Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Tersayat


__ADS_3

Harusnya Airin membenci Alden yang begitu brengsek, setelah puas dengan wanita lain kini Alden datang padanya, namun yang terjadi adalah Airin terbuai dengan permainan Alden, Airin berbalik membenci dirinya sendiri yang tak mampu menolak Alden, bahkan saat ini Airin tak peduli saat Alden mulai menjelajah ke bahunya hingga bahunya sedikit terbuka.


"Kalian ingin berlibur atau mengadakan pesta sekkksss.." terdengar seruan wanita dari belakang Airin.


"Memang kau mau.. ? Mereka sudah biasa seperti itu jadi biarkan saja, anggap kau tak melihatnya.." Airin tahu itu suara Roland, Airin tak bisa lagi menahan dirinya untuk melepaskan diri dari Alden.


Dengan wajah merah Airin menaikan dress nya yang terbuka, Airin mendongak dan melihat Caroline yang mendengus, Astaga.. Airin benar- benar terlihat murahan..


Sepanjang perjalanan Airin hanya diam dan menunduk, dia malu. Alden benar- benar sudah menunjukan dimana posisinya.


Alden menghela nafasnya saat menyadari apa yang dia lakukan, awalnya Alden hanya ingin mencium Airin, namun siapa yang menyangka dia akan lupa diri, satu minggu tidak bertemu membuat Alden menggila dengan rasa Airin yang tak pernah berubah membuatnya lupa berada dimana, meski dia terbiasa dengan kedua temannya, namun tidak bagi Airin, mungkin dia merasa malu sekarang.


Alden menggeram dalam hati untuk apa dia peduli, bukankah dia memang harus menunjukan posisi Airin, belum lagi Alden ingin Airin membencinya.. bukankah ini cara yang bagus!?..


.


.


Airin menghirup udara sebanyak- banyak nya begitu tiba di pulau, terakhir kali Airin tidak terlalu menikmati keindahan pulau ini, namun kali ini Airin harap bisa menikmatinya.


Airin melihat di depannya Alden dan Ben juga Caroline yang entah mengapa terlihat kesal, Airin mengikuti pandangan ketiga orang tersebut yang mengarah ke pantai.


Airin tersenyum ketika melihat Roland berlari mengejar gadis yang sejak tadi duduk di sebelah Roland, yang Airin kira dia adalah kekasihnya, mereka berlari di tepi pantai terlihat manis untuk sepasang kekasih. gadis itu juga terlihat cantik, dari yang terlihat sepertinya gadis itu campuran asia, rambutnya yang hitam dan matanya yang bulat, juga bibir tipis yang terlihat manis.


"Kau melihat apa?" Alden menepuk pundaknya "Ayo!" Airin menghela nafasnya dan mengikuti Alden menuju ke Vila.


Tiba di Vila, Airin mengingat kamar yang dia tempati, mungkin dia juga akan tidur disana kali ini, pemandangannya juga sangat bagus, meski Airin yakin setiap kamar memiliki view yang bagus, tapi Airin rasa dia nyaman disana.


"Kau akan kemana?" Airin menoleh saat Alden bertanya, ada apa dengannya tentu saja dia akan pergi ke kamarnya.


"Aku akan ke kamarku" Airin menunjuk kamar yang dia tempati saat dia datang tempo hari ketika berlibur.

__ADS_1


"Kali ini kau tidur di kamarku" Airin menelan ludahnya kasar, bayangan mereka tidur bersama berkeliaran di kepalanya, pipinya memerah lalu Airin menguarkan senyumnya.


"Baik.." Airin mengikuti Alden memasuki kamar pria itu, bukankah bagus mereka akan menghabiskan setiap malam bersama, jika berada di satu kamar.


Airin meletakkan kopernya dan berniat merapikannya, namun dari arah belakang sebuah tangan melingkar di pinggangnya "Kau sangat seksii hari ini.." Airin tersenyum mendengar pujian Alden.


"Kau tahu, aku menahannya sejak saat di pesawat.. kau terlihat menggoda" Bibir Alden mulai menjelajah di tengkuk Airin dan menyingkirkan rambut Airin hingga kini menampakan leher jenjang Airin terbuka, Alden menyesapnya membuat Airin mendesah kecil.


Alden membalik tubuh Airin dan nampak wajah Airin yang terlihat merah, gadis ini sudah lebih dari satu kali dia sentuh, namun masih saja malu saat Alden menyentuhnya.


"Bagaimana rasanya tidak bertemu selama satu minggu?" Airin mendongak melihat Alden yang menyeringai.


"Bukankah, seseorang akan merindukan orang yang dia suka jika lama tidak bertemu"


Airin menggeleng "Tidak.. bukan hanya lama tidak bertemu, namun baru beberapa menit saja dia pergi, orang itu akan merindukannya.." Alden terkekeh, melihat Airin menatapnya penuh perasaan, Alden tahu itu karena tatapan Airin berbinar saat ini.


