Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Pertengkaran


__ADS_3

"Airin kemari.." Louise memanggil Airin yang baru saja akan pergi dari dapur dan membawa air minum.


Louise dengan yang lainnya sedang berbincang di kolam renang, sebagian bahkan sedang berenang, termasuk Alden, dinding kaca yang mengarah ke kolam membuat Louise bisa melihat Airin dari luar.


Alden melihat ke arah Airin lalu dalam sekejap memalingkan wajahnya kembali, bayangan wajah Airin yang menangis membuat Alden terganggu, hingga semalam Alden menghindar dari Airin.


Airin menipiskan bibirnya, sejak semalam Alden tidak menemuinya entah karena apa, namun itu bagus bukan untuknya, dia harusnya bisa tidur nyenyak tanpa gangguan namun yang terjadi Airin tak bisa memejam sama sekali, bayangan Alden menghabiskan malam dengan wanita lain membuatnya sesak, bukankah harusnya dia tak memiliki perasaan itu.


"Ayo berjemur disini bersama kami" Airin tersenyum dia masih dengan piyamanya, dia tahu harusnya dia mandi lebih dulu, namun Airin merasa haus dan saat bangun dari tidur, dia tak menemukan airnya di atas nakas.


Di saat orang lain sudah bangun dan berenang, dia baru bangun karena semalaman tak bisa memejam, menanamkan berbagai macam sugesti barulah Airin dapat memejamkan matanya, untuk pertama kalinya Airin bahkan lupa dengan neneknya yang akan melakukan operasi lusa.


"Kau baru bangun?" Airin meringis.


"Ya.."


"Kau aneh, bahkan Alden tak menghabiskan malam denganmu, tapi kau masih saja terlambat" Salah satu dari wanita bicara dengan sinis, hingga Airin hanya mampu menghela nafasnya.


"Memangnya harus apa?" Louise membela Airin "Kau jangan dengarkan dia, kita di sini untuk liburan jadi manfaatkan waktumu" Airin hanya mampu tersenyum, beruntung ada Louse yang membelanya.


Namun tak semua orang menyukainya seperti Louise, orang itu berkata dengan sinis "Ya, bukan berarti kau juga harus turun dengan piyama mu, bukankah kau terlalu tidak sopan.."


"Aku tahu, maafkan aku.. aku memang baru bangun, dan pergi ke dapur untuk air minum.. jika begitu aku pergi mandi dulu.." Airin akan bangun, namun Louise mencegahnya.


"Tidak usah dengarkan mereka, mereka hanya iri padamu karena meski bangun tidur wajahmu tetap cantik" Louise menunjuk wajah Airin yang polos tanpa make up.


Sepanjang pembicaraan para wanita Alden mendengarkan, dan Alden juga mengakui perkataan Louise, Airin memang cantik, bahkan lebih cantik saat gadis itu tidak bersolek.. ah tidak bukan gadis, Airin sudah menjadi wanita seutuhnya, dan dirinyalah yang merubahnya.


Penampilan Airin yang hanya memakai piyama saja sudah menggungah, bahkan itu hanya piyama dua potong dengan lengan dan celana panjang yang longgar, tapi kenapa Alden menyukainya.


"Aku tidak merasa begitu.." Airin tersenyum malu, harusnya dia memang mandi dulu dan mengabaikan minum nya. "Jika begitu aku pergi dulu.." Airin akan pergi kali ini namun seseorang menghalanginya.


Airin mengerut saat melihat tatapan sinis dari wanita di depannya "Kamu sombong sekali ya" tatapan wanita itu begitu menusuk Airin bahkan dia memperhatikan Airin dari ujung rambut hingga kaki.

__ADS_1


"Rose.. apa yang kau lakukan" Louise yang ada di belakang Airin angkat bicara.


"Aku hanya memperingatkannya, jika dia tak boleh seenaknya, posisi kita disini sama kita ini wanita panggilan.." wanita bernama Rose itu menatap semakin tajam.


Airin menggenggam tangannya erat, dia tahu statusnya kini, tapi tak perlu diingatkan seperti sekarang, karena dia juga tahu posisinya "Apa perkataanku menyinggungmu?"


"Kamu, berlaku seenaknya disini"


"Di bagian mana aku berlaku seenaknya"


"Kamu selalu bangun siang.. dan membiarkan kami menunggu untuk sarapan.."


Airin tercenung, "Maaf untuk itu, tapi kenapa kalian harus menungguku" Airin berkata dengan pelan, intonasinya memelan, benarkah mereka selalu menunggunya untuk sarapan.


"Jangan mentang- mentang kau punya perhatian lebih dari Alden kau besar kepala.."


