Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Liburan Lagi


__ADS_3

Alden mendengus saat Ben memasuki ruangannya, dia tahu kejadian kemarin adalah ulah Ben, yang sengaja memanasi hatinya, yang sialnya memang terasa panas saat melihat Airin dengan pria lain.


Sejak Airin merubah sikapnya dia sudah tahu bahwa Airin menaruh rasa padanya, harusnya Alden melepaskannya agar tak ada rasa yang semakin dalam, namun Alden masih membutuhkan Airin, karena hanya Airin yang mampu mengimbangi kekuatannya dalam bercinta.


Dan Alden tak bisa melepas Airin untuk saat ini, entahlah.. juga ada rasa yang membuat Alden enggan melepas Airin sehingga ingin Airin hanya miliknya.


Ben menyeringai saat melihat Alden mendengus padanya "Bagaimana rasanya?"


"Aku akan membunuh Mike jika dia menyentuh Airin.."


"Oh.." Ben bertepuk tangan "Kau sungguh cemburu?"


"Cih, aku hanya tak suka milikku di sentuh pria lain.."


Ben terkekeh "Jika begitu bagaimana dengan wanita bayaran yang kita sewa bukankah kita juga sering berbagi?" Alis Ben terangkat menunggu jawaban Alden.


"Airin berbeda, aku mengontraknya untuk satu tahun, dan itu berarti selama itu Airin tidak boleh berhubungan dengan pria lain.."


"Apa?" Ben tercengang "Kau membelinya?"


Alden mendengus "Apa kau tidak tahu perbedaan membeli dan mengontrak.."


Ben menghela nafasnya "Ada apa denganmu Al, jika kau ingin perempuan kau bisa membeli untuk satu malam, dan jangan mempermainkan perasaan wanita apalagi dalam waktu yang cukup lama, perasaannya padamu akan semakin tumbuh.."


Alden terkekeh mendengar ucapan bijak dari pria yang sama brengseknya dengan dirinya seolah dia juga merasakannya "Kau berkata seolah kau pria baik yang setia.." Ben menelan ludahnya kasar, Alden benar dia juga sama brengseknya namun dia tidak mempermainkan wanita, Ben hanya akan menyewanya lalu pekerjaan selesai.


Meski akhir- akhir ini dia terganggu oleh Vero yang sialnya terus menghindar karena dia memiliki tunangan, apa yang harus dia lakukan agar bisa menaklukan Vero, bahkan dirinya sendiri bingung apa dia mencintai Vero atau hanya sekedar rasa penasaran karena Vero begitu nikmat, dan membuatnya ingin lagi dan lagi.


"Yah, kau benar.. aku juga pria brengsek" Alden mendudukan dirinya wajahnya kini terlihat lesu.


Alden menyeringai "Ada apa denganmu.."


Ben mengedikkan bahunya "Entahlah, aku rasa kita benar- benar perlu liburan.."


Alden mengangguk lalu sebuah pemikiran melintasinya "Baiklah kita akan membawa wanita.. berapa lama kita di sana? terakhir kali kita harus pulang karena aku ada masalah mendadak.." tepatnya dia pulang karena Airin yang ingin menemani neneknya operasi.


Alden menyadari jika sebenarnya, Airin berubah sejak kematian neneknya, lalu apakah ini juga karena perhatiannya yang terlalu berlebihan, jika begitu Alden harus mengembalikan posisi mereka ke awal dimana dia tak perduli akan apapun.

__ADS_1


Meski Alden menyukai Airin yang bertingkah manis dan menyenangkannya, tapi jika Airin merasakan perasaannya semakin dalam akan berbahaya untuknya dan bisa saja menggoyahkannya, bahkan meski ingin Alden tidak akan bisa bersama Airin selamanya.


"Kau akan membawa Airin?"


"Tentu saja"


Jadi untuk membuat Airin terus bersamanya Alden harus membuat Airin membencinya.


...


Airin melihat ponselnya lalu tersenyum saat melihat pesan dari Alden, bahwa mereka akan berlibur kembali ke pulau Alden, terakhir kali Airin ikut dia tidak menikmatinya meski suasana di sana cukup indah, dan Airin harap liburan kali ini dia akan menikmatinya, Airin mengingat kejadian terakhir kali saat di pulau, dia berdandan untuk Alden pertama kalinya, dan untuk pertama kalinya juga Airin menjadi wanita nakal hanya karena ingin Alden mengabulkan permintaannya, Airin melihat pakaiannya di lemari, pakaian yang baru dia beli beberapa waktu lalu, karena Alden menyukai wanita berpakaian seksii maka Airin membelinya meski Airin risi menggunakannya.


