Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Apakah Itu Cinta?


__ADS_3

"Kamu mengerti kan apa yang saya katakan Airin.."


Airin yang masih terpaku di tempatnya berdiri, hanya mampu mendengar suara nyonya Gres di belakangnya di depan sana Alden sedang berdansa dengan tunangannya terlihat romantis dan manis, posisi keduanya yang merapat membuat semua orang berdecak iri dan ingin seberuntung Cassandra "Aku hanya merasa kamu terlalu kasihan, kamu yang tak tahu apa- apa harus melihat ini.."


"Bagi Alden tak ada yang dinamakan cinta, dia hanya punya obsesi dan ingin kekuasaan.. jika dia harus memilih antara cinta dan kekuasaan tentu saja dia akan memilih kekuasaan.."


Airin menoleh setelah menghapus kasar air matanya "Maafkan aku nyonya, mungkin aku memang menyukai tuan Alden, tapi aku menyadari sesuatu yang memang tak bisa aku raih, jadi anda jangan khawatir.. lagi pula tuan Alden selama ini juga sudah memperingatkan ku, kalau aku tidak boleh jatuh cinta dengannya.."


"Jadi anda tidak perlu khawatir, aku akan pergi saat tuan Alden membuangku.. dan akan aku pastikan aku tidak akan mengganggu tuan Alden lagi"


Gres tercenung, tidak mungkin Alden tidak memiliki perasaan apapun pada Airin, setelah sekian bulan mempertahankan gadis itu, harusnya Airin bisa menarik Alden dan menghancurkan perjodohan ini, dengan begitu dia tidak akan mendapat harta warisan keluarga Barnes.


Gres mendengus gadis tidak berguna, sia- sia dia menghasut Airin nyatanya gadis itu tidak spesial dimata Alden, dan hanya Airin lah yang berharap pada Alden.


"Kalau begitu pergilah lebih dulu, aku tidak tahu kamu lebih dari sekedar tak tahu diri!" Gres beranjak meninggalkan Airin yang semakin terluka, Gres benar Airin tak tahu diri sudah jelas Alden menolaknya tapi tetap saja dia bertahan, lalu untuk apa Alden memintanya untuk terus bersamanya, ah.. tentu saja hanya untuk menjadi pemuas nafsu pria itu..


Saat ini mata Airin tak lepas dari Alden yang baru saja menyelesaikan sesi berdansanya, hingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Alden baru menyadari kalau ada dirinya disana karena terlalu bahagia dengan pertunangannya kah?. benar, untuk apa dia melihat kearah mu Airin.


Alden tertegun sesaat lalu menormalkan rautnya kembali, dalam hati dia mengumpat kenapa ada Airin disana, Alden melihat Airin tersenyum kearahnya, senyum pedih yang penuh dengan rasa sakit, Alden tahu dari air mata yang mengalir di pipi Airin, dan kenapa serasa ada sembilu yang menusuk hatinya saat melihat Airin menangis karena nya.


Alden tau wanita mana yang akan senang melihat pria yang dia cintai bertunangan dengan wanita lain, jadi jelas senyuman Airin adalah senyuman penuh luka.


Alden melihat Airin berbalik dan pergi, Alden ingin mengejar namun kakinya seolah terpaku di tempatnya, ada apa dengannya.


Pesta selesai di tengah malam suasana sudah hening, musik telah di matikan dan para tamu sudah membubarkan diri, kini yang tersisa ada banyak pekerjaan bagi para pelayan, mereka mulai bekerja untuk merapikan semua agar kembali seperti semula, termasuk Airin yang ikut bekerja untuk merapikan semua meja.


Airin bekerja tak peduli teman sesama pelayan lainnya melihat ke arahnya dengan tatapan mengejek, melihat tuan muda mereka melangsungkan pertunangan, membuat mereka berfikir bahwa Airin telah terbuang. Airin tak peduli, dia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera tidur, berharap dia bisa melupakan apa yang terjadi hari ini, tatapan Airin datar dan kosong, di saat orang lain mengerjakan pekerjaannya berkelompok dia hanya sendiri, benar Airin bahkan tak berteman dengan siapapun, terlebih ketika dia menjual dirinya pada Alden pelayan yang lain yang mulanya mendekat mulai menjauhinya.


