Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Hiduplah Bahagia


__ADS_3

Airin menutup mulutnya saat mendapati fakta bahwa nyonya Gres adalah kekasih Alden dulu, pantas saja nyonya Gres sangat marah hingga berniat memecatnya karena sudah berani menjadi wanita Alden.


Airin tidak sengaja mendengarnya saat masuk, dia berniat untuk mengucapkan terimakasih pada Alden atas bantuannya pada operasi neneknya.


Namun saat masuk dia tak mendapati Alden, begitu dia mendengar suara dari walk in closet, Airin menghampiri, dan terkejut dengan pembicaraan antara Alden dan nyonya Gres.


"Setidaknya jika kamu disini aku masih bisa melihatmu, meski tak bisa memiliki kamu.. Al cintaku tidak pernah hilang, jika aku tidak bisa memiliki kamu, aku ingin selalu bisa melihat kamu"


Alden mendengus "Kau lupa posisimu Gres, kau istri si tua Barnes, kau fikir apa yang akan dia lakukan jika dia tahu kau masih menemui aku, dan berkata bahwa kau masih mencintaiku!"


Gres tertegun, sedangkan Alden menyeringai lalu berbisik "Kau akan habis di tangannya"


"Al, aku.. aku tidak akan melanggar batasanku, tapi bisakah kamu tetap disini.."


Alden semakin mendengus "Pergi dari sini!"


Gres menatap nanar Alden lalu pergi, Airin mengkerut di belakang pintu saat Gres keluar dari walk in closet lalu keluar kamar Alden, hingga saat pintu kamar Alden tertutup Airin menghela nafasnya lega.


"Keluarlah, kau menguping disana!" Jantung Airin berdegup kencang saat Alden berseru.


"Aku melihat mu Airin.." Alden memang melihat Airin di belakang pintunya, dari seragam yang mengintip di celah pintu, meski dia tak yakin, namun pelayan lain tidak akan berani menguping pembicaraan.


"Aku tidak bermaksud menguping... tuan" Airin keluar dari balik pintu "Aku .. datang hanya..hanya.." Airin mundur saat Alden berjalan mendekat, Alden yang baru saja mandi menguarkan aroma semerbak dari sabun yang memang khas untuknya, dada bidang berbalut kemeja yang belum terkancing sepenuhnya, membuat jantung Airin seperti meloncat- loncat.


Belum lagi rambut Alden yang terlihat belum disisir membuat Alden lebih tampan,


"Hanya apa?" tatapan tajam Alden layangkan membuat Airin semakin tergagap.


"Aku.. aku ingin mengucapakan terimakasih.." Alden mengerutkan keningnya.


"Terimakasih atas bantuanmu untuk operasi nenekku.. terimakasih banyak tuan!" Airin menunduk sedangkan Alden tertegun, mendengar ucapan Airin.


"Aish.. benar- benar manusia tidak bisa di percaya.." dengusnya.


"Aku tidak sengaja mendengarnya dari suster tuan.." Airin tahu Alden pasti mengira dokter atau suster memberi tahunya. "Baiklah.. aku.. aku pergi dulu tuan.." Airin ingin segera pergi, karena sumpah demi apapun Airin tidak bisa mengontrol detak jantungnya saat jarak sedekat ini dengan Alden, Airin tak mengerti bukankah harusnya dia terbiasa dengan Alden bahkan mereka sudah sering melakukan hal yang lebih intim, bertukar peluh bahkan bertukar kenikma.., Airin menggeleng mengenyahkan fikiran mesumnya, kenapa harus datang disaat seperti ini.


"Rupanya kau memang suka menguping ya!"


Airin meringis, lalu membalik tubuhnya "Itu.. aku sudah bilang kalau aku tidak sengaja tuan.. sungguh!" Airin mengangkat tangannya bahwa di bersumpah.


Alden menyeringai "Lalu.. apa yang kau tau.."


"Aku.. " Alden mengangkat alisnya "Maafkan aku tuan.. aku tidak sengaja"

__ADS_1


"Apa yang kau dengar?"


Airin memejamkan matanya "Aku tidak sengaja dengar kalau nyonya Gres kekasihmu.."


Alden menyentil kepala Airin "Mantan.."


Airin mengerjap "Mantan?"


Alden mengangguk "Dan jangan coba menyebarkan gosip!" Airin mengangguk lalu menutup mulutnya. "Lalu.. mengenai terimakasih yang kau ucapkan.." Airin mendongak. "Seharusnya aku mendapatkan lebih bukan?"


Airin membelalakan matanya saat Alden meraih pinggangnya dan mendekat ke arahnya.


....


Airin tersenyum bahagia saat melihat neneknya terbangun "Ai.."


