
"Tidak perlu merasa aneh, dirumah ini hanya aku di percaya tuan Alden.. dan Aku juga tidak mungkin berkhianat"
"Bukan pemandangan yang asing tuan Alden membawa wanita masuk kedalam rumah ini, tapi aku baru tahu jika kamu masuk daftar wanita itu, yah harus aku akui kamu memang cantik.." kepala pelayan itu terus bicara tak peduli Airin yang meringis malu, tentu saja ini memalukan untuknya, dia datang ke rumah ini untuk bekerja namun disini dia malah menjual dirinya "Tapi satu hal yang harus kamu ingat Airin, jangan pernah memakai hati. Bagaimana pun tuan Alden menyukai kamu, kamu tidak bisa masuk dalam hidupnya"
Airin gelagapan "Aku tidak seperti itu.."
Kepala pelayan mengangguk "Aku hanya tidak mau kamu kecewa nanti Airin.." Kepala pelayan menepuk pundak Airin lembut.
"Kepala..?" Airin mendongak melihat kepala pelayan.
"Ya?."
"Anda tidak bertanya kenapa aku melakukan ini?"
"Aku tidak akan ikut campur dalam masalahmu Airin.. hanya saja satu pesanku.. apapun tujuan kamu melakukan itu, jangan pernah menggunakan hati.." Airin mengangguk namun dalam hati dirinyapun merasa ragu, karena belum apa-apa Airin sudah terbuai dengan kelembutan Alden, meskipun dia sudah berusaha menguatkan hatinya, tetap saja Airin sempat melambung.
...
Alden, Ben dan Roland sedang berada di tempat biasa mereka berkumpul club malam yang bahkan mereka sudah punya tempat sendiri untuk mereka tanpa perlu mengantri untuk masuk.
"Jadi siapa yang lebih dulu?"
"Tentu saja aku" Roland berdiri dan maju ke depan, dia mengedarkan pandangannya lalu melihat satu titik dimana ada seorang wanita cantik yang tentu saja tipenya, berkelas dan seksii.
Tak butuh waktu lama Roland sudah kembali dengan wanita tersebut di gandengannya yang ternyata seorang desainer ternama.
"Wow.." Alden dan Ben bertepuk tangan saat Roland menaklukan wanita dalam waktu 1 menit 20 detik saja.
"Berikutnya aku.." Ben keluar mulai mencari, sementara Alden dan Roland terus memperhatikan, saat Ben sudah mendapat target timer mulai berjalan dan menghitung waktu berapa lama dia bisa membawa wanita itu untuk bisa berkencan.
Ben tersenyum menyeringai saat sudah mendapatkan persetujuan dari sang wanita dan timer pun dihentikan "1 menit 30 detik" Alden menggeleng "Sayang sekali, kau kalah" Alden bangun dari duduknya sekarang gilirannya.
Memilih wanita acak memang sedikit sulit belum lagi jika ternyata dia datang dengan pasangannya, namun mengingat pesona tiga sekawan itu siapa yang mampu menolaknya, Alden berjalan dengan percaya diri saat melihat wanita bergaun hitam "Hallo cantik..?"
"Oh, Hay tampan.." Lihat dia langsung menoleh ke arah Alden.
"Kau sendiri?"
"Tentu.." Alden tersenyum lalu mulai merapatkan tubuhnya "Kau juga.."
__ADS_1
"Hmm.." wanita itu terlihat salah tingkah sekaligus senang terang saja pria di depannya sangat tampan dan bergairah cocok untuk suasana malam panasnya.
"Sayang sekali wanita seksii sepertimu hanya sendiri.." Wanita itu terkekeh lalu berkata.
"Bisakah kita..?" sang wanita bertanya dengan malu-malu tapi mau.
"Mau menghabiskan malam denganku?" Alden langsung berkata pada intinya.
Dan sang wanita langsung tersenyum lalu mengangguk.
Alden datang lalu duduk di sofa tempatnya "Berapa?" katanya sambil merangkul wanita yang bahkan tak dia ketahui namanya itu, baginya tak penting sebuah nama, dia hanya perlu penyaluran tanpa perlu tahu namanya, bahkan jika pun tahu Alden selalu salah sebut nama saking banyaknya wanita yang di kencani.
