
Airin berjalan gontai keluar dari ruangan obgyn, dia menjadi dilema dengan apa yang harus dia lakukan sekarang, ini akibat kecerobohannya karena melupakan meminum pil pencegah kehamilannya.
Apa yang harus Airin katakan pada Alden, apa dia harus memberitahu pria itu, tapi apakah itu keputusan yang benar, bagaimana jika Alden tidak menginginkan bayinya.
Tatapan mata Airin begitu kosong hingga tak memperhatikan sekitar, dan tak menyadari dari kejauhan seseorang memperhatikannya, dengan kerutan di dahi, untuk apa Airin ke rumah sakit apa dia sedang sakit, namun rautnya langsung menyeringai kala melihat ruangan di belakang Airin adalah ruangan obgyn "Oh.. apa Alden akan menjadi seorang ayah?"
"Ini bagus, apa yang akan Alden lakukan jika dia harus memilih lebih dari dua, tidak hanya harta, atau cinta tapi juga anaknya.." Gres tersenyum penuh kemenangan, niatnya datang ke rumah sakit untuk menemui seseorang siapa sangka dia mendapat ide untuk membuat Alden mengalah..
Namun jika pun Alden tidak mengalah maka dia harus mengorbankan dua orang sekaligus, Airin dan anaknya.
...
Airin mendudukan dirinya di kursi taman, masih dengan pemikiran yang kacau..
Airin menoleh melihat Gres tiba- tiba ada di sampingnya "N..nyonya?."
Gres menghela nafasnya dengan wajah yang mengasihani Airin, Gres berkata..
"Kau tahu.. ada sesuatu yang kau tak tau tentang Alden.. dan itu adalah rahasia umum bagi para wanita yang sudah pernah bercinta dengan Alden, termasuk aku.." Airin menegang.
"Aku adalah kekasih Alden, ya aku bersalah karena tidak setia.. tapi itu karena aku terpaksa melakukan itu, dulu Alden sangat mencintaiku, hingga dia tak mampu menyakitiku saat aku tak mampu melayaninya hingga tuntas, karena kelelahan dan tertidur.." Gres terkekeh "Kau juga sudah tahu bukan bagaimana dia di atas ranjang.. dan itu yang selalu terjadi pada para wanita yang bercinta dengan Alden, selalu kalah sebelum Alden mengeluarkan nya.. tapi aku rasa itu tidak berlaku untukmu hingga kau sedang mengandung anaknya benar bukan?" Airin semakin menegang dengan kepala yang terasa pening, nyonya Gres tahu dia hamil, tentu saja mungkin dia melihatnya sejak keluar dari ruangan dokter Airin sungguh ceroboh.. "Tentu saja aku juga tidak mengira kamu nakal, hingga sudah dapat di pastikan anak itu milik Alden" Gres bertepuk tangan "Ah... pantas saja Alden mempertahankanmu, hingga begitu lama rupanya kamu bisa mengimbanginnya" Airin mengerjapkan matanya "Awalnya aku kira Alden begitu menyukaimu hingga dia mempertahankanmu cukup lama, namun Alden benar- benar menyukaimu rupanya karena kamulah yang mampu bertahan dengannya untuk memuaskan nafsunya.."
Airin tertegun, dari sekian panjang cerita nyonyanya kesimpulannya adalah Airin hanya di manfaatkan karena hanya dia yang mampu bertahan dengan Alden..
__ADS_1
"Kamu boleh tidak percaya, itu terserah padamu, tapi Airin menurutku kamu tidak perlu menyiakan hidupmu demi pria yang tidak punya cinta sama sekali, dan fikirkan anakmu, apakah jika Alden tahu dia akan membiarkannya hidup.." Airin memegang perutnya, seolah melindungi anaknya "Ah, apakah kamu juga tahu tentang kesepakatan Alden dan ayahnya.." Wajah Airin semakin pucat, Gres kembali terkekeh "Melihat wajahmu, tentu kamu tahu bukan? dan apakah Alden akan membiarkan batu sandungan untuknya, jikapun tidak.. apa kau rela hidup bersama anakmu dalam pengasingan seumur hidup.." Airin bergetar, tidak dia tidak boleh membiarkannya, anaknya tidak bersalah jika Alden tidak mengakuinya lebih baik melepaskannya, Airin tak ingin anaknya selamanya tak punya status dengan selalu tersembunyi seperti dirinya.