"Kenapa membawa tuan Alden, dan juga aku sudah minta maaf bukan.. kurasa bukan aku yang sombong, tapi kau" Airin mendongak, kenapa dengan wanita di depannya ini, Airin sudah mengaku salah, tapi kenapa dia terus menyerangnya.


"Rose!" Louise masih berusaha memperingatkan Rose, Alden sejak tadi memang tidak memperhatikan, namun Louise tahu Alden mendengar semua ucapan Rose.


Airin yang tidak siap pun tak bisa menghindar, dan merasakan kulit kepalanya, serasa akan lepas saking kuatnya Rose menarik rambunya.


Louise mencoba memisahnya namun karena pegangan Rose di rambut Airin begitu kencang, Louse mendorong Rose, namun sebelah tangannya lagi mendorong Airin, hingga akhirnya Airin terlepas, dan Airin terdorong kebelakang, dengan posisi yang tak seimbang akhirnya Airin jatuh ke kolam renang.


Byurr..


Suara Air menyentak Alden, akhirnya Alden melihat ke arah Airin yang terjatuh ke dalam air, lalu suara Louise menjerit menyadarkannya.


"Astaga, Airin!!"


Lalu kata-kata Airin saat di pantai terngiang di kepala Alden "Aku tidak bisa berenang.." menyingkirkan wanita di sisinya, Alden berenang ke arah dimana Airin terus menggapai dengan tangan berusaha melawan air yang akan menenggelamkan nya.


Jantung Alden berdegup kencang saat berhasil meraih Airin dan membawanya ke tepi kolam.

__ADS_1


Airin terbatuk dengan nafas yang sesak, dia terus meraup udara sebanyak yang dia bisa.


Alden menghela nafasnya saat melihat Airin baik-baik saja, lalu melihat ke arah para wanita yang terpaku dengan apa yang baru saja terjadi "Apa kalian sudah gila!" teriaknya.


"Apa kau akan membunuh orang, dan merusak liburanku!" Alden menatap tajam Rose, yang menunduk takut "Brengsek, jika kalian tidak suka berada di sini kenapa harus menyanggupi untuk ikut, merepotkan!"


Alden mencoba meredakan amarahnya dengan mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa dia begitu takut saat melihat Airin jatuh dan hampir tenggelam.


Alden menunduk lalu meraih tubuh Airin dan membawa tubuh lemas Airin ke dalam rumah.


Ben dan Roland juga ada disana, dan melihat semuanya mereka saling melirik lalu Ben tersenyum penuh arti "Sepertinya, Alden menyukai nya"


"Kau yakin?"


"Kau memang tak bisa melihatnya, tapi aku tahu" Ben berkata dengan bangga.


"Kau berkata seolah sudah pengalaman dalam perasaan" Ben mencebik mereka memang belum pernah terikat dalam suatu hubungan, karena mereka suka kebebasan, jika bertanya pada salah satu dari mereka 'Apa itu cinta' jawaban mereka adalah 'tidak peduli', bahkan Alden pun yang pernah merasakan jatuh cinta, masih buta.. dan tak tahu apa itu cinta karena bahkan cintanya berakhir pengkhianatan.


"Mau bertaruh" Ben menyodorkan tangannya.


"Dan taruhannya?"


"Bagaimana jika yang kalah harus berjalan jongkok dengan tangan di kepala dari lobi kantor hingga tiba di ruangan kita" Roland mendengus.


"Setuju!"


...


Alden merebahkan Airin di atas ranjang, tanpa peduli wajah Airin yang memerah Alden melepas pakaian Airin satu persatu, "Ak..ku bisa.. melakukannya" Airin berusaha mencegah namun Alden tidak hiraukan, Alden menyelesaikannya sendiri lalu menggambil pakaian dari dalam lemari dan memakaikannya pada Airin.


Setiap gerakan yang Alden lakukan dia lakukan dengan lembut dan hati- hati, hingga Airin merasakan perasaannya menghangat, Airin tahu dia harusnya tak merasakan ini, tapi dia tak bisa mencegah hatinya untuk jatuh, melihat raut Alden yang begitu mengkhawatirkannya, membuatnya tertegun, bahkan dia seperti orang bodoh yang hanya diam.


Selesai dengan pekerjaannya Alden menghela nafasnya, lalu menunduk di depan Airin, masih dengan celana renangnya, Alden bahkan tak hiraukan tubuhnya yang basah.

__ADS_1


Airin semakin tercenung saat tangan Alden mengusap pipinya, lalu dengan lembut berkata..


"Kau baik- baik saja? apa kau kedinginan? bagaimana dengan nafasmu, kau merasakan sesak?""


__ADS_2