Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Tuan Barnes


__ADS_3

-Tidak ada cinta yang sempurna, tapi kitalah yang menyempurnakannya-


.


.


.


Alden memasuki kamar Airin dan melihat Airin yang sedang tertidur, tangan Alden terangkat mengelus rambut Airin, sehingga membuat Airin terusik dalam tidurnya "Aku membangunkanmu?"


Airin menggeleng "Aku ketiduran, kamu sudah selesai dengan Mom?"


Alden mengangguk "Mau ku buatkan sesuatu untuk makan malam?" Airin akan bangun namun Alden mencegahnya.


"Tidak, aku ingin tidur denganmu.." Airin tersipu, kata- kata Alden mengingatkannya disaat mereka bercinta dan menghabiskan waktu bersama di atas ranjang, tentu saja dengan kegiatan panas mereka.


Melihat Airin berwajah merah membuat Alden gemas dan mencubit hidungnya "Apa yang kau fikirkan, hum? kita hanya akan tidur saja sekarang, tapi nanti kau harus bersiap saat aku menghukummu.."


Airin mengerutkan keningnya "Hukuman? untukku?"


"Hmm" Alden merangsek dan membaringkan dirinya di sebelah Airin.


"Kenapa aku harus di hukum? memang apa kesalahanku?"


"Karena kau sudah berani meninggalkan ku," Alden memeluk Airin "Tidurlah, aku lelah, tenang saja aku sudah meminta izin pada Mommymu untuk tidur disini.."


Airin membelalakan matanya "Kamu mengatakan itu pada Mom?"


"Humm, tentu saja dengan syarat hanya tidur.." Airin terkekeh lalu menenggelamkan dirinya di pelukan Alden "Kau senang sekali sepertinya, kau tahu aku sudah menahannya selama tiga bulan ini."


Airin mendongak "Benarkah, bukankah banyak wanitamu di luar sana?"


"Aku tidak selera, dan aku hanya akan melakukannya denganmu, kau tidak ingat janjiku.. lagipula memangnya kamu rela aku melakukannya dengan wanita lain..?" Airin menutup mulut Alden dan menyipitkan matanya.


"Tentu saja tidak, tuan Alden hanya milikku." Airin mengecup bibir Alden, dan membuat Alden terkekeh.


"Ayo tidur sebentar, kita akan pergi nanti malam.."


"Kemana?"


"Suatu tempat." Alden tak memberi tahu hanya mengecup dahi Airin, lalu memejamkan matanya.


...


Airin menggenggam tangan Alden saat pria itu memarkirkan mobilnya di rumah besar keluarga Barnes.


Sedangkan Alden hanya tersenyum menenangkan.


Yang ada di benak Airin hanyalah tatapan pria paruh baya yang akan menatapnya tajam, dengan kebencian, saat melihat tuan Barnes pertama kali yang Airin lihat pria itu tampak arogan, apalagi saat berdebat dengan Alden. "Al.. aku.."


Airin meremas jarinya saat Alden mengulurkan tangannya dan memintanya turun dari mobil.


"Bagaimana jika tuan Barnes tidak menerimaku?" Airin menunduk.


Alden tersenyum lalu menggenggam tangan Airin "Kamu tahu jawabannya, apapun yang terjadi aku tetap bersamamu.."

__ADS_1


Alden menarik Airin agar keluar dari mobil dan mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Airin merasa rumah tersebut terasa berbeda dari saat terakhir Airin pergi, sepertinya dekorasinya telah di ubah. tentu saja mungkin tuan Barnes ingin mengubur semua yang berhubungan dengan nyonya Gres. Di ujung tangga dia melihat kepala pelayan yang tersenyum ke arahnya "Apa kabarmu?" sapanya pada Airin yang membalas senyumannya.


"Aku baik Theodor, bagaimana denganmu?" Airin memeluk kepala pelayan yang memang baik sejak awal.


"Aku juga baik Nona.."


"Kamu berlebihan, panggil aku Airin.."


"Aku tidak berani Nona.." Theodor menundukan wajahnya.


"Kalian sudah datang?" Airin menegang saat mendengar suara tegas dan berat muncul di belakangnya.


"Hallo tuan.." Airin mengangguk hormat, sedangkan Barnes hanya berdehem..


"Ayo ikuti aku.." Barnes berjalan ke arah ruangan kerjanya.


Airin melihat Alden yang akan pergi namun Airin tidak berani mengikuti.


Alden menoleh dan melihat Airin masih di tempat yang sama "Ayo.."


"Bo- bolehkah aku tidak ikut?" Airin memelas.


Namun Alden menggeleng dan menarik tangan Airin "Al, aku sungguh takut, bagaimana jika tuan besar tidak menerimaku.."


Alden bergeming meski wajah Airin sudah pucat karena takut, wajah pria paruh baya itu sangat tegas dan menyeramkan untuk Airin.


Saat tiba di ruang kerja tuan Barnes Airin memilih bersembunyi di balik punggung lebar Airin.


Yang Airin dengar dari Alden, tuan Barnes sudah bercerai dari nyonya Gres yang kini sedang mendekam di penjara juga pria selingkuhannya, bahkan tuan Barnes tak ingin lagi bertemu dengan Patricia yang dulu dia anggap sebagai putrinya, Barnes mengirim Patricia ke luar negeri dan tidak mengizinkannya pulang meski apapun yang terjadi.


"Jadi kalian akan segera menikah?" Alden bisa merasakan genggaman tangan Airin mengerat.


"Ya.." Barnes mengangguk, lalu memberikan sebuah dokumen, "Semua hartaku sudah ku alihkan atas namamu."