Airin tak menanggapi Gres, hingga Gres pergi dengan senyum kemenangan di wajahnya, bahkan sejak tadi dia hanya diam dan mendengar ocehan Gres panjang lebar, dengan raut yang pucat pasi.
Gres pergi dengan puas, awalnya dia sangat malas pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan orang yang terus mengganggunya, namun saat melihat Airin disana dan menemukan sesuatu yang menarik, Gres rasa datang kesana tidak terlalu buruk.
Gres memasuki sebuah ruangan dimana ada seseorang yang sudah menunggunya masih dengan senyum di wajahnya "Sepertinya kau cukup senang, jika begitu aku akan lebih sering memanggilmu" Gres mendengus, lalu mendudukan dirinya, di depan pria berjas putih khas dokter.
"Apa maumu Luke.. cepat katakan karena aku tidak punya banyak waktu.."
Luke menyeringai "Kau tidak dalam posisi untuk menawar Gres kau tahu aku bisa melakukan apa yang aku inginkan" Luke menghampiri Gres lalu mengelus pipi mulus Gres "Apa kabar dengan putriku Patricia? sepertinya sudah lama pula aku tidak melihatmu."
Gres mengeraskan rahangnya lalu tertawa hambar "Dia buka putrimu! dan jangan bertingkah seolah tidak terjadi apapun.."
"Benarkah? apa dia benar- benar putri Barnes, apa kau lupa karena siapa Barnes percaya dengan hasil DNA Patricia? jika bukan karena aku Barnes akan tahu jika Patricia bukan anaknya.."
Luke terkekeh dan mengusap pipinya yang terasa panas "Apakah Alden juga tahu, anak itu bukan milik Barnes?"
"Tutup mulut mu sialan!" teriak Gres.
"Aku akan diam.. tapi hanya jika kau mau melayani aku kapan pun aku mau.."
"Kau benar- benar brengsek !"
__ADS_1
"Ya, itu aku.. " Luke mulai menurunkan resleting dress Gres, hingga Gres hanya mampu memejamkan matanya dengan tangan mengepal erat, jika saja Luke tidak memiliki bukti kejahatannya selama ini maka akan dia tendang pria itu.
....
Airin masuk kedalam apartemen dengan wajah yang, lesu.. hari sudah sore namun tidak ada tanda- tanda Alden sudah dirumah, setidaknya Airin tidak memerlukan alasan karena dia pulang dengan tangan kosong, karena alasannya pergi belanja.
Beberapa jam Airin hanya diam melamun di tepi ranjang hingga dia lagi- lagi tak menyadari seseorang di sekitarnya.
Merasa tidak di gubris Alden yang sejak tadi memanggil Airin, mengguncang bahu Airin "Ada apa denganmu?"
Airin terkejut "Kapan kau pulang?"
"Beberapa menit lalu.. apa yang kamu fikirkan hm? .. kamu lebih banyak melamun akhir- akhir ini.."
Alden berjongkok di depan Airin menekuk sebelah kakinya, tangannya mengelus lembut pipi Airin, wajahnya menampakkan kekhawatiran hingga Airin menggeleng lalu tersenyum "Kamu pergi temu janji dengan siapa?" Alden mendongak melihat Airin, Airin masih tersenyum, tadi saat pergi Airin tidak terfikirkan untuk bertanya sama sekali karena sibuk dengan prasangkanya tentang kehamilannya, dan kini dia punya topik untuk mengalihkan pembicaraan Alden.
Alden kira Airin memang sudah mengetahui semuanya, jadi tidak masalah jika dia mengatakannya bukan.. namun Alden tak tahu, hati Airin lebih rapuh dari yang dia kira, hingga ucapan Alden mampu membuat Airin membeku.. dan senyuman di bibir Airin pun surut.
"Aku pergi menemui Cassandra.."
...
Like..
__ADS_1
Komen..
Vote..