Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Hukuman


__ADS_3

Airin mengurung diri di kamar bahkan setelah Alden pergi, sepertinya dia benar- benar marah pada Andi yang sudah membiarkan Alden masuk dan bicara padanya, beberapa kali Andi juga mengetuk pintu agar Airin mau keluar dan makan, namun Airin tetap saja bergeming.


"Kamu harus makan, dan meminum obatmu, aku tahu aku salah.. tapi jika kamu tidak bicara apa kamu fikir pria itu akan berhenti!, dengar Airin masalah akan berhenti jika kamu menghadapinya, dan aku rasa dia bukan pria yang mudah menyerah, katakan semuanya.. apa yang terjadi, biar dia yang memutuskan, apa dia akan bertahan atau pergi, bukankah itu yang kamu inginkan.."


"Andi!" Airin mendengar ibunya membentak Andi, lalu setelah itu hening.


Airin juga menyadari, jika ini tidak di selesaikan apakah Alden akan menyerah, jawabannya tentu saja tidak.


Meski pun tetap saja Alden tidak menyerah setelah mereka bicara tadi, Alden bahkan mengatakan akan berjuang hingga dia mati. apa dia harus mengatakan yang sebenarnya agar Alden berhenti, Airin terharu dengan ucapan Alden, namun Airin juga menyadari jika dirinya tak akan bisa masuk ke dalam kehidupan pria itu, ataupun pria lainnya.


Airin menatap ke luar jendela, lagi- lagi Alden kembali datang apa pria itu tidak punya pekerjaan lain, setiap hari Alden datang dan memandang ke arah kamarnya beberapa jam Alden disana lalu pergi.


Esoknya Airin memutuskan keluar dari kamar dan turun menuju meja makan..


"Mom senang kau turun." Airin menipiskan bibirnya beberapa hari Mommynya selalu membawakan dan menyimpan makanan di depan pintu agar Airin mau makan.


"Maaf merepotkan.." Airin menunduk dia sudah terlalu lama diam dan membiarkan semua kesedihan berlarut dalam dirinya, namun hari ini Airin sudah bertekad akan menyelesaikan semuanya dan memulai hidup baru.


"Alden adalah ayah dari bayiku.." Mommy Airin tertegun begitupun Andi yang menghentikan langkahnya saat akan menghampiri mereka di meja makan.


"Awalnya aku bekerja sebagai pelayan di rumahnya hingga..." Airin mulai bercerita membuka semua luka dan kesedihannya.


Andi yang awalnya akan pergi ke rumah sakit pun ikut mendengarkan cerita Airin, adiknya itu menyimpan semuanya sejak datang dan kini mulai berbicara.


Airin melihat mommynya menangis "Maaf membuat kalian khawatir, aku hanya belum siap mengatakannya, tapi mulai sekarang aku akan memulai semuanya dari awal, aku berjanji akan melupakan semuanya.. Ah.. ternyata melegakan mengatakan semuanya.." Airin tersenyum menghela nafasnya sedangkan Andi menatap adik kembarnya nanar, ternyata lebih dari yang mereka fikirkan hidup Airin sungguh berat selama ini, bahkan menjual dirinya hanya demi uang sedangkan dia bisa menikmati gelimangan harta sejak kecil, makin besarlah rasa bersalahnya.


Andi melihat Mommynya yang mengusap air matanya"Maafkan Mom, harusnya Mom berusaha lebih keras agar bisa pergi membawa kalian berdua.."


Airin menggeleng "Aku tidak menyesal dengan pertemuanku dan Alden, dari semua kesedihanku, aku paling bersyukur bertemu dangan Alden.. dia mencintaiku meski awalnya aku merasa sudah tertipu namun kini aku tahu perasaannya padaku benar- benar tulus.."


"Lalu kenapa kamu tidak kembali padanya, bukankah dia bahkan tidak menyerah hingga sekarang, Mom bisa lihat dia pria yang baik.."


Airin kembali menggeleng "Aku tidak layak untuknya.."

__ADS_1


Andi mendengus "Dengar Airin, jika dia mencintaimu dia akan menerimamu dan semua kekuranganmu, namun jika dia memilih pergi itu artinya dia tidak pernah tulus, maka bersyukurlah dia meninggalkan mu, karena aku yakin masih ada pria di luar sana yang di ciptakan tuhan untukmu, dan yang pasti lebih baik.." Airin tersenyum Andi benar, harusnya dia bersyukur atas semua yang terjadi padanya, tidak masalah jika tidak ada pria yang menginginkannya lagi pula Airin juga tidak berencana untuk menikah.


"Karena itu aku akan bicara padanya, dan mengatakan semuanya.."


"Perlu aku temani.."


Airin menggeleng, dengan senyuman "Tidak.."


"Ayo aku tidak keberatan mengambil cuti, aku akan langsung memberikannya tinjuku jika pria itu benar- benar meninggalkanmu"


Airin terkekeh "Dan aku akan mencegahmu.." Lagi pula itu tujuannya, membuat Alden pergi dan memulai hidupnya yang baru.


"Aku juga sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku, apakah penawaran Mom masih berlaku?"


"Tentu, mom senang kamu mau pergi, dan Mom harap setelah ini kamu bisa memulainya dari awal, lupakan semuanya.. dan teruslah bahagia mulai sekarang."


..