Airin mengemas kopernya dan memasukan pakaiannya ke dalam koper.


Alden bilang dia akan menjemputnya dan hari ini juga mereka akan berangkat.


Beberapa lama Airin menunggu di parkiran gedung apartemen namun Alden tak juga datang, hingga Airin melihat sebuah mobil melaju ke arahnya, Airin tersenyum saat mengira itu Alden, namun Airin harus mendesah kecewa saat yang keluar adalah seorang pria berseragam supir khas rumah Alden.


"Mari Nona, aku di minta tuan Alden untuk menjemput anda" Airin menghela nafasnya lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


Airin sudah berdandan sangat cantik karena akan bertemu Alden, sudah satu minggu Alden tidak pulang ke apartemen sejak dia pergi ke club hari itu, dan paginya Alden pergi tanpa menyentuh makanan yang dia hidangkan.


"Apa kau pelayan itu?" Airin mengerutkan keningnya.


"Kau mengenalku?" Supir tersebut tersenyum lalu mengangguk.


"Di mansion sangat heboh, kau tahu gosip diantara para pekerja beredar bahwa kau di jadikan kekasih oleh tuan Alden, hingga di bawa keluar dari mansion untuk tinggal bersama.." Airin mengerjapkan matanya "Awalnya aku tidak percaya, bukan kah kau pelayan baru direkrut beberapa bulan lalu.."


"Tapi melihatmu berada disini, kau tidak akan bilang itu gosip bukan?"


"Itu tidak seperti perkiraanmu, aku.." supir Alden mengibaskan tangannya.


"Tidak, itu sudah biasa bagi tuan Alden, dia biasa berganti wanita manapun yang dia inginkan, dan aku juga tahu kau melakukannya demi uang..,"


Supir Alden tersenyum namun kini yang Airin rasakan senyumnya penuh ejekan, seolah supir itu benar maka Airin hanya diam saja, bukankah memang benar awalnya Airin melakukanya demi uang.


...

__ADS_1


Tiba di bandara Airin langsung di antar ke pesawat pribadi milik Alden.


Saat memasuki pesawat Airin menghentikan langkahnya, dan tertegun.


Di depan sana dia melihat Alden yang sedang memangku wanita lain dengan tertawa dan sesekali Alden mengecup pipi wanita itu.


Airin menelan ludahnya kasar, dengan menguatkan hatinya Airin berjalan mendekat, dan yang pertama menyadarinya adalah Ben.


"Kau sudah datang?" Ben melambaikan tangannya, sedangkan Airin tersenyum canggung, dan melihat Ben yang duduk dengan Caroline tunangannya, di ujung sana ada tiga wanita lagi yang Airin yakin mereka juga akan ikut.


Kaki jenjang Airin melangkah dengan anggun ke arah Ben, yang memang menawarkan nya untuk duduk bersama.


Saat Airin mendudukan dirinya, matanya tak sengaja melihat Alden yang juga melihat ke arahnya, namun dengan raut acuh.


Airin menipiskan bibirnya dan mengalihkan pandangannya pada Ben yang mengajaknya bicara "Kita sedang menunggu Roland, dia dalam perjalanan.."


"Ah.. iya.." Airin tersenyum lalu melihat ke arah Caroline "Apa kabarmu?"


Caroline mengangkat alisnya "Kamu tidak perlu menyapaku, kita tidak seakrab itu, lagi pula aku tidak bergaul dengan wanita seperti kalian" Caroline mendelik ke arah para wanita yang juga berada di kursi sudut lalu melihat Airin seolah menyamakan mereka.


"Kau tak perlu bicara jika itu ucapan buruk" Ben menegur Caroline yang justru mendengus tak peduli.


Airin menipiskan bibirnya, dengan senyuman kecil, lagi pula Caroline memang benar mereka sama, sama- sama wanita pengganti.


Alden melepas wanita pengganti di pangkuannya, waktunya dia berganti, dengan langkah tegas dia berjalan ke arah Airin yang langsung terpaku saat Alden duduk di sebelahnya.


Mata Airin tak lepas dari Alden yang tersenyum dan mencium pipinya "Hai wanita nakal ku" Alden menyeringai, sedangkan Airin masih terpaku bahkan saat Alden memindahkannya ke pangkuannya dan mulai mencium bibirnya.


Pintu kembali terbuka dan menampakan Roland dengan wanita cantik di gandengannya "Apa kalian menunggu lama?"


.


.


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2