"1 menit 35 detik.."
"Sial, hanya lima detik saja" Alden mendengus, sedangkan Ben dan Roland terkekeh.
"Jadi kemana kau akan membawa kami?"
"Pulau pribadi yang baru aku beli.." Alden menyeringai ke arah Roland merasa menang karena beberapa hari lalu mereka merebutkan pulau itu, tapi akhirnya Alden yang mendapatkannya.
"Sial, kau membalasku.."
"Baiklah sudah di putuskan, bolehkah aku mulai malamku.."
Alden bangun dan membawa wanita yang baru di dapatnya, tentu saja tidak akan dia lewatkan mencoba wanita baru, siapa tahu dia bisa bertahan hingga Alden selesai.
...
Tidak seperti yang dikatakan Alden, malamnya Alden tidak pulang sama sekali dan Airin tidak perlu melayaninya, Airin lega setidaknya dia bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya sendiri.
Selesai dengan pekerjaannya Airin berniat untuk beristirahat, namun saat akan pergi ke mes, Airin melihat Remon yang sedang berjaga di pintu belakang "Remon, kau berjaga disini?" Remon menoleh dan tersenyum.
"Hai, Airin.. sejak malam kemarin aku disini" Airin mengangguk itu karena semalam Airin tertidur di kamar Alden, jadi dia tidak tahu.
"Kalau begitu aku tak perlu takut saat menyelinap keluar nanti malam"
Remon tertawa "Maafkan aku Airin tidak ada lain kali, karena aku juga tidak mau kena getahnya.."
"Aku hanya bercanda, tentu saja jika aku menyelinap tidak akan memberitahumu.."
__ADS_1
"Baguslah dengan begitu aku bisa menangkapmu.."
Airin terkekeh "Baiklah Remon selamat bekerja"
"Terimakasih dan selamat tidur Airin" Airin melambaikan tangannya, lalu pergi menuju mes pelayan.
Airin menghela nafasnya saat merebahkan dirinya di ranjang kecil di kamarnya, dia akan tidur karena besok dia akan ke rumah sakit untuk menemani neneknya melakukan persiapan operasi yang akan di jalani neneknya beberapa hari lagi, dan yang terpenting dia sudah mendapatkan izin dari kepala pelayan.
Saat Airin baru memejam, ponselnya berdering, Airin mengerutkan keningnya saat melihat nama Alden di sana, apa Alden pulang, lalu apa dia harus melayaninya malam ini.. Airin mengeluh kenapa dia tidak bisa tidur dengan tenang, apa tidak bisa besok saja, ah.. atau Airin abaikan saja panggilan Alden dan pura- pura tidak tahu, tapi apa tidak masalah.
Airin menggeleng melawan konyolnya pemikirannya, bagaimana jika Alden tahu nanti, dia pasti akan terkena masalah.
"Hallo.." Airin memberanikan diri untuk mengangkatnya semoga Alden, tidak memintanya melayaninya malam ini, namun Airin tercengang saat mendengar ucapan Alden...
"Persiapkan dirimu, besok kita akan pergi berlibur.."
"Ap.." Airin akan bicara namun Alden sudah menutup telponnya.
"Brengsek!" Airin mengumpat bagaimana tidak, besok dan beberapa hari ke depan Airin harus menemani neneknya di rumah sakit, lalu Alden memintanya untuk pergi liburan, apa Alden sudah gila kenapa bicara mendadak seperti itu.
.
.
Alden melempar ponselnya, lalu mendengus saat melihat kearah ranjang dimana wanita yang tadi di bawanya dari club sedang terlelap, Alden merasa malam ini buruk, dia menyesal karena tidak pulang, dan kenapa dia tidak pulang saja.. lalu bercinta dengan Airin.
Tunggu dulu, selama ini jika Alden bercinta dia tak bisa menuntaskannya, namun bagaimana Airin bisa bertahan, Alden bahkan mengira ini sebuah kutukan dan sudah bertahun- tahun menjadi rahasianya sendiri, jika Ben dan Roland tahu mungkin dirinya akan di tertawakan.. sial!.
.
.
.
Like....
Komen...
Vote..
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