihat ke arah Alice, “Mommy memintamu datang dan menginap di rumah.”


Dad Raul yang mengetahui apa yang telah terjadi pada Alice, memarahi Rafael. Bahkan pria paruh baya itu tak mau bicara dengan Rafael karena sangat marah. Ia merasa gagal menjadi seorang Daddy karena putranya berbuat hal yang tak bermoral.


Dad Raul akan memaafkannya jika Rafael bisa membawa Alice dalam sebuah pernikahan. Sudah 2 kali Rafael meminta Alice menikah dengannya, akan tetapi Alice masih tak menjawab.


“Al, apa kamu masih tak mau menerimaku? Ayo kita menikah dan memberikan keluarga yang utuh untuk anak kita. Aku berjanji akan memberikan hanya kebahagiaan padamu.”


Rafael menggenggam tangan Alice dan menatap wanita itu dengan dalam. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon dan membukanya. Sebuah cincin berlian yang sangat indah berada di sana.

__ADS_1


“Menikahlah denganku, Alice Alban. Aku menyayangi dan mencintaimu. Izinkan aku untuk membahagiakanmu selama sisa hidupku.”


🌹🌹🌹


__ADS_2