Kali ini Airin mendongak dan melihat Barnes, Airin menelan ludahnya lalu melihat Alden kemudian menggeleng.


Alden menghela nafasnya "Aku tidak memerlukannya.."


"Aku tak punya putra lain selain dirimu, setidaknya kau bisa berikan untuk keturunanmu selanjutnya." kini pegangan Airin di tangan Alden mengendur.


Alden hanya tersenyum kini dialah yang menggenggam tangan Airin "Aku tidak berencana, memiliki anak" Airin mendongak melihat Alden "Aku juga tidak suka anak kecil.."


Airin meneteskan air matanya, lalu melihat tuan Barnes yang mengeryit, dialah yang bermasalah kenapa Alden menutupinya.


"Apa maksudmu..kau"


"Semua karena aku tuan..." Airin mengeluarkan suaranya.


"Baby.." Airin bergeming dan menatap tuan Barnes, meski rautnya sudah pucat dengan air mata di matanya yang menggenang.


"Aku tidak bisa memiliki anak tuan.." Tuan Barnes mengusap wajahnya kasar, dan mengeluh, meski Barnes tidak tahu masalahnya, dia memilih diam dan menanyakannya pada Alden nanti, dia tak mau gadis di depannya tersinggung.


"Maafkan aku, tapi tidak bisa melepaskan Alden meski kau memintanya, aku mencintainya.."


Alden tersenyum melihat Airin memberanikan diri berbicara meski tangannya bergetar takut.

__ADS_1


Barnes menghela nafasnya, "Sepertinya aku harus menikah lagi.." keluhnya.


Alden terkekeh "Ya.. Daddy masih terlihat muda.."


Airin melihat ke arah Barnes lalu Alden, yang tersenyum kearahnya "Apa tuan tidak keberatan?"


"Aku ingin keberatan, tapi melihat cinta putraku, aku tak tega memisahkan kalian.. sudahlah, tidak masalah. Anak bisa di adopsi, yang penting kalian bahagia."


Airin tidak menyangka jika tuan Barnes akan menyetujui pernikahan mereka, dan Airin melihat tuan Barnes tidak semenyeramkan sebelumnya.


Barnes tersenyum tipis, hal yang jarang dia lakukan, dia tak mungkin menghalangi lagi pernikahan Alden dan Airin terlalu banyak dosa yang dia lakukan di masa lalu, berselingkuh dari istrinya, dan mengabaikan Alden dengan menikahi Gres.


Mungkin dia harus merelakan hidupnya di masa tua, sendirian tanpa melihat cucunya kelak, anggap saja ini hukuman untuknya.


Barnes memasukan lagi berkas yang dia berikan untuk Alden, meski Alden menolak, tapi Barnes harap kelak anaknya bisa menerimanya.


Barnes menghela nafasnya saat melihat Alden kembali pergi dari rumahnya, dan kini dia hanya tinggal sendiri, Barnes rasa rumahnya terlalu besar sekarang dan terasa sepi, meski dulu juga tak pernah ada interaksi yang intens, tapi rasanya kali ini sepi nya terasa nyata.


Rumah tangganya dengan Gres juga bukan rumah tangga yang terlihat harmonis, mengobrol dan bercanda, mereka hanya kompak saat berada di atas ranjang. Barnes menyadari itu semua hanya berlandaskan nafsu, bukan cinta.


Karena Barnes terus bertahan meski tahu Gres tak setia padanya, hanya karena merasa Barnes membutuhkan wanita di sisinya, namun kini Barnes mengerti bahwa dia hanya membutuhkan teman ranjang.


...


"Apa yang terjadi dengan tuan Barnes?" Airin merasa heran dengan sikap tuan Barnes yang menjadi lebih lembut.


"Mungkin Daddy sudah menyadari kesalahannya.." Alden mengedikkan bahunya acuh.


"Selama ini Daddy hanya memperdulikan nafsunya, dia bahkan mengabaikan putranya sendiri demi wanita ular, dan parahnya lagi dia hanya diam saat wanita itu mengkhianatinya." Airin terdiam dan menatap kearah depan. "Apa yang kamu fikirkan?"


"Aku fikir apakah kelak kita juga akan sendiri di masa tua karena tidak memiliki anak.. Al.." belum selesai Airin bicara Alden tiba- tiba menghentikan mobilnya.


"Kamu gila berhenti mendadak seperti itu berbahaya.." Airin terkejut dan melihat sekitarnya apakah Alden menabrak sesuatu.


"Jangan bicara tentang hal konyol lagi,dan menyuruhku pergi" Alden menatap tajam Airin "Sudah ku bilang aku tidak akan melepasmu."


Airin mencebik "Siapa yang bilang begitu, bukankah aku juga bilang mulai sekarang tidak akan melepaskanmu"


"Lalu kamu mau bicara apa hum?"


"Aku berfikir akan mengadopsi seorang bayi jika kita menikah nanti.." Airin melihat ke arah Alden "Bagaimana?"


Alden menghela nafasnya lega "Lakukan apa pun yang kau suka.. asal selalu bersamaku aku tidak keberatan."


Airin tersenyum "Terimakasih.." Airin mengecup bibir Alden, dan membuat Alden tertegun, sudah dua kali Airin memberi kecupan padanya, namun rasanya lebih bahagia dari pada bercinta, bukan berarti Alden tidak ingin menghabiskan malam panas dengan Airin , hanya saja Alden takut menyakiti Airin yang masih dalam masa pemulihan.


"Al, cepat jalankan mobilnya, kau membuat mereka marah.."


Alden tersadar dan melihat di belakangnya klakson bersahutan, karena dia berhenti di tengah jalan.


...


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2