Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Andai Aku Bisa


__ADS_3

Airin merebahkan dirinya di atas ranjang, rasanya lelah setelah perjalanan jauh yang di tempuh, liburan sudah usai dan kini Airin sudah kembali ke apartemen Alden, Alden? pria itu pergi setelah turun dari pesawat dan membiarkannya pulang sendiri dengan supirnya, sedangkan Alden pergi dengan mobil lainnya, bahkan tanpa perlu repot memberitahu Airin kemana tujuannya. Airin mengerucutkan bibirnya memang siapa dia kenapa harus memberitahunya.


Airin bangun dengan gontai hendak merapikan kopernya, lalu dia akan mandi setelahnya, mungkin akan lebih segar nanti.


Airin memasukan pakaian kotor ke dalam keranjang dan juga menyimpan pakaian yang masih bersih kedalam lemari.


Airin membuka pintu dan merapikan pakaiannya kembali, lalu mengambil satu pakaian yang akan dia pakai setelah mandi nanti, Airin menunduk saat merasakan ada sesuatu yang terjatuh dari lemari dan menyentuh kakinya saat dia menarik pakaiannya.


Airin menunduk dan mengambil sebuah kertas yang terlipat, Airin ingat ini adalah surat yang dititipkan sang nenek pada suster rumah sakit, dan dia belum membacanya sama sekali, Airin duduk di tepi ranjang dan membuka lipatan kertas tersebut hingga perlahan air matanya menetes begitu saja.


...


Alden berjalan tegas memasuki rumah besar dengan tatapan tajam dan rahang mengeras, saat turun dari pesawat Alden menerima telpon dari ibu tiri yang juga mantan kekasihnya sebelas tahun silam, bahwa Daddynya sudah memilihkan jodoh yang akan menikah dengannya.


"Aku yakin kamu langsung datang saat turun dari pesawat" Gres mengerling ke arah Alden, dan Alden memilih tak peduli.


"Dimana Daddy?"


"Owh kau sudah tidak sabar bertemu wanita pilihan kami.."


Mendengar ucapan Gres, Alden terkekeh "Memangnya siapa kau yang beraninya ikut campur dalam masalah ini"


Gres mengepalkan tangannya "Aku nyonya di rumah ini!"


Alden mengangguk "Maka tetap diam di posisi itu, jangan mencoba menggantikan posisi ibuku, memilihkan jodoh untukku? kau bercanda?"


Gres makin memerah karena marah saat Alden melewatinya dan menuju ruang kerja Barnes, Gres akan buat Alden menyesal sudah memperlakukannya seperti ini, dan selalu menganggapnya tidak ada.


Alden mendengus harusnya dia tahu sejak awal bertanya pada ular betina itu akan membuatnya marah, tapi tetap saja Alden bertanya pada Gres karena hanya ada ular itu disana.


Alden masuk tanpa perlu mengetuk pintu ruang kerja Barnes lebih dulu, dan tentu saja Barnes tak lagi terkejut dengan perangai Alden yang memang membencinya sejak dia memutuskan menikahi Gres.

__ADS_1


"Kau sudah mendengarnya dari Gres bukan?" Barnes menyandarkan dirinya di sandaran kursi lalu melepas kaca mata bacanya di atas meja.


Alden tahu hari ini akan tiba dimana dia akan melakukan pernikahannya tanpa cinta dan hanya karena uang. Ya.. demi harta keluarganya agar tak jatuh ditangan yang salah, seperti Gres dan anaknya. Dia tidak rela kekayaan yang hanya akan menjadi milik ibunya dan dirinya saja, jatuh ke tangan pelakor sepertinya.


Barnes membuka laci dan mengeluarkan beberapa foto dan menyodorkannya ke arah Alden "Pilih salah satu, dan kita akan segera mengundangnya untuk datang.."


Alden melihat ke arah beberapa foto wanita yang Barnes tunjukkan, mendengus tak tertarik Alden menunjuk satu wanita asal, dia tak peduli siapa wanita itu, baginya ini hanya batu loncatan agar dia bisa menguasai semuanya "Tapi sebelum itu aku ingin pernyataan bahwa semua properti resmi menjadi milikku"


"Perjanjian akan di resmikan dan setelah kau menikah semua akan menjadi milikmu!"


