
sesampainya di rumah, Lucas terus menarik tangan Liliana dengan paksa ke kamarnya lalu melemparkannya ke tempat tidur lalu mengdekamnya Liliana yang takut terus mundur
" tu…tuan tolong tenanglah!" ucap Liliana
" dimana laki-laki itu menyentuh mu? di sini, di sini, atau di sini" seru Lucas sambil meraba dengan kasar pada area yang paling sensitif
" tidak ah, itu hanya salah paham" saut Liliana
" jika laki-laki itu tak menyentuh nya dengan tangan, apa dia menyentuhnya dengan mulut seperti ini, atau ini? atau yang seperti ini?" tanya Lucas sambil mencium daerah-daerah inti
" tidak ah… aku mohon ini hayalah salah paham biar ah kan ah… aku… ha ah menjelaskannya" ucap Liliana
"kamu terlalu berisik" saut Lucas sambil menciumnya
"mhh mh ah luc ah as lepas! lepas aku tidak mhh bisa bernafas" ucap Liliana sambil meronta-ronta yang kemudian suara itu lenyap seperti ditelan bumi
" lili! hey liliana! jangan bercanda bangun" sontak Lucas yang kaget melihat Liliana terdiam dengan mata yang tertutup
" casis! Casis!" teriak Lucas
" iya ada apa tuan?" saut Casis di depan pintu
" panggilkan dokter! cepat!" teriak Lucas
" iya baik tuan" saut Casis
" kenapa masih diam saja, cepat!" teriak Lucas
"iya, iya tuan" saut Casis
" sebenarnya ada apa tuan casis?" tanya bi Iis
__ADS_1
" saya juga kurang tau bi, maaf bi saya lagi buru-buru" ucap Casis
" iya,iya hati-hati di jalannya" ucap bi Iis
setelah beberapa saat
rok tok tok
"tuan ini saya Casis,dan saya membawa dokter nya" ucap Casis
"bawa masuk cepat!" saut Lucas
dokter dan Casis masuk keruangan itu terlihat Lucas yang sedang khawatir duduk di samping Liliana sambil menggenggam tangannya
" bisa lebih cepat!" ucap Lucas
" baik tunggu sebentar" saut dokter
" tentu saja tidak bisa, untuk mengetahui kondisinya saya harus ada kontak tubuh" SaUT dokter
" baiklah" Lucas
setelah di periksa " bagaimana kondisinya?" tanya Lucas
" dia hanya kelelahan, dan juga terlalu banyak pikiran, kurangi stress, dan jangan terlalu membuat rangsang*n yang mendadak, itu buruk untuk kondisinya saat ini" ucap dokter
"baiklah" saut Lucas
" Casis kamu mengerti kan apa selanjutnya?, pergilah tinggalkan ruangan ini" ucap Lucas
" baik tuan saya mengerti" saut Casis yang kemudian mengajak dokter itu pergi lalu menutup pintunya
" ada apa dengan diriku, kenapa harus sampai kehilangan akal sehat hanya gara-gara gadis ini" gumam Lucas
__ADS_1
" tapi tak apalah, dari pada itu rasa bibirnya cukup manis, tapi sayang malam ini hanya sampai seperti ini" gumam Lucas lalu membaringkan tubuhnya di samping Liliana dan tidur sambil memeluknya
keesokan paginya
"hoaahmm, dia masih tidur, bagaimana jika semalam aku meneruskan sampai tahap akhir hanya kiss saja sudah membuatnya bangun kesiangan " gumam Lucas sambil memberi ciuman selamat pagi di kening nya
" iya mah, iya, iya, nanti ke sana!" saut Lucas yang menjawab telpon
Lucas pergi membersihkan dirinya dan berganti pakaian tak selang berapa lama Liliana terbangun dari tidurnya
" semalam? hah pakaian ku di ganti, apa dia masih melanjutkan nya walau aku sudah pingsan" gumam Liliana sambil melihat tubuhnya yang masih di tutupi selimut Liliana bersiap-siap lalu turun ke bawah
" sudah bangun?, bersiaplah mama menyuruh kita untuk beekunjung" ucap Lucas
" sekarang?" tanya Liliana
"ya iya sekarang memangnya kapan lagi? taun depan" saut Lucas
" baiklah" seru Liliana
"dari semua hari kenapa harus hari ini? hari dimana kita bertengkar hebat sampai aku tak sadarkan diri" gumam Liliana
" aku akan mencobanya, Arno bilang biayanya kurang lebih 250 jt, apa aku bisa meminjam uang padanya" gumam Liliana
" mmh" Liliana
" ada apa?" tanya Lucas
" apa aku boleh meminjam uang?"tanya Liliana
"untuk apa uang? bukankah aku memberi mu mas kawin besar, kemana uang mas kawin yang aku berikan?" tanya Lucas
__ADS_1