Alden menghela nafasnya saat melihat Airin masih ada disana, dia kira Airin sudah pulang dan menangis di apartemen.

__ADS_1


Alden berjalan ke arah Airin yang mengacuhkannya, Alden tahu Airin melihatnya dan menyadari jika Alden berada di belakangnya sekarang "Apa yang kau lakukan?" Airin tak menjawab.


"Apa yang kau lakukan Airin!?" Alden mengeraskan rahangnya, terlihat para pelayan melihat ke arah mereka, Alden tak peduli, namun itu akan menjadi semakin buruk untuk Airin.


"Aku sedang bekerja tuan" Airin masih tidak melihat kearah Alden, dan membuat Alden memejamkan matanya untuk menahan amarahnya.


"Ayo pulang!" Airin ingin tertawa, pulang kemana yang Alden maksud, Airin bahkan tak punya rumah, ke apartemen pria itu kah?.


"Anda bisa lebih dulu tuan, aku akan menyusul saat pekerjaanku selesai" Airin menghiraukan Alden dan mendorong troli berisi peralatan yang baru saja dia rapikan dari meja tamu.


Alden semakin tersulut amarah, tahukah Airin bahwa melihatnya mengacuhkannya seperti itu membuatnya marah.


Dengan kasar Alden menarik tangan Airin dan tak pedulikan Airin yang terhunyung untuk menyeimbangkan langkah dengannya, pemandangan itu di saksikan semua pelayan yang terpaku melihat Alden menarik Airin pergi.


Di lantai dua Gres tersenyum smirk "Gadis bodoh itu tak menyadari jika Alden benar- benar menyukainya.. jadi apa yang akan Alden pilih, Airin atau hartanya.."


...


"Apa yang kau lakukan disana Airin, sudah kubilang tunggu aku dirumah!" Alden merasa dirinya kacau, saat melihat Airin terluka lalu kenapa Airin harus datang.


"Aku masih pelayan , jadi aku juga harus ikut membantu.."


Alden meremas rambutnya "Dengar Airin aku bisa jelaskan.." Airin mundur saat Alden mencoba meraihnya, ada apa dengan Alden harusnya dia yang kacau kenapa jadi dia yang terlihat frustasi, apa Alden begitu takut kehilangan wanita pengganti sepertinya "Airin dengar.."


"Tuan.. "


"Jangan panggil aku tuan, panggil namaku seperti kemarin!" desis Alden.


Airin mengangguk "Baiklah Al, aku sama sekali tidak salah faham, karena aku tahu sejak awal aku memang bukan apa- apa untukmu, aku menyadari posisiku, bukankah sejak awal hanya aku yang mencintaimu.. tidak perlu merasa bersalah.."

__ADS_1


"Airin.." tidak bukan itu maksudnya.


"Apa kau sudah lega, bolehkah aku pergi istirahat, aku sangat lelah.." Airin tidak berbohong tubuhnya bahkan hatinya sangat sakit dan lelah, Airin memutar tubuhnya, namun dengan cepat Alden menarik tangannya dan membawa Airin ke pelukannya.


"Bukan, bukan seperti itu.."


Alden menghela nafasnya lalu dengan pelan mulai menceritakan kesepakatannya dengan Barnes, jika Alden ingin seluruh hartanya, dia harus menikah dengan wanita pilihannya, dan Kini Alden harus menepati janjinya.


"Airin, tetaplah bersamaku, bagiku pernikahan ini hanya perjanjian bisnis saja, tidak lebih. Mengertilah aku membutuhkanmu"


"Untuk apa?" Airin mendongak melihat Alden.


"Apa?"


"Untuk memuaskan hasratmu saja bukan, jika begitu kau bisa dengan mudah mendapatkan wanita lain, bahkan calon istrimu, kenapa harus aku ..?"


"Jika aku ingin selalu bersamamu, apakah itu bisa di sebut cinta.. apakah jika aku ingin melindungi mu itu juga cinta? apakah jika aku merasa nyaman denganmu itu bisa di sebut cinta" Airin tertegun.


"Jika benar begitu, apakah aku juga mencintaimu Airin.."


...


Like..


Komen...


Vote...


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2