
satu Minggu kemudian
" iya hallo" terlihat Liliana dengan senyum cerah nya mengangkat telpon seseorang
" apa benarkah?" tanya Liliana dengan kaget
" kamu juga jemput aku di depan villa" saut Liliana yang langsung melihat ke luar
"oke aku turun sekarang, aku matiin dulu telpon nya" ucap Liliana sambil bersiap-siap
" Arno ini, kan aku dah pernah bilang gak boleh ke villa, kalo sampai orang villa salah paham gimana, yang lebih parah nya tuan muda" gumam Liliana sambil turun ke bawah
" non ada yang nyariin di depan" ucap art
" iya bi" saut Liliana sambil memakai sepatu berlari keluar
" jangan lari-lari nanti kau akan terjatuh" ucap Arno
" hey kenapa kamu…, ah sudahlah ayo berangkat cepat" saut Liliana sambil masuk ke mobil
" kenapa terburu-buru?" tanya Arno
" kan aku sudah pernah bilang, kamu gak boleh datang ke villa" ucap Liliana
"kamu marah, kenapa? apa alasan nya?" tanya Arno
" bukan seperti itu" saut Liliana
" apa karna kamu pembantu di sana?" tanya Liliana
__ADS_1
" iy, iya iya bener, nanti tuan muda marahin aku, kalo keluar terus-terusan" sat Liliana
" aku merasa heran, tapi kamu tidak seperti pembantu" gumam Arno dalam hati sambil melihat Liliana
" apa? kamu lihat-lihat" ucap Liliana
" galak amat si, kan cuma pengen liat, emang gak boleh?" saut Arno
" ya bukan gitu, by the way nenek aku bener-bener siuman?" tanya Liliana
" iya beberapa waktu yang lalu, belum lama sih" saut Arno
"apa bisa lebih cepet lagi?" tanya Liliana
sesampainya di rumah sakit Liliana langsung turun dengan cepat dan berjalan dengan terburu-buru ke ruangan neneknya
" hey lili perlahan-lahan jalan nya" teriak Arno
" nek, nenek udah siuman" ucap Liliana yang duduk di samping neneknya dengan mata yang berkaca-kaca
" iya, jangan menangis jika kamu menangis nenek akan jatuh sakit lagi" ucap nenek Liliana
" lili tidak menangis nek"saut Liliana
" lalu apa air di mata mu itu?" tanya nenek Liliana sambil menyeka air itu
" ini hanyalah air mata bahagia nek" saut Liliana
krek" Arno masuk ke ruangan itu
__ADS_1
" apa dia kekasih mu?" tanya nenek
" hah siapa?" tanya balik Liliana
" lihat kebelakang, jangan menyangkalnya lili dia adalah laki-laki yang baik, dia slalu menjaga dan menenangkan nenek" ucap nenek
" Arno" saut Liliana
" iya dia adalah laki-laki yang baik, semoga hubungan kalian slalu baik-baik saja" ucap nenek
" nenek sebenarnya kami hanya teman saja" saut Liliana
" benar nek, kami tidak lebih dari teman" deru Arno
" sangat di sayang kan, menurut nenek kalian cocok " ucap nenek
" tapi jika nenek merestui, kami akan menjenjang hubungan yang lebih" saut Arno sambil memegang pundak Arno
nenek tersenyum bahagia sedangkan Liliana menatap heran Arno
" memang benar sangat beruntung sekali, perempuan yang menjadi istri mu, dengan sifat lembut dan perhatiannya itu, siapa yang tidak menginginkannya" gumam Liliana sambil melihat Arno sedangkan Arno terus bercanda tawa dengan nenek Liliana
" ada apa lili?" tanya Arno
" gak ada apa-apa" saut Liliana sambil bangun dari kursinya
" kita buka tirainya sedikit, biar masuk sinar matahari" ucap Liliana
"iya bukalah sayang, nenek merasa pengap" saut nenek
__ADS_1
" sangat bagus jika aku menikah dengannya, tapi kamu datang sangat terlambat aku sudah jatuh cinta pada dingin nya sifat seseorang, suaranya, wajah nya, aku sudah mencintai segalanya tentang seseorang, tapi sayang rasa kasih ku, rasa sayang ku bahkan semua perhatian ku, tidak sama sekali dilihat olehnya" gumam Liliana yang masih berdiri di dekat jendela dan melihat nenek dan Arno yang sedang bercanda tawa