"Jadi kau juga merindukanku?" Airin tersenyum.


"Aku sangat merindukanmu.." Alden terpaku untuk sesaat, namun tangannya kembali mengelus pipi Airin yang semakin merah.


Airin mengerjapkan matanya lalu tersenyum miris "Tentu saja.."


"Baiklah kita sudahi drama cinta ini, sekarang waktunya melakukan tugasmu senangkan aku, wanita penggantiku.." ucapan Alden semakin menusuk hatinya, padahal selama ini Airin selalu melakukannya sepenuh hati, dan dengan penuh perasaan bukan hanya sebagai tugas saja.


Airin mendongak saat Alden menyerukan bibirnya di leher Airin dan mulai menjelajah disana, perlahan dan pasti hati Airin kini merasakan sakit di setiap sentuhan yang Alden berikan, ada apa dengan hatimu Airin?, mengapa begitu lemah, bukankah kamu bilang akan mengejar Alden? namun kenapa saat baru permulaan saja kau merasakan sakit yang luar biasa, kau bahkan belum lama membulatkan tekadmu, kau sungguh lemah.


Setiap hentakan yang Alden berikan seperti sembilu kala mulut Alden tak berhenti mengejeknya.


"Ada apa denganmu? kau hanya diam.. bukankah ini nikmat..hm?" Airin memalingkan wajahnya, seolah dia tak menikmati apa yang Alden lakukan padanya, tatapan nya sendu menatap Alden yang memacu di atasnya. Beberapa menit berlalu Alden kembali bicara, dengan raut wajah yang terlihat kesal "Sudah ku bilang ingatlah posisimu Airin, jangan berharap lebih, dan akhirnya aku bahkan tak bisa menikmati ini.. sial" Alden melepaskan dirinya dari tubuh Airin, "Aku muak melihatmu menatap ku sendu dan seolah hatimu benar- benar tersakiti." Airin terpaku, apa Airin baru saja melakukan kesalahan, .


Alden akan pergi namun Airin menggenggam tangannya "Maafkan aku.. aku akan melakukan tugasku dengan benar" hati Airin terasa sakit saat mengakui ini sebagai sebuah tugas yang harus dia lakukan dengan sepenuh hati agar sang tuan merasa senang.

__ADS_1


"Kau yakin?" Airin tersenyum manis, sangat manis, namun entah mengapa itu malah mengusik hati Alden.


"Tentu.." Airin mendorong Alden pelan hingga Alden terjatuh di ranjang, dan Airin mulai naik ke tubuh kekar pria itu, Airin mulai membelai dan men cumbu Alden hingga Alden mendesah tertahan.


"Ahmmh bagus lakukan tugasmu dengan benar" Airin tetap tersenyum dan berusaha terus menikmati setiap gerakannya di tubuh Alden, melawan hatinya yang terasa perih.


....


Airin memejamkan matanya saat Alden pergi ke arah kamar mandi, tugasnya sudah selesai dan tuannya sudah puas.


Tidak hanya tubuhnya yang sakit karena melayani tubuh perkasa Alden, namun hatinya ikut hancur, dengan perkataan yang di dengar dari mulut Alden.


....


Kegiatan yang menguras hati dan emosi membuatnya kelaparan, Airin pergi ke arah dapur untuk mencari makanan, dan ternyata dari belakang rumah nampak peralatan sudah tersedia, rupanya para pria sudah disana dan akan memanggang daging, para wanita juga sudah berada di sana termasuk Caroline.


"Airin duduklah aku akan memanggang daging?" Ben berjalan ke arah pemanggang dengan seorang wanita yang mengikutinya membawa pring berisi daging.


Airin melihat Roland beranjak pergi, tak berapa lama Caroline pun pergi ke arah yang sama dengan Roland, tak jauh dari mereka, Airin melihat Alden sedang duduk di kursi yang lain tak jauh dengan mereka, terlihat sedang menggoda, meski tanpa repot- repot sebenarnya wanita itu dengan senang hati akan jatuh ke pelukan Alden.


Airin menipiskan bibirnya, mencoba terbiasa dengan apa yang di lihatnya sekarang, meski nyatanya hatinya tetap saja sakit. Ketika melihat pria yang kita sukai menggoda bahkan mencumbu wanita lain.


Airin membeku di tempatnya, dengan hati yang tergores, tersayat dan pedih.


Airin merasakan kursi di sebelahnya bergerak, menampakan seorang gadis yang mengedarkan pandangannya ke seluruh taman.


"Kamu mencari Roland?"


...


Like..

__ADS_1


Komen...


Vote....


__ADS_2