Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Bertemu


__ADS_3

"Astaga, Airin.."


Anna menutup mulutnya, sedangkan Airin tak ingin bicara apapun..


"Apa yang terjadi..?"


Airin menghela nafasnya "Tidak ada Anna, ini semua kesalahan ku jadi aku yang akan menanggungnya.."


Airin menggenggam tangan Anna lalu berkata ".., semoga kamu selalu bahagia.."


"Apa yang kamu katakan, jangan bilang kamu akan pergi lagi" Airin melepaskan tangan Anna lalu meraih mantelnya juga memakai kembali tutup kepalanya.


"Selamat tinggal Anna.." Airin memeluk Anna, dan Anna menggeleng tak rela.


"Airin, setidaknya katakan padaku kamu akan kemana.." Anna meraih tangan Airin dan Airin melepaskannya dengan lembut."Dan selama ini kamu tinggal dimana?"


"Aku mohon Airin.." Anna masih mencegah Airin, namun Airin tak bergeming saat mendekati pintu Airin tersentak saat melihat seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan mereka, Airin tertegun melihat seorang pria berdiri di depan pintu dengan tatapan nanar terarah padanya, pakaiannya yang terbiasa rapi kini terlihat berantakan dengan jambang yang mengelilingi rahangnya, rambutnya yang terbiasa klimis kini terlihat lebih panjang dari sebelumnya.


"Baby.."


Airin mundur saat Alden mendekat "Aku menemukanmu.." Alden terus mendekat dan Airin terus mundur menjauh.


Airin melihat Anna, dan Anna melihat Roland yang berdiri di belakang Alden.


Airin memejamkan matanya harusnya dia tidak gegabah, dan pergi dengan tenang.


"Jangan mendekat!" lirihnya.


"Baby aku mohon, jika aku melakukan kesalahan maafkan aku.. kenapa kamu pergi? aku mohon.."


"Berhentilah aku bilang jangan mendekat, brengsek!" Alden tertegun.


Melihat Alden yang mematung Airin segera berlari keluar ruangan melewati Alden dan Roland yang tak bisa mencegahnya.


Alden berkedip lalu segera mengejar Airin.


"Apa yang kau lakukan?" Anna memukul tangan Roland "Aku sedang berusaha membujuknya, dan lihat sekarang dia pergi lagi."


"Maafkan aku Honey, aku sungguh tak tega melihat Alden begitu kacau.."


Anna meremas rambutnya "Astaga.. kita harus tahu kemana Airin pergi, dia sedang tidak baik- baik saja.." Anna berkata dengan cemas.


"Tenanglah, kita akan menemukannya kembali.." Roland memeluk Anna.


Airin terus berlari dan tak menoleh ke arah Alden yang berteriak memanggilnya "Baby aku mohon, apa kesalahanku?"

__ADS_1


Airin berhenti lalu menoleh, dan membuka tutup kepalanya, hingga nampaklah wajah yang begitu Alden rindukan selama tiga bulan ini, namun Alden begitu terenyuh saat melihat Airin berbeda dari saat bersamanya, Airin nampak pucat dengan pipi yang tirus dan cekungan di matanya.


"Apa yang terjadi denganmu Baby.."


"Tetap di tempatmu!" Airin mengangkat tangannya "Aku mohon jangan mendekat.. sudah cukup semuanya Al, aku lelah.. kenapa kau masih mencariku, tidak kah kau lihat aku sudah kehilangan segalanya.." Airin menatap Alden, dia merindukan pria itu tapi dia menyadari dia tidak akan pernah bisa bersamanya.


"Baby.."


"Aku bilang berhenti, lihat itu.." Airin menunjuk jalanan yang sedang ramai kendaraan berlalu lalang "Jika kamu terus mendekat aku akan lari kesana maka kamu akan tahu apa yang terjadi padaku." Alden menggeleng, apa Airin akan menabrakkan dirinya sendiri, apa Airin tidak waras.


"Apa yang kamu lakukan Airin.." Alden meremas rambutnya frustasi "Apa kesalahan ku, kenapa kamu melakukan ini padaku, aku mohon Airin kembalilah maafkan aku.." meski Alden tak tahu apa kesalahannya hingga Airin pergi namun Alden terus berkata maaf agar Airin kembali, apapun akan dia lakukan agar Airin kembali padanya.


Airin menggeleng "Tidak, sejak awal semuanya salahku, aku harusnya tidak pernah datang padamu.. aku harusnya tidak pernah menyerahkan diriku padamu, aku menyesali semuanya.. aku bahkan menyesal pernah mencintaimu.."


Alden tertegun kakinya terpaku bahkan hingga Airin memasuki taksi dan pergi Alden masih berdiri disana..


Apa katanya, menyesal pernah mencintainya.. sehina itukan dirinya, hingga bahkan tak pantas mendapatkan cinta Airin.


