
Hari ini adalah hari pernikahan antara Rafael dengan Alice. Pesta diadakan dengan sangat sederhana karena Alice tak ingin orang-orang membicarakan tentang kehamilannya. Beluk lagi orang-orang akan kembali mengaitkannya dengan semua kejahatan yang dilakukan oleh Dad Ronald.
Di dalam sebuah ruangan, Alice tampak sedang dirias oleh seorang MUA. Ia terlihat sangat cantik meskipun dengan make-up sederhana.
Bagian belakang kediaman Keluarga Kaili, telah disulap menjadi tempat keduanya mengucapkan janji pernikahan, sekaligus tempat resepsi. Rafael tak mempermasalahkan hal itu, begitu juga dengan keluarganya. Bagi mereka, kesehatan Alice dan bayi yang ada dalam kandungannya yang terpenting.
Bunga-bunga menjadi tema resepsi pernikahan taman kali ini. Berbagai jenis bunga ada di sana dan membuat taman terlihat begitu indah dan wangi.
Para tamu yang diundang pun hanya kerabat dekat. Ada juga rekan bisnis, tapi tidak terlalu banyak. Mereka menyiapkan pernikahan itu hanya dalam waktu 1 minggu saja dan Alice cukup takjub dengan kecepatan Keluarga Kaili mempersiapkannya.
Pengucapan janji pernikahan berjalan dengan lancar. Kini keduanya tersenyum di atas altar dan mulai berciuman. Hal itu disaksikam oleh para tamu yang kini memberi tepuk tangan yang meriah.
“I love you,” kata Rafael di telinga Alice.
“I love you too,” balas Alice. Sebuah senyuman terukir di wajah Rafael. Kalimat yang selalu ia tunggu, kini akhirnya terucap juga dari bibir Alice.
Cuppp
Rafael mengecup bibir Alice sekali lagi kemudian tersenyum. Mereka melihat ke arah para tamu dan langsung bersiap untuk melemparkan bunga pengantin yang dipegang oleh Alice.
Satu! Dua! Ti … Ti … ga!!
Bunga pengantin itu pun dilempar. Suara riuh para tamu yang masih berstatus single memenuhi taman belakang kediaman Keluarga Kaili.
Plukkk
Bunga pengantin tersebut jatuh di tangan seorang wanita yang sedang berdiri sambil menyipitkan matanya untuk mencari seseorang.
Namun, ketika semua mata menatapnya, ia menjadi salah tingkah. Ia pun memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat acara pernikahan tersebut. Ia yakin mereka pasti memperhatikannya karena pakaian yang ia kenakan. Saat ini ia hanya memakai T-shirt dan celana jeans yang sobek di bagian lututnya. Ia juga mengikat rambutnya ekor kuda.
Lynelle berjalan keluar dari rumah Keluarga Kaili. Ia tadi sudah menghubungi Finn dan pria itu memintanya bertemu di sana. Mata Lyn menajam, melihat sosok yang ia cari tengah berdiri di dekat pintu gerbang.
“Tuan!” panggil Lyn.
__ADS_1
Finn menoleh ke arah asal suara.
“Ini uang pengganti pengobatan kulit wajahmu. Aku sudah tidak memiliki hutang lagi. Oiya, dan ini untuk anda saja. Saya pamit.”
Lynelle pun pergi dari sana setelah memberikan amplop berisi uang dan juga buket bunga pengantin yang ia dapatkan tadi kepada Finn. Finn melihat bergantian ke arah buket bunga, amplop, dan juga Lynelle.
Saat tersadar, Lynelle sudah tak berada di sana. Finn segera menuju ke arah mobilnya. Ia meletakkan buket bunga dan amplop tersebut di kursi penumpang dan menyalakan mobilnya, kemudian pergi dari sana.
**
Lynelle kembali ke rumah yang ia tempati. Rumah yang menjadi kenangan antara dirinya dengan Mommynya. Namun, rumah itu sudah bukan miliknya lagi, karena ia telah menjualnya.
