Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Mengejar Alden


__ADS_3

"Kamu sudah pulang?"


Alden menghela nafasnya, saat melihat Airin menyambutnya, itu yang selalu wanita itu lakukan sejak kematian neneknya satu beberapa minggu lalu, Airin sudah seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang, meski jauh di dalam hati Alden merasa hangat, namun dia mencoba menepis "Kau menungguku?" katanya dengan datar, namun Airin masih saja tersenyum.


"Iya, kamu sudah makan?" Airin menggandeng lengan Alden, yang justru Alden lepaskan.


"Aku sudah makan" Alden melihat wajah Airin menunduk kecewa namun dengan cepat Alden mengalihkan pandangannya.


"Oh, aku kira kamu belum makan, biar aku simpan saja makanannya untuk makan malam.." Airin bergerak untuk ke arah ruang makan.


"Airin.."


"Ya" Airin menoleh dan mendapati wajah Alden menatapnya dengan datar dan membuatnya tertegun.


"Aku tidak makan malam dirumah.."


"Ah.. oke.." Airin tersenyum canggung, kenapa dengan sikap Alden apa dia membuat kesalahan, kenapa Alden menjadi dingin.


"Dan lagi mulai sekarang tidak perlu memasak untukku, kau bisa tinggal sesukamu sekarang, jangan repotkan dirimu untuk pekerjaan lainnya.."


Airin mengerjapkan matanya "Tapi bukankah itu pekerjaanku?" Kata Airin dengan nada lirih.


Alden kembali memalingkan wajahnya saat melihat raut sendu Airin entah mengapa dia terasa sedih.


"Anggap saja itu sebagai suatu keunggulan menjadi wanitaku, jadi.. nikmatilah masa- masa kamu disini sebelum kontrak kita selesai.." Alden pergi kearah kamarnya, sedangkan Airin menelan ludahnya kasar, dia sudah tau akan ada akhirnya, tapi Airin tidak tahu jika akhirnya akan segera datang, dan dia hanya perlu menunggu masa- masanya sebagai wanita pengganti berakhir.


Airin tak bisa pergi sendiri, sebelum Alden yang mengusirnya, jadi dia mencoba melakukan semuanya sepenuh hati "Kau tahu aku sedang melakukannya, menikmati masa- masa diriku, sebelum kamu membuang aku.. tapi rupanya masanya akan segera datang" Airin tersenyum pedih lalu pergi ke arah dapur.


Airin merapikan meja makan, dan menyimpannya. dia bahkan mengabaikan dirinya yang belum makan dan menunggu Alden pulang untuk makan bersama.


Airin melihat ke arah pintu saat mendengar pintu kembali tertutup dan terkunci otomatis dari luar, Alden benar- benar pergi, Airin menghela nafasnya lalu pergi kearah kamarnya.


Tiba di kamar Airin membuka lemarinya dan menggigit bibirnya lalu tersenyum jika Alden pergi maka dia yang akan mencarinya, dia yang akan mengejar pria itu sampai pria itu melihatnya.


Hingga waktunya tiba Airin akan berjuang.

__ADS_1


...


Airin berjalan anggun memasuki sebuah club malam terbesar di kota, dengan sedikit risi Airin sesekali menarik roknya padahal itu adalah rok yang cukup panjang jika di bandingkan dengan wanita yang berkeliaran di dalam sana, namun tetap saja Airin tidak terbiasa.


Dulu saat Airin bekerja di tempat seperti ini Airin begitu membencinya hingga dia bersumpah tak ingin masuk kembali, namun malam ini demi Alden, Airin memasukinya kembali, hanya saja tempat ini berbeda dari bar murahan tempatnya bekerja dulu, club ini terlihat lebih mewah dan besar.


Airin melihat keatas dimana ruangan VIP berada, Airin tahu Alden berada di atas.


Dari mana Airin tahu "Kau sudah datang?" Airin menoleh dan melihat Ben.


Ya, Ben. dia jelas tau dari pria itu bahwa Alden selalu menghabiskan waktunya disana, lalu kapan Airin bertemu Alden sejak di pulau pribadi Alden, Ben yang lebih dulu meminta no ponselnya, hingga akhirnya Airin memutuskan bertanya kemana Alden selalu pergi.


Dan Ben pun menyebutkan sebuah club malam yang memang khas orang elit.


