
Airin mengintip dari balik jendela yang tirainya ia singkap sedikit untuk melihat ke luar ke halaman rumahnya..
Disana masih ada mobil Alden dan masih tidak bergeming, Airin tahu di dalam mobil ada penghangat suhu, namun tetap saja jika terlalu lama akan tidak nyaman karena udara sangat dingin di luar sana..
Airin mengerucutkan bibir saat tak bisa menahan rasa khawatirnya mengingat Alden di luar sana, kenapa dia harus khawatir, biarkan saja Alden kedinginan dengan begitu dia segera pergi dari sana, Airin kembali mengintip ke luar jendela terlihat Alden keluar dari dalam mobil dengan sesekali menggosok tangannya "Untuk apa dia keluar, apa dia tidak kedinginan.." gumamnya.
Airin kembali menutup tirai saat pandangan Alden terarah padanya, lalu kembali membuka celah dan tak menemukan Alden di sana, Airin mengerjap beberapa kali lalu menyipitkan matanya, apa Alden kembali ke dalam mobilnya.
Airin membuka pintu balkon dan berjalan keluar untuk melihat Alden, apa pria itu masih di luar atau masuk ke dalam mobilnya, saat tak menemukan Alden Airin memutuskan kembali masuk dia fikir Alden berada di dalam mobilnya, namun Airin tertegun saat sekilas dia melihat Alden terbaring di tanah tepat di depan mobilnya.
Airin mengerjapkan matanya yang tiba- tiba ingin menangis, lalu dengan cepat Airin berlari keluar dari kamarnya.
Melihat Airin yang keluar dari kamar terburu- buru membuat Andi yang baru saja akan masuk kamar mengurungkan niatnya..
"Ada apa..?" raut khawatir tak bisa di tutupi di wajah Airin, dan Andi pun mengikuti Airin.
Airin membuka pintu menghiraukan dirinya yang tak memakai mantel sama sekali hanya piyama tidur yang tak cukup untuk menghalau dingin.
"Alden!" Airin berjongkok dan melihat Alden yang terbaring "Alden.." Airin menepuk pipi pria yang masih bergeming di tempatnya.
"Kenapa?"
"Andi, dia pingsan pasti karena kedinginan.."
Andi memeriksa nadi Alden dan memeriksa nadinya"Ayo bawa ke dalam.." Andi menghela nafasnya lalu meminta seorang penjaga untuk membantunya membawa Alden masuk
"Merepotkan" desahnya, setelah Alden berhasil di baringkan di ranjang kamar tamu. "Kamu bahkan tidak memakai mantel dan keluar rumah dalam cuaca dingin"
Airin tak bergeming dan menghiraukan Andi yang menyampirkan selimut di bahunya, tatapan matanya terus mengarah pada Alden yang masih terpejam, di bawah selimut yang membalutnya.
"Dia akan baik- baik saja.." Airin mengangguk.
"Terimakasih.." Andi mengusap bahu Airin, dan menghela nafas setelah melihat Alden.
Andi memutuskan pergi dan membiarkan Airin bersama Alden.
Airin menggerakkan kakinya perlahan lalu mendudukan dirinya di tepi ranjang "Apa yang kamu lakukan, kenapa tidak lanjutkan saja hidupmu, kenapa harus mencariku."
"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup sedangkan hidupku sudah meninggalkan aku.." Airin akan bangun saat mendengar suara Alden namun Alden segera mencengkram tangannya.
"Kamu pura- pura pingsan?"
"Kalau itu bisa membuat aku bicara sama kamu." Alden bangkit dan mendudukan dirinya tanpa melepas tangan Airin.
"Lepas!"
"Tidak ada gunanya terus menghindar Airin, ayo kita bicara!"
__ADS_1
Airin menghela nafasnya "Baik, ayo bicarakan apa yang ingin kamu bicarakan." Airin duduk kembali di tepi ranjang dengan tangan yang masih Alden genggam.
Alden tersenyum setidaknya Airin mau mendengarkan, tangan Alden yang tadi mencengkram pergelangan tangan Airin kini berpindah ke telapak tangannya dan menggenggamnya.