"Pastikan kau tidak mengingkari janjimu, atau sepeser saja dari milikku jatuh ke tangan anak dan istrimu itu, aku akan buat semua habis tak bersisa!" Barnes masih berwajah tenang, sesungguhnya meski Alden mengambil alih semuanya, dia tidak takut. uang pribadinya cukup untuk menikmati masa tuanya dengan istri dan anaknya, namun tujuan Barnes jauh lebih besar dari pada itu.


"Ya, aku tidak akan ingkar"


Alden berbalik tanpa repot berpamitan "Pastikan kau datang nanti malam kita akan segera mengundang keluarga calon istrimu!" Alden mendengus setelah sesaat menghentikan langkahnya.


...


Airin bangun dengan seluruh tubuh yang rasanya sakit dan lemas, mungkin karena kelelahan.


Airin merenggangkan tubuhnya meluruskan kaki dan tangannya, lalu menggeliat masih dengan posisi terlentang.


Mata Airin masih memejam dan terbuka secara perlahan, hingga sebuah suara mengejutkannya, dan membuat matanya terbuka sepenuhnya "Tidurmu sangat nyenyak ya?"


"Astaga!" Airin memegang dadanya terkejut sejak kapan Alden ada di sana. "Tuan, kau sudah pulang?"


"Se.. sejak kapan kau ada disana?"


"Cukup lama untuk memperhatikan tidur cantikmu" Alden menatap Airin dari atas ke bawah, dan membuat Airin melakukan hal yang sama, mata Airin melotot saat melihat penampilannya yang berantakan dress nya sudah tersingkap dan menampakan paha mulusnya, tangan Airin dengan cepat menurunkan dressnya, dan membuat Alden terkekeh "Sudah terlambat, lagi pula aku juga sudah terbiasa melihat yang lebih dari itu, bukankah kau juga selalu dengan senang hati membuka semua pakaianmu untukku.."


Airin memerah, karena malu, memang benar itu yang selalu dia lakukan, tapi bagaimana jika saat tidur dia juga mendengkur atau mulutnya terbuka, mengingat dress nya sudah berantakan bukankah posisi tidurnya juga tidak diam di satu posisi yang Alden katakan cantik.

__ADS_1


Alden tidak berbohong jika Airin cantik saat tertidur, Alden bahkan tak menyangka dia akan terpaku melihat Airin yang tidur sangat cantik, sejak masuk ke kamar Airin satu jam lalu Alden hanya diam dan menatap wajah Airin yang terlelap.


Alden mencondongkan tubuhnya ke arah Airin yang refleks menutup mulutnya "Menurutmu aku akan menciummu?"


Airin menggeleng "Tidak aku hanya belum mandi dan gosok gigi" apalagi jika dia tertidur dengan air liur pasti nafasnya pun akan bau.


"Aku tahu kau bahkan masih menggunakan dress yang tadi.."


"Maka dari itu menjauhlah nafasku pasti bau."


"Tidak masalah.." Alden menyingkirkan tangan Airin yang menutupi mulutnya.


"Kau menangis?" Airin terpaku tak menyangka Alden akan bertanya seperti itu "Matamu bengkak, hidungmu merah.." Airin teringat sebelum dia tidur karena kelelahan menangis, setelah dia membaca surat dari sang nenek.


Airin menunduk dan menemukan surat tersebut jatuh di lantai, Airin menelan ludahnya kasar, apakah Alden melihatnya, apakah dia membaca surat dari neneknya?


"Kau menangis karena aku?" Airin mendongak "Sudah ku bilang Airin jangan gunakan hatimu.. kau akan lebih banyak sakit hati.." Airin mendesah lega saat Alden tidak membaca surat neneknya dan mengira dia menangis karena Alden "Jadi bencilah aku Airin, agar kau bisa tetap bersamaku"


Airin memejamkan matanya "Jadi kamu sengaja melakukan itu agar aku membencimu?"


"Kamu bertingkah seperti seorang brengsek agar aku membenci kamu?"


Alden menggeleng "Tidak, seharusnya kau tahu sejak awal aku memang brengsek dan kamu jangan menggunakan hati, maka kamu tidak akan jatuh cinta.."


"Aku tahu.. aku tahu sejak awal kamu memang pria brengsek yang sangat tampan, lalu kenapa? kenapa aku masih saja menyukai kamu, meski tahu kamu brengsek?" Alden menegang.


"Jika aku bisa, aku ingin jatuh cinta pada pria yang baik dan setia yang juga mencintai aku, tapi apa aku bisa memilih ketika hatiku berhenti hanya padamu, padahal aku tahu kamu pria brengsek Alden.."


Like...


Komen...

__ADS_1


Vote...


__ADS_2