"Nenek.." Airin mencium tangan neneknya "Akhirnya nenek bangun.."


Nenek Airin tersenyum melihat cucu yang paling dia sayangi ada di dekatnya.


...


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan nenek Airin kini sudah mulai membaik dan beruntungnya Airin saat ini bekerja di apartemen Alden, hingga di saat Alden tidak di rumah dia dengan leluasa menemani neneknya, terlebih Alden jarang pulang ke apartemennya.


Louise benar jika dia bisa menyenangkan Alden maka Alden akan mengabulkan semua permintaannya, dan Airin selalu berusaha menyenangkan Alden agar dia bisa menemani sang nenek bahkan menginap dirumah sakit.


Alden pun tidak pernah keberatan dengan itu, lagi pula sudah beberapa hari ini juga Alden tidak pulang.


"Kamu pasti bekerja sangat keras untuk biaya operasi nenek.." sudah satu minggu neneknya sadar, dan keadaannya semakin membaik.


Airin tersenyum "Aku bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga kaya nenek, dan mereka membantuku untuk biaya operasi nenek" tentu saja tidak gratis.. lanjutnya dalam hati, dia bahkan harus melayani tuannya kapanpun dibutuhkan.


Airin tersenyum saat neneknya mengelus rambutnya "Kamu sudah banyak menderita, sekarang saatnya kamu bahagia, nak. Jangan terlalu keras bekerja.. jalani hidup kamu, pastikan kamu bahagia dan.. memiliki suami yang akan sangat mencintai kamu.."


Airin tersenyum haru lalu mengangguk, meski dia ragu apakah akan ada pria yang menikah dengan wanita sepertinya, yang sudah kehilangan hal berharga, bahkan menjualnya demi uang "Maaf sudah menjadi beban kamu, mulai sekarang nenek berjanji tidak akan membebani kamu lagi.."


Airin menggeleng "Nenek berkata seolah akan meninggalkan aku.."


Nenek Airin tersenyum "Nenek tidak akan pergi dan selalu bersama kamu, namun kamu harus berjanji hiduplah dengan mengikuti kebahagiaan ikuti kata hati.. mulai sekarang kamu harus meraih kebahagiaan kamu!"


Airin mengangguk "Tidak ada gunanya bekerja keras jika kamu tidak bisa bahagia.." Airin memeluk neneknya.


"Wah luar biasa jika nenek terus bahagia besok pasti boleh pulang" suster masuk untuk mengontrol keadaan nenek Airin.

__ADS_1


"Benarkah Aku boleh pulang?" Nenek Airin tersenyum ke arah suster "Aku sudah tidak sabar ingin pulang"


"Tentu saja, maka pastikan nenek selalu bahagia agar kondisinya semakin membaik" Nenek tertawa.


"Ai.. bolehkan nenek minta tolong belikan nenek kue tart kesukaanmu, kau punya uang?"


"Nenek ingin membagikannya pada semua suster di rumah sakit karena sudah menjaga nenek dengan baik" Airin tersenyum.


"Baiklah.." namun Airin melihat neneknya menatapnya "Haruskah aku pergi sekarang?"


Nenek Airin mendengus "Baiklah aku pergi" Airin tersenyum "Suster bisa kah jaga nenekku sebentar?"


"Tentu saja dia akan menjaga nenek, karena jika tidak dia tidak akan kebagian kuenya" nenek Airin mencebik "Kau susah sekali di suruh orang tua"


"Pergilah Airin aku tidak sabar ingin tahu rasa kue kesukaanmu!" Suster tertawa kecil, sedangkan Airin pergi keluar kamar.


Nenek Airin melihat punggung Airin yang sudah tertelan pintu, lalu berkata pada suster yang berdiri di sebelahnya.


"Suster bisakah aku meminta pena dan kertas?"


.


.


.


Setelah setengah jam mengantri Airin tiba di rumah sakit, beruntung toko kuenya tidak jauh dari rumah sakit hanya menempuh perjalanan setengah jam dia sudah kembali.


Airin tersenyum saat mendapatkan kue yang dia dan neneknya sukai, dulu karena harganya mahal mereka hanya akan membeli saat ulang tahunnya saja, namun kini saldo tabungan Airin menumpuk karena bekerja menyenangkan Alden.


Jadi dia bisa membeli kue itu kapanpun neneknya inginkan.


Airin menghentikan langkahnya sesaat ketika melihat dokter yang tergesa masuk ke ruangan neneknya, lalu berlari dengan cepat.


Airin terpaku, seluruh tubuhnya bergetar, kue di tangannya terjatuh begitu saja saat mendengar perkataan dokter.


"Pasien mengalami serangan jantung!"


....


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2