Airin tersentak saat telapak tangan Alden mengusap kemudian menggenggamnya, tangan Alden sangat dingin mungkin kerena pria itu terlalu lama di luar.
"Aku merindukan kamu" Alden mengeratkan genggamannya.
"Hari itu.. setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan ku, aku datang ke vila, dengan kejutan yang ingin aku berikan.. aku akan mengatakan semuanya bahwa 'Semua sudah selesai, dan kita bisa menikah tanpa ada yang menghalangi lagi, aku sudah menyelesaikannya, dan membuang semuanya, demi kamu..' tapi saat aku datang dengan gaun pengantin kamu, kamu sudah tidak ada"
Airin tertegun..
"Tahukah, selama kamu tidak ada aku seperti hidup tapi nyatanya hatiku mati.."
"Maafkan aku Airin, aku mohon kembalilah padaku.. aku tahu aku pria brengsek tapi aku tetap menginginkan kamu" Airin memejamkan matanya lalu menatap datar Alden yang tak melepas pandangannya sedetikpun dari Airin.
"Sudah bukan?" Alden tertegun.
Airin menghempaskan tangan Alden yang masih menggenggamnya, dengan hentakan. "Semua sudah selesai Al, tidak ada yang perlu di pertahankan lagi, dan yang mengikat kita juga sudah tidak ada.."
"Sejak awal aku hanya menjadi wanita penggantimu saja, dan sekarang aku meminta kita untuk menyelesaikan semuanya, ah.. mengenai kontrak kita aku bisa mengembalikan uang yang kamu berikan padaku, sekarang kamu tahu bukan aku ternyata anak orang kaya.." Alden membeku.
"Jika sudah selesai bisakah kamu pergi, kamu sangat menggangguku.."
Airin bangun dan hendak pergi, namun dengan cepat Alden kembali mencegahnya "Apa maksud kamu?"
Alden menggeleng "Kamu kira ini semudah yang kamu ucapkan.."
"Tentu saja mudah!"
"Kamu bisa dengan mudah mencari wanita lain yang kamu inginkan, itu yanv selalu kamu lakukan.."
"Bagaimana jika yang aku inginkan hanya kamu!" Alden mengerang frustasi.
Airin menunduk "Airin kamu bilang kamu mencintaiku bukan, ayo.. ayo kita bersama, aku berjanji akan menjadi pria baik.." Airin mengerjapkan matanya demi menahan air matanya agar tak keluar.
Airin rindu, Airin ingin memeluk Alden, seperti apapun pria itu Airin tetap mencintainya, Airin bersumpah jika pun Alden telah melupakannya kelak, bagi dirinya Alden adalah pria terakhir yang dia cintai, dan mungkin yang ada di hidupnya.
"Aku.. sudah menyerah Al.." Airin berkata dengan lirih, menahan sakit di hatinya semua sudah terlambat apa yang hilang tak bisa kembali, dan satu- satunya cara adalah membuat Alden pergi darinya agar pria itu tetap sempurna. "Aku sudah lelah, bisakah kamu biarkan aku sendiri.."
Alden menggeleng. " Seperti ini kamu bilang mencintaiku, huh!, aku sudah menjelaskan semuanya, aku bahkan memohon dan meminta maaf.. apakah tidak ada lagi kesempatan untukku?"
Airin menghela nafasnya "Selalu ada Al, selalu ada kesempatan, tapi itu tidak bersamaku.."
"Aku harap ini yang terakhir, pergilah dan jangan datang lagi.. "
"Ayo kita mulai kehidupan kita yang baru, kehidupan masing- masing, aku tanpa kamu dan kamu tanpaku.."
__ADS_1
Alden menghela nafasnya "Jika kamu fikir aku akan menyerah kamu salah, bahkan hingga aku mati.. aku tidak akan menyerah."
"Kenapa kamu membuat ini rumit Alden!"