Alden menegakkan tubuhnya saat melihat Airin keluar dari pintu, dia tidak menyangka akan melihat Airin pagi ini, Airin terlihat cantik hari ini, badannya yang tirus kini sedikit berisi mungkin kondisinya juga sudah membaik. Alden melihat Airin mengenakan mantel tebal selutut dan sepatu bot yang akan membuat kakinya hangat, apa dia akan pergi, kemana? dengan siapa?.


Alden melihat Airin di sebelahnya yang masih terdiam, dia tidak menyangka Airin akan berada di sebelahnya dia ingin menggenggam tangan Airin sepanjang perjalanan namun dia tak ingin membuat Airin marah dan memintanya menghentikan mobilnya.


Perjalanan yang Alden tempuh untuk melihat Airin lumayan jauh dari rumahnya, membutuhkan waktu dua sampai tiga jam dan bahkan selama tiga hari ini Alden datang dia hanya melihat jendela kamar Airin saja, dan sekarang akhirnya Airin ingin bicara, sejak terakhir kali mereka bicara tanpa ada titik terang, dan Alden harap hari ini mereka bisa menyelesaikan semuanya.


"Berhenti.."


"Apa?!" Alden refleks menghentikan mobilnya, Alden mengerjapkan matanya sejak tadi dia melamun dan terus menatap Airin dan Airin memintanya berhenti, apa Airin marah.


"Berhenti di sini saja.." Airin melepas sabuk pengamannya, dan keluar dari mobil.


Alden melihat sekitarnya mereka ada di sebuah taman tak jauh dari rumah Airin, lalu turun dan mengikuti Airin.


Alden mengikuti langkah Airin yang berjalan di depannya mereka hanya berjarak empat langkah dan Alden tak mengalihkan tatapannya dari punggung Airin, Alden gatal ingin menggenggam tangan Airin yang menggantung di sisi tubuhnya, Alden menyadari betapa sedikitnya waktu yang Alden habiskan dengan berjalan dan menggandeng tangan Airin, kegiatan mereka bahkan lebih banyak di habiskan di atas ranjang. Mereka terus berjalan hingga Airin mendudukan dirinya di kursi taman dan Alden duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Hari itu, aku sedang duduk disini.." Airin membuka suaranya setelah mereka berdiam sekitar sepuluh menit, dan Alden tidak keberatan hanya duduk diam dengan waktu yang lama asal itu dengan Airin.


Alden menatap lekat Airin yang memandang jauh kedepan.


"Seperti ibu hamil pada umumnya aku ingin jalan- jalan, berjalan kaki di taman tanpa alas kaki dan menginjak rumput basah dan kerikil kecil, katanya itu bisa memudahkan kita saat proses melahirkan.." tatapan Airin jatuh pada ibu hamil yang di gandeng suaminya untuk berjalan- jalan, lalu Airin menunduk.


Semua yang Airin lakukan tak lepas dari tatapan Alden, Alden tahu Airin merasa sedih karena kehilangan bayinya, begitupun dirinya, tapi bukankah itu masih bisa mereka peroleh lagi nanti, dan tentu saja akan lebih bagus jika bayi mereka ada setelah mereka menikah.


"Tidak masalah, kita masih bisa mendapatkan nya kembali setelah menikah.." Alden meyakinkan meski Airin belum memutuskan untuk kembali atau tidak tapi Alden tidak akan menyerah.


Airin tersenyum miris, lalu menggeleng "Semua yang sudah tidak ada, tidak bisa kembali.."


"Aku yang egois, dan tidak memikirkan diriku sendiri yang sudah memilihnya, aku yang bersalah hingga kehilangan bayi kita dan aku juga yang mendapat hukumannya.." Alden mengeryit.


"Hari itu aku melihat anak kecil berdiri di tengah jalan, dan tanpa berfikir panjang aku berlari kearahnya saat melihat sebuah mobil melaju kencang.. entah apa yang ada di otakku hingga aku tidak memikirkan keadaanku dan bayiku selanjutnya, yang ada hanya aku harus menyelamatkannya karena aku yang ada di sana dan melihatnya.."


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, setelah mobil tersebut menghantamku, yang kurasa hanya rasa sakit di sekujur tubuhku, hingga aku terbangun di rumah sakit.." Alden tahu sekarang, karena itulah Airin kehilangan bayinya.


Alden menggengam tangan Airin, dan menelan ludahnya kasar "Kau pasti kecewa karena aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik.. demi menyelamatkan orang lain aku membunuh bayiku sendiri.."Alden menggeleng saat melihat Airin menangis.


"Tidak, kamu wanita yang berhati mulia.. kamu melakukan hal yang benar.." meski dengan begitu mereka kehilangan bayi mereka.


"Sudah ku bilang kita bisa memulai kembali dari awal..dan.." Ucapan Alden terhenti saat Airin melepaskan genggamannya.


"Tidak bisa, sudah kubilang semua yang sudah tiada, tidak akan bisa kembali.. "


"Aku bukan wanita yang sempurna Alden, selamanya aku tidak akan bisa mengandung lagi, dan tidak akan bisa memberimu bayi lagi.."


"Maka lupakan aku Alden, kamu akan mendapat wanita lainnya yang bisa memberimu kebahagiaan yang sempurna.."


...


Like..

__ADS_1


Komen...


Vote...


__ADS_2