
"Apa yang terjadi dengan nenekku" Airin menerobos masuk.
"Suster apa yang terjadi? bukankah tadi saat aku pergi Nenek ku baik- baik saja" Airin bertanya pada suster yang menjaga neneknya, Air matanya mengalir, dia bergetar takut apa yang akan terjadi dengan neneknya.
Suster menghela nafasnya "Pasien mengalami serangan jantung mendadak saat akan ke kamar mandi."
"Maafkan kami, kami sudah berusaha" seorang dokter menunduk dia sudah berusaha melakukan kejut jantung agar mengembalikan denyut jantungnya nenek Airin.
Airin menutup mulutnya dengan gelengan kepala "Tidak.. suster tadi lihat bukan nenekku baik- baik saja.." Airin menggeleng tidak percaya, semua terjadi begitu cepat dia hanya pergi sekitar 1,5 jam saja dan sekarang neneknya telah tiada "Nenek.. nenek.. ada apa denganmu bukankah nenek berjanji akan selalu bersamaku, nenek buka matamu kumohon!"
Airin mengguncang tubuh neneknya yang sudah tak bernyawa.
Airin menangis meraung meminta neneknya untuk kembali namun tentang nyawa manusia siapa yang tahu kapan akan tiada, Airin sudah berusaha melakukan segala hal bahkan menjual dirinya agar mendapatkan uang untuk biaya operasi neneknya.
Tapi Tuhan tetap mengambil nyawa neneknya.
.
.
.
"Airin nenekmu memintaku memberikan ini padamu, saat kamu pergi tadi.. mungkin beliau sudah tahu kapan beliau akan pergi" Airin menoleh ke arah suster yang tadi menjaga neneknya suster tersebut menyodorkan sebuah kertas yang terlipat.
Tangan Airin yang bergetar mengambilnya lalu memeluk kertas itu erat, Airin masih terus menangis dan menatap neneknya yang sudah terbaring rapi di dalam peti.
"Maafkan kami, Airin kami sudah berusaha.." sesal sang suster, dia tahu bagaimana Airin berjuang untuk operasi neneknya, meski dia tak ingin ikut campur dari mana Airin dapat uang banyak dalam waktu singkat.
__ADS_1
"Aku tahu.." Airin berkata dengan lirihan, dia tahu dokter sudah berusaha, dokter bahkan sudah mengatakan bahwa neneknya sendirilah yang sudah menyerah, apakah neneknya bangun hanya untuk berpamitan.
Airin menjatuhkan kembali air matanya.
"Airin kita bisa mulai pemakamannya, hari akan hujan" Airin melihat langit sudah gelap, entah menunggu siapa Airin hanya terdiam, semua tetangga sudah datang mengucapkan bela sungkawa, hanya beberapa saja. Airin bahkan tak perlu repot menunggu sanak keluarga, karena mereka hanya hidup berdua saja.
Airin mengangguk dan peti pun di bawa ke tempat peristirahatan terakhir sang nenek.
.
.
Airin masih duduk di sana di depan tanah merah yang telah menenggelamkan neneknya, semua orang sudah pergi hanya ada Airin yang terduduk lesu di depan makam neneknya.
Dari kejauhan Alden turun dari mobilnya dengan stelan hitam, hujan yang deras tak menghalanginya untuk menuju seorang wanita yang masih terduduk menatap gundukan tanah di depannya.
Alden terenyuh..
Entah perasaan apa yang dia rasakan, namun dia hanya ingin menemui Airin.
"Sepertinya aku terlambat" Alden berjongkok sedangkan Airin mendongak melihat Alden dengan payung hitam di tangannya.
"Gadis cantik tidak baik terus duduk di pemakaman apalagi hanya sendiri.." Alden menggerling ke arah Airin. "Kau tahu di pemakaman biasanya banyak mahluk.."
"Tuan, kau sungguh tidak sopan di depan nenekku.." Alden terkekeh, lalu matanya beralih melihat makam nenek Airin.
"Maafkan aku baru datang, tidurlah dengan tenang aku akan menjaga cucumu dengan baik" Alden mengangguk hormat ke arah makam nenek Airin, perkataannya benar bukan?, selama Airin bersamanya dia akan menjaga Airin, setidaknya hingga kontraknya selesai.
__ADS_1
Airin terpaku dengan ucapan dari mulut Alden, bagaimana bisa Alden mengucapkan itu, janji di depan orang mati tidak boleh di jadikan lelucon.
Namun saat Airin melihat Alden yang berwajah serius, membuatnya tertegun benarkah Alden akan selalu menjaganya, bukankah itu berarti dia harus selalu berada di sisinya.
Airin tak berhenti menatap Alden, dia bahkan tak berkedip saat pria tampan itu menunduk hormat di makam neneknya.
"Kamu sudah banyak menderita, sekarang saatnya kamu bahagia, nak. Jangan terlalu keras bekerja.. jalani hidup kamu, pastikan kamu bahagia.." Pada saat ini perkataan sang nenek terngiang di telinga nya.
"Nenek tidak akan pergi dan selalu bersama kamu, namun kamu harus berjanji hiduplah dengan mengikuti kebahagiaan, ikuti kata hati.. mulai sekarang kamu harus meraih kebahagiaan kamu!"
Airin masih belum mengalihkan pandangannya, hingga Alden menoleh "Ayo pulang.." sebelah tangan Alden menggenggam tangan Airin, bahkan Airin tak bisa berkata hanya mengikuti Alden untuk berdiri.
Mata Airin seolah terbius oleh Alden, dan hanya menatap tautan tangan mereka, lalu tersenyum, benar sudah saatnya Airin mengikuti kata hatinya, entah itu akan berakhir buruk, namun Airin sudah tak peduli, dia hanya akan mengikuti kata hatinya.
Dan kata hatinya mengatakan bahwa dia ingin bersama Alden, meski waktunya hanya sebentar setidaknya dia bisa merasakan hidup bersama pria yang dia cintai.
Ya.. sepertinya Airin tak bisa terus bersembunyi, dan menyembunyikannya perasaannya dia sudah jatuh cinta, jika kemarin dia masih bisa menyembunyikan perasaannya kali ini Airin tidak akan lagi..
Bolehkah dia berjuang agar Alden hanya melihat kearahnya, lalu menjadi miliknya dan bukan hanya sekedar wanita pengganti..
...
Like..
Komen..
Vote..
__ADS_1