LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#54


__ADS_3

“Bolehkah aku ikut?” tanya Celine.


“Kamu di sini dulu ya sayang, aku hanya sebentar saja. Di sana sudah ada Rafael dan juga Aunty Emmy,” jawab Rhys.


“Tapi aku ingin melihat keadaan Alice. Aku kuatir dengannya.”


“Ia tidak akan apa-apa. Aunty Emmy tadi sudah mengabari Finn bahwa dokter telah memeriksa dan Alice hanya kelelahan,” kata Rhys yang tak ingin membuat Celine berpikiran macam-macam.


“Hmm …,” terdengar nada kecewa dari suara Celine, akan tetapi hal itu tak membuat Rhys mengabulkan permintaan Celine.


“Aku tak akan lama, sayang. Aku berjanji. Setelah ini, kita akan makan malam bersama. Berdandanlah yang cantik,” kata Rhys.


“Baiklah,” Celine tak memaksakan kehendaknya lagi. Ia tak ingin hanya karena hal sepele, jadi bertengkar dengan Rhys dan membuat suasana tidak nyaman.


“I love you, sayang,” Rhys mengecup kening Celine dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


**


Jari-jemari Alice terlihat bergerak. Aunty Emmy langsung menekan tombol. Rafael yang sedang mengirim pesan pada Max, langsung bangkit dan mendekati tempat tidur Alice.


Alice mengerjapkan matanya. Suasana kamar memang tak dibuat terang agar pasien merasa nyaman saat tidur.


“Aunty …,” Alice memanggil Aunty Emmy.


“Nona …,” Aunty Emmy menggenggam tangan Alice. Ia sangat senang melihat putri kandungnya itu telah sadar.


“Al …,” mendengar suara yang memanggilnya, Alice tak menoleh. Ia tahu dengan jelas suara siapa itu, meskipun tanpa menoleh.


“Aunty, Mommy …,” meskipun Alice telah mengetahui kebenaran bahwa wanita yang kini ada di hadapannya adalah Mommy kandungnya, namun ia tak bisa merubah panggilan. Lagipula, tak ada yang tahu jika Alice mendengar pembicaraan itu.

__ADS_1


“Ada yang menjaga Nyonya Anna di rumah,” jawab Aunty Emmy.


“Hmm … aku mengantuk,” kata Alice lagi.


“Dokter akan datang sebentar lagi untuk memeriksa,” kata Aunty Emmy.


“Al …,” dua kali sudah Rafael memanggil Alice, tapi wanita itu sama sekali tak menoleh ke arahnya. Bahkan ia seakan dianggap tidak ada.


Pintu ruang rawat terbuka dan seorang dokter masuk. Ia tersenyum ke arah Alice dan mulai memeriksanya. Setelah melepas stetoskop dan meletakkannya di leher, ia mulai berbicara.


“Anda merasa lebih baik, Nona?” tanya dokter dan Alice mengangguk.


“Aku hanya sangat mengantuk,” jawab Alice lagi.


“Tidak apa, itu normal. Oya Nona, sebaiknya hindari stres dan juga rasa kuatir berlebihan. Saat ini anda tengah mengandung dan untuk sementara ini anda sebaiknya berada di rumah sakit agar selalu berada dalam pengawasan kami.”


Alice merasa kaget dengan kondisinya. Hamil? Ia tak pernah berpikir akan mengalaminya karena ia sudah minum pil KB setelah hubungan dengan Rafael waktu itu. Namun, Alice berusaha mengendalikan perasaannya. Ia berusaha biasa-biasa saja.


“Baiklah, Nona boleh beristirahat. Nanti makan malam akan diantarkan ke kamar dan saya harap anda menghabiskannya. Setelah itu, minumlah obat dan vitamin yang disediakan. Tenang saja, obatnya aman untuk kandungan anda,” jelas sang dokter.


Dokter akhirnya keluar, meninggalkan Alice bersama Aunty Emmy dan Rafael. Alice pun kembali memejamkan matanya, ia malas jika harus melihat keberadaan Rafael di sana. Sementara Rafael yang merasa diacuhkan, merasa sakit.


Terdengar pintu kembali terbuka dan Rhys memasuki ruangan. Aunty Emmy yang melihat keberadaan tuannya itu langsung berdiri dan menunduk memberi hormat.


“Tuan …,” kata Aunty Emmy.


“Pergilah dulu, Aunty. Istirahatlah, makanlah dulu di kantin rumah sakit. Aku akan menjaga Alice,” kata Rhys. Aunty Emmy pun pergi meninggalkan ruangan.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rhys saat Aunty Emmy telah keluar dari ruangan. Rafael berdiri juga persis di sebelah tempat tidur Alice, tetapi di sisi yang berbeda.

__ADS_1


“Aku baik. Kapan aku boleh pulang, Rhys?” tanya Alice.


“Dokter belum mengijinkan untuk saat ini. Istirahatlah,” kata Rhys.


“Kamu di sini, lalu Celine?”


“Dia ada di hotel. Sebenarnya dia ingin sekali menemuimu, hanya saja aku tidak mengijinkannya. Nanti kalau kamu sudah pulang, aku akan mengajaknya menemuimu,” kata Rhys.


“Terima kasih.”


“Aku tidak bisa lama-lama. Celine sendirian di hotel.”


“Hmm … aku tak apa sendiri. Aku akan tidur lagi,” kata Alice.


“Baiklah, aku pulang dulu,” kata Rhys, “Raf, jaga dia.”


Alice pun tersenyum, kemudian kembali memejamkan matanya. Ia sama sekali tak menghiraukan keberadaan Rafael di sana.


Setelah Rhys keluar dari ruangan, Rafael memutari tempat tidur hingga ia bisa melihat wajah Alice yang sedang memejamkan mata. Ia duduk di kursi yang persis berada di sebelah tempat tidur.


“Al, mengapa kamu mengacuhkanku? Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan padamu. Maukah kamu memaafkanku?” tanya Rafael, namun Alice tetap memejamkan matanya dan tak menjawab pertanyaan Rafael sama sekali.


Hati Rafael begitu sakit diacuhkan oleh Alice, apalagi kini ia yakin bahwa wanita yang kini terbaring itu sedang mengandung anaknya. Ia tahu mendapatkan maaf dari Alice tak akan mudah, setelah semua yang telah ia lakukan dan perkataan kasar yang ia ucapkan.


“Al, maafkan aku Al. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, termasuk dengan anak yang ada dalam kandunganmu. Kita menikah ya,” kata Rafael.


Akan tetapi, tetap saja Alice berada dalam mode bungkam-nya. Ia menganggap Rafael tak ada dan ia tak mengenal pria di hadapannya ini. Alice yakin, cintanya pada Rafael akan segera hilang seiring waktu.


Rafael mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Wajahnya terlihat sangat serius saat bicara.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2