
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rhys saat melihat Celine mengelus perutnya.
“Ya, aku tidak apa-apa. Hanya saja bayi kita sedang berakrobat di dalam sana,” jawab Celine.
Rhys langsung mendekat dan menempelkan kepalanya ke perut Celine, “hei jagoan! Apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana?”
Celine tersenyum saat Rhys mengajak bayi mereka berbicara. Tangan Rhys pun mengusap perutnya lembut, hingga bayi itu tenang kembali.
“Dia minta dikunjungi. Ia merindukanku,” kata Rhys.
Celine kembali tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Sejak pertemuannya kembali dengan Rhys, ia merasa Rhys-nya telah kembali. Cinta masa kecilnya telah pulang dan menetap di hatinya lagi.
“Sayang, bagaimana keadaan Aunty Anna?” tanya Celine.
Rhys menggelengkan kepalanya. Celine turut bersedih karena ia yakin Alice pasti sangat sedih saat ini, apalagi tak ada teman bicara. Ia mengingat dirinya dulu saat di Desa Lauterbrunnen, Alice selalu mengiriminya pesan dan menanyakan keadaannya.
“Sayang, apa tidak sebaiknya membawa mereka kembali ke sini? Ku rasa tak ada gunanya mereka di sana jika kondisi Aunty Anna tak membaik. Mungkin mereka kesepian sedangkan yang mereka butuhkan adalah teman untuk bicara,” kata Celine.
“Nanti aku akan menanyakannya pada Alice,” kata Rhys.
Ponsel Rhys berbunyi dan tertera nama Finn di sana. Ia pun mengangkatnya karena memang hari ini Rhys tak pergi ke Perusahaan Alban karena ingin menemani Celine di rumah.
“Ada apa Finn?” tanya Rhys saat panggilan sudah tersambung.
“Cepatlah ke perusahaan atau perusahaanmu akan hancur oleh Rafael,” jawab Finn.
Sudah 1 bulan belakangan ini, Rafael selalu menemuinya di kantor. Ia terus bersikeras ingin menemui Alice. Rafael secara jujur menceritakan semuanya pada Rhys apa yang sahabatnya itu telah lakukan pada sepupunya. Namun, hal itu justru membuat Rhys meradang dan semakin menutupi keberadaan Alice.
“Dasar pria gilaaa!!” gumam Rhys pelan. Ia tak ingin umpatannya di dengar oleh Celine.
“Ada apa, sayang?” tanya Celine.
__ADS_1
“Aku harus pergi ke perusahaan. Ini hanya akan sebentar saja.”
“Apa ada masalah?”
“Sedikit,” jawab Rhys.
“Baiklah, hati-hati,” kata Celine sambil mengecup bibir Rhys. Rhys langsung menahan tengkuk Celine dan memperdalam ciuman mereka.
“Aku akan segera kembali,” kata Rhys, Celine pun mengangguk.
**
Rafael masih saja meluapkan kemarahannya di Perusahaan Alban. Ia bahkan menghancurkan apapun yang bisa ia hancurkan. Mulai dari pot tanaman, kursi, bahkan meja resepsionis pun ia buat berantakan. Ia terpaksa melakukan itu agar Rhys mengatakan padanya di mana Alice berada.
“Berhenti, Raf!” teriak Rhys yang baru saja sampai di lobby Perusahaan Alban.
Finn pun terpaksa datang ke Perusahaan Alban karena pemberitahuan dari Revan, padahal ia sibuk mengurus Perusahaan Albanie.
Rafael berjalan mendekati Rhys dan langsung meraih kerah baju pria yang sebenarnya adalah sahabatnya.
Ia membiarkan sahabatnya itu meluapkan perasaannya, “bagaimana rasanya? Apa kamu tahu sejak dulu Alice menyukaimu? Ia bahkan sengaja berada di sisiku untuk dekat denganmu. Namun kamu tak pernah melihat ke arahnya.”
“Aku juga menyukainya, bahkan aku mencintainya. Hanya saja aku tak berani mengungkapkannya. Aku mengira ia mencintaimu.”
“Dasar gila!! Mana mungkin aku mencintai sepupuku sendiri,” kata Rhys, “kamu melakukan kesalahan yang sangat besar, Raf. Aku yakin hatinya sangat sakit hingga ia tak ingin menemuimu, bukan aku yang menyembunyikannya.”
Rafael menatap ke arah Rhys, “bantu aku, Rhys. Aku berjanji tak akan menyakitinya.”
“Aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Kita juga harus mendengarkan bagaimana keinginan Alice, kita tak bisa memaksa.”
“Tolong aku, Rhys. Ia membutuhkanku.”
__ADS_1
Ponsel Finn bergetar. Ia mengeluarkannya dari dalam saku dan meletakannya di telinga. Matanya membulat dan ia segera mendekati Rhys. Ia membisikkan sesuatu pada Rhys.
“Cepat siapkan pesawat pribadiku!” perintah Rhys.
Ia lalu menatap ke arah Rafael, “Ikutlah denganku. Kutunggu di bandara 2 jam lagi, kita akan menemui Alice.”
“Benarkah?” tanya Rafael yang kini tak percaya.
“Cepatlah! Atau kamu tak akan pernah melihat Alice lagi,” kata Rhys. Rhys pun langsung masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan Perusahaan Alban. Ia akan kembali pulang ke rumah.
**
Di pinggiran Kota Tokyo,
“Nona, bangun Nona …,” Aunty Emmy terus menepuk pipi Alice dan sesekali menggoyangkan tubuhnya. Namun wanita muda itu tak bereaksi.
Ketakutan kini menyusup ke dalam diri Aunty Emmy, apalagi yang dipeluknya saat ini adalah putrinya sendiri. Ya, ia terpaksa menerima permintaan Aunty Anna dan menyerahkan Alice saat itu karena keterbatasan ekonomi. Namun, ia tetap mengajukan syarat bahwa ia harus bekerja di sana dan membantu mengurus putrinya.
Aunty Emmy ingin membawa Alice ke rumah sakit, akan tetapi ia juga tak bisa meninggalkan Aunty Anna seorang diri di rumah. Ia pun menghubungi Finn, asisten pribadi Rhys.
“halo, Tuan,” kata Aunty Emmy.
“Ada apa, Aunty?”
“No-nona Alice tak sadarkan diri, Tuan. Nafasnya sangat lemah. Saya ingin membawa ke rumah sakit, tapi tak bisa meninggalkan Nyonya Anna,” kata Aunty Emmy.
“Bawa saja Alice ke rumah sakit, Aunty. Tidak apa meninggalkan Aunty Anna di rumah sebentar.”
“Ba-baik, Tuan. Tapi … Nyonya Anna habis mengamuk.”
“Tak apa, aku akan meminta seseorang ke sana dan menjaganya.”
__ADS_1
“Baik, Tuan,” setelah memutus panggilan, Aunty Emmy langsung menghubungi taksi online dan meminta supir membantunya mengangkat Alice. Mereka pun membawanya ke rumah sakit.
🌹🌹🌹