Alden terduduk, dengan tangan terkepal apa artinya ini?..


Sedang apa dia disini?..


Apa yang sudah dia lakukan selama ini sia- sia?..


Anna dan Roland berlari ke arah Alden yang masih berjongkok di trotoar "Mana Airin?" Anna melihat sekelilingnya.


"Pergi.." lirihnya.


"Kau membiarkannya pergi?"


"Apa yang harus aku lakukan, aku sudah berusaha mencari dan mengejarnya, tapi dia tidak mau bersamaku.."


"Jadi kau menyerah?"


Anna terkekeh "Benar, Airin tak pantas untuk pria brengsek sepertimu" Anna mendorong bahu Alden "Pergilah.. jangan pernah cari dia lagi.."


Anna memukul bahu Alden yang hanya bergeming "Pria brengsek sepertimu tidak pantas untuknya.. dasar pecundang!"


"Honey.. berhentilah.." Roland memeluk Anna yang menangis dan terus memukul Alden.


"Tidak tahu ada pria brengsek sepertimu.. kau tahu apa yang Airin alami.. Astaga Oland, Airin bahkan kehilangan bayinya.." Anna menangis di pelukan Roland.


Alden mendongak dengan mata yang terus berkedip menahan air matanya yang hampir tumpah "A..apa..?"


"Apa.. apa yang terjadi?" Alden menarik tangan Anna hendak meminta penjelasan, namun Roland segera menepisnya.

__ADS_1


"Kendalikan dirimu Al.. kita akan cari solusinya.." Roland masih mendekap Anna yang terus menangis.


.


.


Anna mendelik tajam pada Alden yang memejamkan mata dan menghela nafasnya setelah mendengar cerita Anna tentang alasan Airin pergi darinya "Jadi ini hanya salah faham?" Alden terkekeh pilu "Astaga.. Airin.." Alden mengusap kasar wajahnya.


"Tetap saja, seharusnya kamu jelaskan di awal apa yang akan kamu lakukan dan rencanakan, aku tidak tahu para pria selalu bersikap sok keren, melakukan semuanya sendiri dan merasa selalu benar dengan tindakannya, satu hal yang harus kalian tahu.. wanita membutuhkan kepastian!"


Roland merengut "Honey Kau berkata pada Alden kenapa aku juga ditunjuk.." Anna mencebik lalu menurunkan jarinya, yang mengarah pada Roland.


"Ini semua juga salahmu, aku bilang jangan beri tahu pria ini agar aku bisa mencari tahu dimana Airin tinggal, Sekarang bagaimana..?" Anna menunduk.


"Tenanglah.." Roland berdecih saat melihat Alden menyeringai.. "Dia bukan pria bodoh yang akan terpuruk kedua kalinya.."


Alden menegakkan tubuhnya lalu menegak minuman yang ada di depannya, dan Anna mengeryit melihat Alden berubah tenang.


Roland menyandarkan tubuhnya di pundak Anna "Jadi ayo kita pulang.." Anna semakin bingung dengan apa yang di katakan Roland "Ayolah Honey jangan khawatir, Alden sudah menyuruh orang untuk mengikuti Airin.."


Anna melihat ke arah Alden "Aku tidak akan mudah menyerah Anna, aku pastikan Airin tidak akan lepas dariku.."


Anna menghela nafasnya lalu bangun dari kursinya "Baiklah ayo pulang, tapi Al jika kau menyakitinya lagi.."


Alden mengangguk seolah memberi kepastian pada Anna.


"Sudahlah Honey jangan membuat keributan, biarkan mereka menyelesaikan semuanya, ayo kita pulang!"


Anna mendelik ke arah Roland dan menepis tangan pria itu "Diamlah aku masih marah padamu!"


Roland mendesah frustasi saat Anna pergi meninggalkan nya "Semua gara- gara kau!" Alden terkekeh melihat Roland pergi setelah mengumpatinya, masih terdengar samar- samar suara Roland membujuk Anna agar tidak marah lagi, dan Alden hanya tersenyum mengingat pasangan romantis itu.


Alden merogoh sakunya untuk mendapatkan ponselnya yang berdering.


"Bagaimana?"


"Kami melihatnya masuk ke sebuah rumah sakit Tuan.."


Alden mengerutkan keningnya, rumah sakit.. selama ini dia tak terfikir mencari Airin ke rumah sakit, ternyata Airin bersembunyi disana, atau.. apakah Airin sedang sakit?.


Bayangan wajah Airin yang pucat dan tirus seketika membuat Alden khawatir "Tetap awasi dia dari jarak aman, jangan sampai dia pergi jauh.. aku segera kesana.."


...


Like..

__ADS_1


Komen...


Vote...


__ADS_2