"Kamu yang membuatnya rumit Airin!" Alden berteriak, dia sudah berusaha keras menahan amarahnya sejak tadi, dia tidak akan rela kehilangan Airin, setelah apa yang dia lakukan dia bahkan berusaha tetap waras selama Airin tidak ada dan setelah dia bertemu Airin berkata ini berakhir.
"Kamu egois!" Alden menatap punggung Airin yang pergi bahkan tanpa menoleh, dengan tangan terkepal kuat, Alden menahan dirinya agar tidak lagi menahan Airin pergi, benarkah dia egois, apakah salah jika dia ingin bersama wanita yang dia cintai, bukankah Airin juga mencintainya, bohong jika Airin bilang cintanya sudah hilang, Alden bisa lihat dari mata Airin dan juga merasakan dari kekhawatiran wanita itu saat dia pura- pura pingsan.
"Sudah bukan?" suara Andi menyentak lamunan Alden "Jika sudah selesai pergilah" Alden menghela nafasnya, dia berhasil membujuk Andi untuk memberi nya waktu berbicara dengan Airin, namun hasilnya tetap saja Airin ingin semuanya berakhir.
"Terimakasih atas kesempatannya.."
Andi mengangguk "Aku hanya bisa membantu sekali ini saja, Airin mungkin marah padaku karena ini, tapi aku harap ini setimpal dengan apa yang kau dapatkan"
Alden mendongak "Apa maksudmu?"
"Entah apa yang kau lakukan pada adikku, sejak datang pada kami dia bahkan tidak bicara apapun tentang penderitaannya hidup seorang diri,lalu kami menyaksikan bagaimana dia terpuruk kehilangan bayinya, tapi aku berharap apapun yang adikku pilih kau bisa menghargainya.. dan mulai sekarang dia bisa bahagia"
"Apa yang terjadi dengannya sebenarnya, bagaimana Airin bisa kehilangan bayi kami?"
"Aku tidak dalam kuasa untuk menceritakannya, hanya Airin yang berhak, namun..seperti apapun jika kamu tulus bukankan kamu harus tetap mencintainya.."
Alden di buat bingung, satu- satunya cara adalah Airin mengatakan semuanya, namun bagaimana bisa Alden tahu jika Airin tetap diam.
..
Alden melangkah gontai keluar dari kediaman Airin yang baru, dengan beberapa kali menghela nafasnya dengan berat, dia ingin tetap di sini dan terus meyakinkan Airin bahwa dia tidak menyerah bahkan tak peduli Airin terus menolaknya, namun kesempatannya sudah habis, Andi hanya memberi satu kali kesempatan padanya untuk bicara dengan Airin dan pergi, namun semuanya sia- sia Airin tetap tidak ingin kembali.
Di depan pintu Alden melihat wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Airin, dan tentu saja dia ibu dari Airin.
Wanita itu tersenyum padanya, senyuman yang cantik mirip sekali dengan Airin, sekarang Alden tahu dari mana Airin memiliki kecantikannya, ah.. gadis yang Alden sia- siakan sejak awal dan kini dia menyesal "Terimakasih atas kesempatannya nyonya" Alden mengucapkannya dengan tulus, meski nyatanya usahanya tidak berhasil.
"Cinta itu selalu menerima apa adanya bukan?" Alden tertegun, dan melihat raut wajah nyonya rumah yang murung, namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum
"Aku harap, jika kamu tahu apa yang terjadi dengan Airin, kamu akan tetap mencintainya, dan jangan menyerah untuk meyakinkannya.. namun.. jika kamu memilih pergi, aku harap tidak ada yang tersakiti, terutama Airin.."
"Aku tidak mengerti nyonya, kalian bermain teka- teki Airin memintaku menyerah, pria itu memintaku untuk pergi, lalu kau memintaku untuk bertahan.."
"Karena aku tahu ada cinta yang besar di mata Airin saat dia melihatmu.." ya Alden tahu itu, Airin masih mencintainya.
"Lalu kenapa tidak kau katakan apa yang sebenarnya terjadi nyonya, agar aku mengerti dan mengambil keputusan, apakah akan bertahan atau berhenti!"
...
Like..
Komen..
__ADS_1
Vote..