Airin tersenyum dan melihat ke sebelah Ben, rupanya pria itu tidak sendiri, dia bersama seorang wanita cantik yang dengan angkuh menatapnya remeh "Hallo aku Airin.."


"Caroline.." Airin menatap canggung tangannya yang terulur dan tak mendapat sambutan Caroline.


Ben mendengus "Dia tunanganku" Airin mengangguk "Ah, ya.. minggu depan kami juga akan kembali ke pulau Alden, kau ikut kembali?" Ben masih penasaran dengan wanita ini, benarkah Airin bisa merubah Alden jika benar bukankah itu bagus, Alden mungkin tidak akan mengingat lagi lukanya jika bisa move on dengan wanita lain.


Ben mengangguk "Baiklah aku akan naik" Ben menunjuk lantai atas, dan Airin mengangguk, "Ingat dengan rencana kita" bisiknya ke telinga Airin.


Airin tersenyum dan mengangguk..


Beberapa menit setelah Ben pergi ke lantai atas seorang pria menghampiri Airin dan duduk di sebelahnya "Haii.." sapanya dengan senyuman.


Airin pun membalas senyuman pria tersebut dan menjawab "Hallo.."


Tangan Airin mendadak dingin saat menggenggam gelas kecil di atas meja, dia tidak terbiasa minum entah apa yang akan terjadi jika dia minum, jawabannya adalah dia akan mabuk hanya dengan meminum satu gelas saja.


"Kau tidak terbiasa minum?" Airin tersenyum canggung, sedangkan pria di sebelahnya menyeringai.


"Kau bisa melakukannya dengan pelan seperti ini.." pria di sebelah Airin menggoyang gelasnya terlebih dahulu lalu menyesapnya pelan.


"Dan jika kau takut mabuk, untuk membuat orang terkesan kau cukup melakukannya seperti ini"

__ADS_1


Airin memperhatikan pria itu lalu tertawa saat pria itu hanya berpura- pura meminumnya.


"Awalnya aku takut aku kira kau sama seperti pria hidung belang.." pria tersebut terkekeh.


"Sebenarnya aku ingin menyentuhmu, kau tahu kau cukup menggoda, tapi aku rasa aku takut Alden membunuhku" Airin tersenyum masam.


Melihat Airin tersenyum kecut membuat pria itu kembali bicara, "Kau tidak percaya? kau bisa melihatnya di atas dia sedang menatap kearah kita" Airin akan menoleh kearah dimana Alden berada, namun pria di sebelah mencegahnya "Tunggu, jangan melihatnya, dia bisa curiga padamu jika kau melihatnya.."


Airin menegakkan punggungnya, saat pria tersebut berbisik di telinganya, meski nyatanya bukan bisikan, karena suaranya cukup keras bercampur dengan berisiknya musik yang memang menusuk telinga.


Dari lantai atas Alden memang melihat Airin yang sedang berbincang dengan pria yang dia kenal, tepatnya dia mengetahui siapa pria itu "Mike.." desisnya.


"Benar bukan? aku tak salah lihat." Ben berkata dengan nada seolah dia tak tahu Airin berada disana "Aku cukup cerdas saat mengingat wanita cantik, dan Aku ingat Airin yang kau tolong saat dia tenggelam di kolam bukan?"


"Ck.. Mike memang tahu wanita cantik.." Ben memperhatikan raut Alden yang mengeraskan rahangnya, Yes!! jebakannya berhasil 'Kena kau Al..' katanya dalam hati.


Ben menyeringai saat raut Alden terlihat marah, kata orang cemburu itu tandanya cinta dan Ben juga baru tahu apa itu cemburu, Ben akan merasa marah dan terbakar saat melihat wanita yang dia inginkan bersama pria lain, dan itu yang dia rasakan saat melihat Vero bersama pria lain.


Vero yang dia kenal beberapa waktu lalu dan mereka menghabiskan satu malam yang menggairahkan bersama hingga Ben tak bisa melupakan wanita itu, dan yang membuatnya semakin penasaran Vero menghindarinya karena dia yang sudah memiliki tunangan.


Ben mendengus saat melihat Caroline yang berada di ruangan mereka mendekati Roland yang justru Roland memilih bangkit meninggalkannya.


Saat Ben mengalihkan tatapannya, dia tak menyadari Alden berjalan tegas ke lantai bawah dan menerjang Mike..


Bugh..


...


Like..


Komen..


Vote..


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2