Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Tidak Sempurna


__ADS_3

"Aku bukan wanita yang sempurna Alden, selamanya aku tidak akan bisa mengandung lagi, dan tidak akan bisa memberimu bayi lagi.."


"Maka lupakan aku Alden, kamu akan mendapat wanita lainnya yang bisa memberimu kebahagiaan yang sempurna.."


Alden masih terpaku dan menegang, lalu setelah beberapa saat Alden terkekeh "Kamu sengaja mengatakan itu agar aku menyerah dan tidak mengganggu kamu lagi kan?"


"Kamu kira ini sesuatu yang bisa di jadikan candaan, dan kamu kira aku ingin semua itu terjadi padaku?" Airin menatap Alden dengan tangan yang terkepal erat. siapa yang mau menjadi wanita yang tidak sempurna seperti dirinya, tentu saja tidak akan. "Berhentilah Al, ini tidak mudah untukku, dan jangan menambah bebanku.. dan membuat rasa bersalahku semakin besar.


...


Airin sudah pergi namun Alden masih terdiam disana, menelaah apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Airin katakan, lalu ucapan Ibu dari Airin terdengar di telinganya.


"Aku harap, jika kamu tahu apa yang terjadi dengan Airin, kamu akan tetap mencintainya, dan jangan menyerah untuk meyakinkannya.. namun.. jika kamu memilih pergi, aku harap tidak ada yang tersakiti, terutama Airin.." jadi itu maksudnya.


Alden menggeleng, tidak dia tidak akan menyakiti Airin lagi, apapun yang terjadi dia hanya ingin Airin bersamanya, tak peduli seperti apapun Airin, dia bisa memiliki anak ataupun tidak, Alden akan tetap mencintainya.


Alden mendongak dan melihat sekitarnya namun tidak menemukan Airin, apa dia melamun terlalu lama.. sial..


Alden berlari mencari kemana Airin pergi..


...


Airin tersenyum sendu dia mengayunkan kakinya berjalan menikmati angin dingin yang menerpa tubuhnya, Airin tidak menyangka rasanya sesakit ini.. Airin melihat kebelakang tidak terlihat lagi Alden, mungkin dia sudah meneyerah.


Kamu sudah benar Airin, bagus bukan jika Alden menyerah, itu yang kamu inginkan, biarkan dia pergi mencari wanita yang sempurna dan hidup dengan bahagia.


Apa yang akan terjadi jika dia bersamamu, pria itu tidak akan pernah bahagia karena kekuranganmu, dan kamu akan hidup dalam rasa bersalah seumur hidup karena tidak bisa memberikannya keturunan..


"Tapi kenapa sakit sekali..hiks.. hiks.. aku begitu mencintainya hingga tak rela dia pergi.. " Airin berjongkok menundukan wajahnya "Aku sungguh benar- benar munafik, berkata pergi tapi hatiku ingin kamu tetap bertahan.." baru hitungan detik saja Airin mengatakan semuanya, namun hatinya sudah kembali tidak rela.


Alden menghentikan langkahnya dengan terengah saat melihat Airin berjongkok di tepi jalan, terlihat punggung Airin bergetar karena tangis "Lihat siapa yang menyuruhku pergi, dan siapa yang menangis.."


Airin bangun dan menoleh mendapati Alden di belakangnya, lalu dengan cepat mengusap air matanya.


"Kamu terlalu menganggap remeh cintaku, Airin.. benar kamu munafik!menyuruhku pergi padahal kamu ingin aku tetap bertahan."


Alden berjalan perlahan menghampiri Airin yang masih mematung "Kenapa tidak memilih jujur dan menahanku, meski aku ingin pergi.. "


"Tapi kamu tidak akan bisa memiliki anak jika bersamaku.."


"Aku tidak keberatan, hanya hidup berdua denganmu selamanya.."


"Be-narkah, apa tidak masalah aku bersikap egois.." Alden mengangguk, "Apa kamu tidak akan meninggalkan aku nanti?" Alden menggeleng.


"Ayo menua bersama hanya berdua" lalu dengan segera Airin berlari ke arah Alden menubruk tubuh pria itu dan memeluknya.

__ADS_1


"Aku kira- aku bisa melepaskan mu dan membiarkan kamu pergi.. hiks.. nyatanya semuanya sangat menyakitkan.. Al.. aku begitu mencintai kamu.."


"Aku egois bukan?, aku tidak sempurna Al, tapi aku tidak ingin kamu pergi.."


Alden mengeratkan pelukannya, tanpa kata apapun namun Alden terus mendekap Airin, dan membiarkan Airin menangis di pelukannya.


Karena akan Alden pastikan setelah ini Airin tidak akan menangis lagi.


...


"Masih ada yang ingin kamu bicarakan?" Airin mengerutkan keningnya "Karena setelah ini aku tidak akan membiarkan kamu bicara hal konyol lagi.. jika kamu ingin bicara katakan sekarang, karena setelah hari ini aku tidak akan menjawab pertanyaan mu yang tidak masuk akal.."


Airin menunduk lalu tersenyum "Kenapa kamu tidak pergi?.. bahkan sudah aku katakan aku tidak punya kesempatan lagi untuk memiliki anak.."


"Awalnya aku diam bukan karena bingung, hanya saja aku terkejut namun sejak awal aku sudah bilang aku tidak bisa hidup tanpa kamu, untuk apa aku punya anak jika nyatanya tidak ada kamu disana.."


