
" kamu sudah bangun?" tanya mommy
"hmm iya" saut Liliana
" bagaimana malam mu tadi" tanya mommy
" bagus" Saut Liliana dengan malu
" mommy apa saya bisa cuci sendiri seprainya nanti saya balikin lagi ke sini!" ucap Liliana
" gak usah nanti kami bawa ke laundry seprainya" saut mommy
" itu… se…benarnya… ada banyak darah di seprainya " ucap Liliana
" darah? jadi dia masih perawan? lalu kenapa dia ingin mengorbankan perawannya?" gumam mommy.
" jadi bagaimana mommy?" tanya Liliana
" gak papa itu hal biasa nanti kami yang urus" saut mommy
" makasih mommy" saut Liliana
" kalo boleh tau kenapa kamu menjual diri?" tanya mommy
Liliana terdiam
" baiklah kamu boleh cerita apapun itu, jika kamu menginginkannya" ucap mommy
" sepertinya ada cerita menarik di dalam kehidupannya" gumam mommy
" karna kedepannya kita akan sering bertemu, jadi apa boleh kita berteman" ucap mommy
" teman?" tanya Liliana
" benar, dari dulu aku gak punya seorang teman, mungkin ini akan menyenangkan"gumam Liliana
" iya teman, bagaimana?" tanya mommy
" boleh mommy, saya mau" saut Liliana
__ADS_1
" kalau begitu jangan terlalu formal panggil saja Jessy " ucap mommy
" iya Jessy " saut Liliana
" nih pakaian pergilah bersihkan diri mu, lalu kita akan pergi ke resto untuk sarapan, kamu belum sarapan kan?" ucap mommy
" iya" saut Liliana
" tunggu apalagi, cepat siap-siap" ucap Jessy
" tapi bisakah kamu meninggalkan aku sendiri, sekarang aku telanjang" saut Liliana
" kamu bisa berjalan di depanku tanpa busana" ucap Jessy
" akan lebih baik jika aku sendirian di ruangan ini" saut Liliana
" aku akan keluar, tapi cepat-cepat lah" ucap Jessy
" hm aku akan cepat jika kamu tidak mengganggu" saut Liliana
" iya" seru Jessy sambil meninggalkan kamar Liliana
tak selang berapa lama Liliana selesai berpakaian dan pergi ke luar
" iya, tapi apa kamu menunggu ku dari tadi?" tanya Liliana
" enggak, aku baru ke sini karna kamu lama banget" saut Jessy
" benarkah? tapi padahal aku bersih-bersih lebih cepat dari biasanya" seru Liliana
" sudahlah, ayo kita pergi makan" ucap Jessy
mereka pergi naik mobil lalu pergi ke resto terdekat mereka makan sambil berbincang-bincang
" bagaimana malam mu?" tanya Jessy
" uhuk uhuk"
__ADS_1
"santai aja, kenapa harus segala acara batuk, itu kan cuma pertanyaan yang biasa di tanyakan teman" ucap Jessy
" ma…malam tadi… aku tidak mengingatnya hanya saja terasa seperti mimpi, namun rasa sakit nya masih terasa sampai sekarang" saut Liliana
" itu hal biasa yang sering terjadi untuk pertama kali" ucap Jessy
" apa semua orang merasakan nya?" tanya Liliana
" iya, semua orang merasakannya " saut Jessy
" itu pertama kalinya bagi mu? tapi kenapa kamu rela menjualnya?" tanya Jessy
" iya itu pertama kalinya, tapi mau bagaimana lagi aku membutuhkan uang dengan jumlah besar dalam waktu dekat" jawab Liliana sambil meminum minuman
" untuk apa uang dengan jumlah besar itu memangnya?" tanya Jessy
" pengobatan nenek" saut Liliana
" tapi apa itu cincin pernikahan di tangan mu?" tanya Jessy
" ah ini ya, iya ini cincin pernikahan" saut Liliana sambil melihat cincinnya
" jika kamu memiliki suami kenapa kamu harus menjual diri, setidaknya kamu bisa meminta uang padanya" ucap Jessy
" aku sudah memintanya" saut Liliana
" kamu sudah memintanya? " tanya Jessy
" iya, bahkan saat itu aku sudah memintanya beberapa kali padanya, tapi jawabannya membuat ku putus asa dan tak ada pilihan lain" saut Liliana dengan raut wajah yang sedih
" memangnya apa jawabannya?" tanya Jessy
" dia mengatakan soal mas kawin yang pernah ia berikan" saut Liliana
" mas kawin? apa selain mas kawin kamu mendapat uang bulanan?" tanya Jessy
" enggak sama sekali" saut Liliana dengan wajah yang semakin muram dan mata yang sudah berkaca-kaca
" apa laki-laki biad*b, sudah berapa lama kamu menikah dengan pria itu, dan bagaimana kamu bisa menikah tanpa cinta, kalau terus begini minta cerai saja kamu" ucap Jessy
__ADS_1
" tapi aku mencintainya, dan kami sudah menjadi suami istri selama 2 tahun lebih" saut Liliana
" apa? kenapa kamu bisa jatuh cinta sama laki-laki sial*n itu, tapi kamu hebat bisa bertahan sampai dua tahun" sontak Jessy sambil memukul meja dan bicara dengan nada tinggi, hingga menjadi sorotan