
"Kita akan kemana Al?" Airin menatap koper berisi pakaian mereka yang disiapkan pelayan.
"Pergi ke suatu tempat.." Alden menggenggam tangan Airin "Percayalah padaku ini demi kebaikan kamu" Airin mengerutkan keningnya, namun dia hanya mengikuti Alden dan keluar dari apartemen lalu memasuki mobilnya.
Airin masih tak bertanya kemana tujuan mereka dan hanya memperhatikan raut Alden yang terlihat serius, merasa perjalanan terlalu lama akhirnya Airin angkat bicara "Apa masih jauh?" tanyanya.
Alden mengelus pipi Airin "Kamu lelah? tidurlah setelah tiba akan aku bangunkan." Airin mengangguk lalu memejamkan matanya dan mulai terlelap, karena dia sudah merasa lelah.
Alden menghentikan mobilnya di sebuah pedesaan yang masih segar dan terlihat asri.
Airin mengerjap saat merasakan mobil terhenti "Kita sudah sampai?"
"Humm"
"Dimana ini?"
"Kita akan tinggal beberapa hari disini"
Airin mengerutkan keningnya "Anggap saja ini liburan, jangan fikirkan apapun, suasana disini bagus untuk bayi kita" Airin tersenyum saat Alden meraba perutnya, dia merasa bahagia apalagi saat Alden mengecup perutnya yang terbalut pakaian.
Alden keluar dari mobil lalu memutar arah ke kursi Airin, dan berjongkok untuk membawa Airin ke dalam gendongannya "Aku bisa berjalan Al.." Alden menggeleng dan Airin hanya pasrah saja dan menautkan tangannya di leher Alden.
"Rumah ini milikmu?" Airin mendongak melihat Alden.
"Ya, kamu suka?"
Airin mengangguk lalu melihat sekitarnya "Disini masih asri.."
Alden mengangguk menyetujui "Ya karena itu aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu disini" Airin memerah mendengar apa yang Alden katakan, benarkah Alden ingin selalu bersamanya.
Airin merebahkan kepalanya di pundak Alden yang masih menggendongnya bahkan mereka melewati ruang tamu dan langsung masuk kedalam kamar "Istirahatlah.." Alden membaringkan Airin di atas ranjang, namun Airin menggeleng dan menahan Alden agar tidak bangun.
"Sejak tadi aku sudah tidur, harusnya kamu yang istirahat.."
"Baby, jika aku disini bersamamu maka yang terjadi bukan istirahat, tapi aku menyerangmu.."
"Sedangkan aku tidak ingin kamu kelelahan.."
"Baby?" Alden mengangguk, dan Airin memerah mendengar panggilan manis dari Alden.
__ADS_1
Alden mengecup dahi Airin dan hendak bangkit, namun Airin menahan tangannya "Al.."
"Ya?"
"Aku.. aku ingin melakukannya" Alden mengerjapkan matanya.
"Apa?"
"Aku.. ingin melakukannya sekarang"
Alden tidak percaya, biasanya dialah yang meminta lebih dulu pada Airin, atau tanpa meminta Alden akan langsung menerjang Airin, namun kali ini Airin memintanya dengan suka rela "Kamu yakin?"
Airin mengangguk dengan pipi merah dan membuat Alden semakin gemas.
Dengan lembut Alden mulai memangut bibir Airin, dan membawa dirinya berada di atas Airin, sedangkan tangan Airin mulai melepas satu persatu kancing kemeja Alden hingga kini tampaklah tubuh kekar Alden di hadapannya.
Tangan lentik Airin mulai meraba dada telan jang Alden dengan pelan, menelusuri setiap kulit dengan sesekali meremas lembut dan membuat Alden mendesis diantara ciuman mereka.
Tangan Alden pun tak tinggal diam mulai membuka satu persatu penghalang di tubuh Airin hingga nampaklah kulit putih mulus milik Airin, Alden mulai meraba dan meremas pelan bukit kembar di depannya yang terasa semakin padat dan berisi, apakah ini efek dari Airin yang sedang mengandung.
Alden melakukannya dengan pelan mengingat Airin yang sedang mengandung buah hati mereka "Hallo nak, Daddy akan melakukannya dengan pelan" Alden mengecup perut Airin sembari berbisik dan membuat Airin tertawa kecil.
