
"Jika benar begitu, apakah aku juga mencintaimu Airin.."
"Tetaplah bersamaku Airin.."
"Sampai kapan?"
"Selamanya.."
Airin terkekeh "Kamu bercanda Alden, aku akan selamanya menjadi wanita pengganti begitu..? bahkan hingga kamu menikah?" Alden menggeleng.
"Percayalah padaku Airin.. aku mencintai kamu, apa itu belum cukup?"
"Aku akan lakukan apapun untuk terus bersama kamu, cukup percaya padaku.." Alden memelas untuk pertama kalinya dia memohon pada seorang wanita dan itu Airin.
Airin memejamkan matanya, Airin sakit hati dan terluka, tapi dia ingin selalu bersama pria brengsek ini.
Dia mungkin bodoh, tapi bukankah Alden sudah mencintainya sekarang, namun Airin juga bukan orang tolol yang ingin terus bersembunyi sebagai simpanan.
"Baiklah.." Alden memeluk Airin.
"Terimakasih, aku berjanji ini tidak akan lama" Alden akan pastikan Airin yang akan selalu bersamanya, bukan wanita lain.
Airin lelah dia hanya mengiyakan saja, Airin ingin melihat apa yang akan Alden pilih cinta atau harta, seperti kata Nyonya Gres.. baru setelah itu dia akan putuskan apakah akan bertahan atau menyerah.
.
.
Airin ingin tidak percaya dengan apa yang Alden katakan, namun Alden benar- benar membuktikan padanya, dan bersikap layaknya seorang kekasih, Alden memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian, mereka bahkan sudah tinggal di kamar yang sama sekarang.
Hanya satu yang masih membuat Airin ragu, dia masih tersembunyi, dan Alden benar- benar menyembunyikannya dari dunia, dengan dirinya yang masih menjadi simpanan dan Alden yang berstatus tunangan Casandra.
Bahkan tak jarang pria itu muncul di televisi dengan Cassandra di gandengannya, namun entah mengapa Airin hanya diam dan tetap tinggal. di saat pulang pria itu akan bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun diluar sana, tidak mungkinkan Alden tidak tahu tentang semua berita- berita itu.
"Airin..?" Airin mendongak dan melihat Alden sudah berdiri di depannya "Kamu melamun?" Airin menggeleng. "Apa yang kau fikirkan?" Alden mendudukan dirinya disebelah Airin.
"Tidak ada.. Hmm Alden aku akan pergi.."
"Apa?!" Airin berjengit saat Alden berteriak.
__ADS_1
"Kau tidak boleh pergi kemanapun, kau harus tetap bersamaku!"
"Ada apa denganmu?" Airin mengerutkan keningnya.
"Apa aku juga tidak boleh keluar rumah?" Alden mengerjap lalu menghela nafasnya.
"Maaf aku kira, kau akan pergi meninggalkan ku seperti Anna yang meninggalkan Roland tanpa pamit.."
"Anna pergi?" Alden mengangguk
"Kau tahu Roland sekacau apa sekarang, aku tidak mau kau juga pergi.." Alden menenggelamkan dirinya di tubuh Airin, mengingat Roland yang mengerikan di tinggal Anna membuat Alden ketakutan apa yang terjadi jika Airin pergi.
Airin tercenung, apa Alden setakut itu dia pergi "Aku hanya akan pergi untuk berbelanja.."
"Tentu pergilah" Alden masih tidak bergerak dari pelukannya.
"Alden..?"
"Hmm..?"
"Jika antara aku dan harta keluargamu, kau akan memilih apa?" Airin merasakan tubuh Alden menegang, dan membutuhkan beberapa detik hingga Alden berkata..
"Airin kamu tidak percaya padaku?" Airin menipiskan bibirnya ini bukan jawaban yang dia inginkan..
Alden tahu Airin masih ragu namun Alden juga tidak bisa memberitahu rencananya.
Alden tidak akan miskin hanya dengan merelakan harta warisannya, dia bahkan sudah punya perusahaan miliknya yang dikelola bersama Roland dan Ben, hanya saja dia tidak rela jika semua hartanya jatuh ke tangan yang salah, seperti Gres.
"Mau aku antar..?" Airin telah bersiap dan Alden masih menunggunya.
"Kamu tidak pergi hari ini?" Airin memasukan dompet ke dalam tas kecil lalu menyampirkannya di bahu, Airin menunggu Alden untuk berangkat bekerja hari ini nyatanya pria itu tidak pergi sejak pagi.