"Tujuan hidupku adalah kamu, jika disana sudah tidak ada kamu, aku rasa aku juga tidak akan bahagia.."


"Tidak masalah tidak punya anak, aku juga tidak suka anak- anak, mereka merepotkan.." Alden terkekeh lalu mengecup tangan Airin yang sejak tadi di genggamnya.


"Kamu berbohong?" Airin memiringkan wajahnya "Kamu hanya sedang menghiburku, bukan?"


Alden tersenyum "Tidak masalah bukan, jika itu bisa membuat kamu bahagia, aku akan melakukan cara itu agar kamu tidak bersedih karena masalah ini lagi.."


"Alden, aku beri kesempatan untuk kamu pergi sekarang, atau aku tidak akan melepaskan kamu nanti.. bahkan saat aku tidak bisa memberikan kesempurnaan untuk kamu, kamu akan ku bunuh jika meninggalkan aku!"


Airin mengangguk, lalu Alden mengulurkan tangannya "Jika begitu ikatlah yang kencang, agar aku tidak bisa lari.. meski aku juga tidak perlu kamu ikat karena akan terus bersamamu.." Airin tersenyum haru lalu memeluk Alden.


"Aku mencintaimu Al.."


Alden mengurai pelukannya dan menangkup wajah Airin menatap nya penuh cinta, lalu mendekatkan dirinya untuk mencium Airin tepat di bibir gadis itu, bibir yang sudah dia rindukan selama ini.


"I love you more.." gumam Alden di sela ciumannya, lalu kembali menciumnya, Alden terus mencium bibir Airin melu matnya dengan ritme yang lembut dan perlahan, seolah dirinya takut akan menyakiti gadis itu, tidak ada nafsu hanya cinta sepenuh hati yang Alden ungkapkan.


Kedua tangan Airin meremas ujung mantel Alden, saat Alden semakin merapatkan tubuh mereka, Airin bahkan bisa mendengar debaran jantung Alden yang menggila sama seperti dirinya, bahkan Airin merasakan debaran mereka saling menyahut dan seirama.


"Kamu merasakannya?" Airin merasakan nafasnya terengah saat Alden melepaskan ciumannya.


"A-paa?"


"Detak jantungku, aku rasa hanya bersama kamu dia berdetak dengan cepat.." Airin tersipu. "Kamu pun juga bukan?"


Kali ini Airin mengeryit, Alden meletakan telapak tangannya di dada Airin "Disini juga berdetak sangat cepat.." Airin semakin dibuat malu dengan menundukkan wajahnya, namun Alden menangkupnya dan membuatnya kembali mendongak dan menatap Alden yang tersenyum.


"Ayo kita menikah.."

__ADS_1


Wajah Airin yang tersipu kini tertegun dan berwajah tegang "Al, kamu yakin?"


"Kenapa?, aku juga harus segera mengikatmu agar tidak pergi lagi.."


"Tapi, Al." Airin menelan ludahnya kasar "Aku tidak siap menghadapi keluargamu, bagaimana jika mereka tidak menerima wanita sepertiku?"


Alden mengeratkan genggamannya "Kamu meragukan aku lagi, aku bahkan rela meninggalkan semua harta keluargaku demi kamu.."


....


Airin mengeratkan genggamannya, saat tiba di gerbang rumahnya, Mommynya juga sedang menunggu dengan khawatir di depan pintu.


Namun saat melihat Airin turun dari mobil Alden dengan saling menggenggam, dia tahu putrinya baik- baik saja bahkan mungkin masalah mereka telah teratasi.


******* lega tak terindahkan lagi, saat melihat Airin tersenyum.


"Mom?"


"Selamat siang nyonya Grey.." Alden menyapa Mommy Airin.


"Selamat siang, masalah kalian sudah selesai?" Airin mengangguk "Bukankah sudah Mommy katakan semuanya akan baik- baik saja.."


"Terimakasih tuan Barnes, sudah menerima putriku apa adanya.."


"Aku tidak akan melepaskan putrimu nyonya, dia terlalu berharga, dan tolong panggil aku Alden saja" sontak saja perkataan Alden membuat Airin memerah malu, Airin yang menggemaskan sudah kembali lagi.


"Baiklah, bisakah kita bicara sebentar?"


Alden melihat Airin."Aku akan bicara dengan Mommymu sebentar.." Airin mengangguk lalu pergi dari sana.


...


"Kau sudah tahu kalau Airin tak bisa mengandung bukan?" Alden mengikuti Mommy Airin duduk di sofa.


"Apa yang sebenarnya terjadi nyonya..?"


"Satu minggu setelah Airin keguguran, kami melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk kesehatan Airin, namun tidak di sangka kami menemukan kanker di rahimnya, sehingga kami harus segera mengangkat rahimnya agar kanker tidak menyebar.."


Alden tertegun.


"Aku harap keputusanmu tidak berubah, karena jika kelak kamu pergi meninggalkan Airin, Airin akan lebih terluka dari hari ini.."


"Dia sudah memintamu untuk pergi, namun kamu menolak, lalu jika kamu kelak pergi aku rasa itu akan menjadi lukanya yang paling dalam.."


...

__ADS_1


Kabuuuuurrrrrrr...


😅


__ADS_2