Setelah ia pulang dari rumah sakit, ia langsung menuju ke bank di mana Mommynya itu menyimpan surat bukti kepemilikan rumah. Tepat sekali di mana ia harus mengambil surat itu karena ia tak mampu lagi memperpanjang sewa kotak deposit itu.
Ia akan menjual rumah peninggalan Mommynya itu pada salah satu sahabat Mommynya yang memang mengincar rumah itu sejak lama. Mereka juga menawarkan harga yang lumayan tinggi.
Brughhh
Tubuh Lynelle terhempas ke atas lantai yang dingin. Namun, tak ada suara mengaduh kesakitan yang keluar dari bibirnya.
“Lanjutkan, Dad. Aku menerimanya dengan sangat ikhlas,” kata Lynelle.
“Di mana kamu sembunyikan surat rumah ini hah?! Cepat katakan!!” teriak Dad Lucas.
“Tak ada. Surat rumah ini sudah tak ada lagi, karena aku sudah menjualnya.”
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah menjualnya dan Dad tak bisa menggunakannya untuk berjudi dan mabuk-mabukan, apalagi bermain wanita,” kata Lynelle setengah mengejek.
Plakkk
Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Lynelle dan wanita itu sama sekali tak peduli. Darah sudah terlihat di sudut bibirnya, bahkan ia merasakannya.
__ADS_1
“Pukul aku, Dad. Sampai mati pun tidak apa. Aku senang,” kata Lynelle.
“Dasar anak tidak tahu diuntung!” Baru Dad Lucas mau kembali memukul, Tuan Benzo datang. Ia sangat senang melihat Lynelle sudah kembali yang artinya ia bisa menjual wanita itu lagi.
“Dia milikku! Mengapa kamu melukainya hah?! Nilai jualnya akan turun jika kamu melakukan itu!” teriak Tuan Benzo pada Dad Lucas.
Tuan Benzo memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat Lynelle. Namun ia terhenti saat terdengar suara.
“Berhenti! Apa yang kalian lakukan?!”
Tuan Benzo yang melihat kedatangan Finn, langsung mundur. Pria yang ada di hadapannya ini adalah asisten pribadi dari seseorang yang pernah memenjarakan dirinya sepuluh tahun yang lalu.
“Hmm … Benzo. Kamu masih melakukan yang sama. Apa kamu tidak pernah bertobat meski sudah pernah mendekam di dalam penjara?” ujar Finn dengan tatapan tajam.
“Aku bisa membuatmu mendekam kembali di sana, bahkan lebih lama dari sebelumnya.”
Saat itu, Benzo salah memilih korban. Ia memeras seorang wanita yang tak lain adalah kepala pelayan di kediaman Keluarga Alban. Kepala pelayan itu sudah dianggap oleh Mom Diana sebagai saudaranya sendiri. Oleh karena itulah Rhys turun tangan untuk membuat Benzo masuk ke dalam bui.
“Aku bukanlah Benzo yang dulu,” kata Benzo tak mau kalah.
“Kamu memang bukan Benzo yang dulu, tapi kelakuanmu masih sama. Atau aku perlu menyeret kedua orang tuamu ke sini untuk melihat kelakuan putranya?” Finn menyunggingkan senyum sinisnya.
Mata Benzo membulat. Ia lupa kalau Keluarga Alban memegang kartu as-nya, yakni kedua orang tuanya. Meskipun ia seorang preman, tapi Benzo sangat menyayangi kedua orang tuanya. Ia bahkan melakukan semua ini demi membahagiakan kedua orang tuanya dengan uang.
“Sekarang pergilah!” perintah Finn, “Benzo!”
Benzo yang ingin pergi dari sana pun menghentikan langkahnya ketika Finn memanggil namanya lagi.
“Datanglah ke kediaman Keluarga Alban. Tuan Rhys akan dengan senang hati memberikan pekerjaan untukmu dan ku rasa itu akan lebih membahagiakan kedua orang tuamu,” kata Finn.
Benzo pun akhirnya pergi dari sana tanpa menjawab perkataan Finn. Sementara Finn langsung mendekati Lynelle dan menggendongnya.
“Turunkan aku,” pinta Lynelle.
__ADS_1
“Diamlah.”
🌹🌹🌹