Alden menggeleng "Aku ada janji setelah jam makan siang nanti"
Airin melihat jam sudah hampir jam makan siang "Jika begitu aku pergi sendiri, karena sebentar lagi jam makan siang" Airin menunjukkan raut tenang.
"Kita bisa pergi bersama, lalu nanti aku meninggalkanmu disana?"
Airin mengangguk "Baiklah.." Airin menghela nafasnya lalu mengikuti Alden, keluar dari unit mereka Airin terus berjalan di belakang Alden, hingga Alden menghentikan langkahnya dan menggenggam tangan Airin lalu menariknya untuk berjalan bersama.
__ADS_1
Airin melihat sekitarnya lalu genggaman tangan Alden "Al..Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Aku tidak peduli.." Alden bahkan kini merangkul bahunya dan merapatkan dirinya dengan Airin dengan sesekali mencium rambut Airin "Agar semua orang tahu kamu adalah milikku!"
Hati wanita mana yang tidak tersentuh di perlakukan manis seperti itu, bahkan hingga memasuki lift Alden tidak melepaskannya.
Airin mendongak lalu tersenyum, andai mereka bisa melakukan ini setiap saat.
..
"Pulanglah jika sudah selesai!" Airin mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah Alden.
Airin melihat mobil Alden menjauh dan mengecil barulah dia memanggil taksi, tujuannya bukan mall tentu saja dia tak ingin Alden tahu kemana dia akan pergi.
Airin meminta supir taksi berhenti di pelataran rumah sakit, lalu menghela nafasnya.
Airin menyakinkan dirinya lalu melangkah masuk.
Airin masuk ke administrasi lalu mendaftarkan namanya dan menunggu di antrian, beberapa saat kemudian Airin mendapat gilirannya dan masuk ke ruangan dokter obgyn.
"Dokter aku ingin memeriksakan diriku."
"Apa yang kau rasakan?"
"Mual, muntah, pusing..." awalnya Airin mengira dia hanya masuk angin biasa, namun semakin hari semakin terasa mual apalagi jika mencium sebuah bau yang tidak nyaman untuknya, Alden tidak tahu karena Airin sudah berusaha menyembunyikan semua dari Alden, beruntung pria itu jarang di rumah, bahkan jika bersama Alden mual dan muntah tersebut menghilang bak di telan bumi, hingga membuat Airin bingung sendiri dan hari ini Airin memutuskan menghilangkan kecurigaannya.
"Kapan tanggal terakhir kamu datang bulan?." Airin mengingat kapan dia terakhir kali datang bulan..
Dokter mendongak saat melihat Airin hanya diam "Kau lupa..? tidak masalah kita akan lakukan pemeriksaan, berbaringlah!."
Airin menelan ludahnya kasar, lalu mengikuti apa yang dokter perintahkan, dokter mengoleskan gel dingin di atas perutnya lalu menekan lembut sebuah alat di atas perutnya "Oh kau benar hamil.. usianya sekitar lima minggu" Dokter tersenyum, sedangkan Airin menegang..
"Tung..gu sebentar dokter, aku sebenarnya meminum pil.. tapi bagaimana bisa aku hamil.." ya Airin sudah melakukan pencegahan, lalu bagaimana bisa dia hamil., dan bagaimana mungkin kecurigaannya benar- benar terjadi.
"Apa kau meminumnya dengan teratur?" Airin semakin menegang, dia menyadari kadang dia lupa meminumnya, bagaimana ini? jadi benar dia sedang hamil..
Reaksi Airin membuat dokter kecewa, harusnya seorang ibu akan bahagia mendapat fakta bahwa dia sedang mengandung kecuali.. dan dokter baru menyadari jika Airin datang dengan wajah pucat, tegang dan hanya sendiri.
Dokter menghela nafasnya "Harusnya kamu berfikir sebelum bertindak jika tak ingin hamil.." Dokter tahu, dan sudah banyak anak muda yang datang padanya dengan kondisi hamil tanpa suami, dan mereka selalu meminta untuk menggugurkan bayi mereka. "Sebelum kamu meminta, aku tidak melayani tindakan pengguguran kandungan" Airin mendongak melihat dokter yang menjadi dingin, kemudian Airin menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak segila itu dokter" Airin tidak mungkin mampu untuk melenyapkan bayinya, apalagi dia adalah bayinya bersama pria yang dia cintai, hanya saja kehadirannya sangat tidak tepat, di saat dia yang tak mempunyai posisi apapun di kehidupan Alden, selain wanita pengganti, ah bukan statusnya sekarang adalah wanita simpanan.
...