Airin semakin menggila saat tangan Alden tak tinggal diam dan meremas gunung kembar miliknya hingga Airin menggelinjang lemas akibat ulah Alden.
"Ah.. Al.." Airin menggelinjang dengan pinggang yang terangkat ke atas dengan kepala mendongak.
Alden tersenyum puas saat melihat Airin menikmati orga sme nya, dan takluk padanya.
Membiarkan Airin beberapa saat hingga Alden memulai kembali menyatukan bibir mereka dan mulai menenggelamkan dirinya di tubuh Airin, setiap hentakan yang Alden lakukan matanya tak teralihkan dari wajah cantik Airin yang juga melihat ke arahnya "Aku mencintaimu Airin.." perkataan manis itu terdengar bercampur geraman dan membuat Airin sedikit terpaku dan tersenyum manis setelahnya.
Airin hampir tidak percaya bahwa dia akan mendengar perkataan itu dari Alden begitu jelas hingga hatinya bergetar.
"Aku juga mencintaimu Al.." Airin mendekatkan bibirnya dan menyatukannya dan mulai melu mat bibir Alden lembut.
Alden terus memacu dengan lembut dan pelan, seolah menikmati setiap detik percintaan mereka yang terasa berbeda setiap harinya.
Airin masih tersenyum ke arah Alden dengan mulut yang sesekali mengatup dan terbuka lalu mende sah, membuat gairah Alden semakin memuncak, diantara kenikmatannya Alden terus bergumam dalam hati, bahwa dia begitu mencintai Airin.
Sesi percintaan di tutup dengan ciuman dalam yang Alden berikan di bibir Airin saat merasakan dirinya mencapai puncak kenikmatan, bersamaan dengan lenguhan panjang yang teredam oleh ciuman lembut mereka.
__ADS_1
Kini Alden berbaring miring kearah Airin yang juga melihat kearahnya, satu tangannya menjadi bantalan Airin dan satu lagi menyingkirkan helaian rambut Airin yang menghalangi pandangan Alden untuk menikmati wajah cantik Airin.
"Aku tidak menyangka semuanya terjadi padaku" Alden terjebak dalam permainannya sendiri yang awalnya hanya menjadikan Airin wanita pemuasnya saja dan kini justru mengaku telah mencintai wanita di depannya ini.
"Apa..?"
"Aku sangat mencintaimu.." Airin tersenyum lalu mengelus rahang Alden.
...
beberapa hari mereka menghabiskan waktu di rumah pedesaan itu, pergi berkeliling dan melakukan apapun dengan bebas, jika di kota Airin akan takut saat berjalan berdua dengan Alden namun disana dia tak perlu mempedulikan orang lain, dan yang terpenting Alden selalu disisinya.
"Kamu suka tinggal disini?"
Airin tersenyum "Ya.."
"Baguslah.." Alden mengusap rambut Airin dan menghela nafasnya lega, mereka sedang berada di gazebo menikmati angin sore, setelah pergi berjalan- jalan.
Ponsel Alden bergetar dan mengalihkan perhatian Alden "Ada apa?" Airin mendongak melihat Alden tengah fokus pada ponselnya
Alden menggeleng "Hanya beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.." Alden menegakkan tubuhnya "Aku harus segera menyelesaikannya, maukah kamu menunggu beberapa hari di sini?"
Airin mengerutkan keningnya "Kau akan pergi?"
"Hanya sebentar.." Airin mengangguk.
"Akan ada pelayan yang mulai bekerja hari ini, dan menemani kamu saat aku tidak ada.. jadi jangan takut tinggal sendirian.." rumah tersebut memang terletak jauh dari pemukiman warga yang lain, maka Alden menyiapkan pelayan untuk menemani Airin.
Airin semakin mengerutkan keningnya saat mendengar kata- kata Alden.
Apa katanya... belum selesai prasangka Airin, pria itu sudah mengecup dahi nya dan pergi dengan terburu- buru, Airin hanya mampu mengerjapkan matanya saat melihat punggung Alden memasuki mobilnya dan dalam hitungan detik mobil pria itu sudah menghilang tertelan gerbang.
Apa aku sudah terbuang?
...
Like..
Komen..
__ADS_1
Vote..