Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Alden Tau


__ADS_3

"Aku pergi menemui Cassandra.."


Alden menyadari raut wajah Airin berubah murung "Tidak ada yang terjadi, hanya makan siang yang di usulkan daddy, lagi pula setelah itu aku langsung pergi.."


Airin masih diam "Tidak percaya?" Alden menghela nafasnya "Aku pergi membantu Roland untuk mengurus Caroline kamu tahu, dia sebenarnya yang menyebabkan Anna pergi dari Roland dengan mengirimkan percakapan kami tentang taruhan.."


Airin mengeryit "Taruhan?"


Alden mengusap tengkuknya "Ya, kami bertaruh jika Roland bisa menaklukan Anna dalam satu bulan, dia akan mendapat pulau pribadiku"


Airin mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Alden, lalu dengan kesal berkata "Jika begitu Roland pantas mendapatkannya."


"Hey, Roland sungguh mencintai Anna kali ini.."


"Dari mana kamu tahu dia tulus?" Alden bahkan tidak tahu tentang perasaannya sendiri, bagaimana mungkin dia tahu perasaan Roland.


"Karena aku juga merasakannya, aku tahu rasanya mencintai dan takut kehilangan." Alden menatap Airin yang terpaku.


Alden lupa kapan dia merasakannya namun dia sudah tidak pernah menyentuh wanita lain, bahkan saat di pulau Alden hanya berpura-pura tidur dengan wanita lain, dan membiarkan Airin mengira dia tidur dengan wanita itu. Alden hanya mencumbu sang wanita di depan Airin lalu setelah Airin pergi dia menghentikan kegiatannya, entah mengapa namun bayangan yang muncul hanya tatapan Airin yang begitu terluka, dan Alden tak bisa melihatnya.


"Tetap saja apa yang kalian lakukan salah, mempermainkan hati perempuan, apa kalian kira kami hanya ada untuk di permainkan.."


"Jika aku jadi Anna aku juga akan melakukan hal yang sama.."


"Hey.. aku tidak seperti Roland jadi kamu tidak perlu pergi!" Airin menatap tajam Alden, saat Alden melakukan protesnya.


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku tidak mempertaruhkan wanita, dan juga aku tidak bermain wanita lagi.."


Airin menyipitkan matanya "Tidak percaya?, aku sungguh tidak menyentuh wanita lain sejak di pulau.."


Airin ingin tertawa "Lalu apa yang kulihat saat di taman belakang Vila?"


"Itu.. aku hanya melakukannya agar kamu membenciku, tapi setelah itu aku bersumpah tidak menyentuhnya, apa lagi belum apa-apa dia sudah tertidur.." Airin menegang apakah yang di katakan Gres benar, bahwa tidak ada yang mampu menghadapi Alden selama ini.


"Al.." tenggorokan Airin sedikit tercekat, dan menatap Alden yang mengerutkan keningnya. "Apakah.. jika ada seorang wanita yang mengaku hamil anakmu kamu akan percaya.."


"Tentu saja tidak, karena aku tidak pernah berhasil dengan mereka.." Alden menjawab dengan ringan, ya.. meskipun Alden sering memaksakannya dan menyelesaikan nya sendiri meski lawan mainnya sudah tertidur, tapi Alden selalu memakai pengaman, hanya bersama Airin lah dia tidak memakai pengaman, lalu tiba- tiba kepala Alden terasa kaku, apakah Airin sedang mengandung, tapi bukankah Airin meminum pil pencegah?.

__ADS_1


"Airin apakah, kau?."


Airin mengangkat alisnya "Apa?"


"Kau hamil?" Airin mengerjapkan matanya, lalu sebelum Airin bicara Alden dengan cepat berkata..


"Tapi bukankah kamu meminum pil pencegah.." Airin mengatupkan bibirnya lalu melihat Alden yang menghela nafasnya lega, apa pria itu benar- benar tak ingin mempunyai anak?.


"Jika itu terjadi apa yang akan kamu lakukan?" Airin memiringkan wajahnya mencari ekspresi apa yang di berikan Alden.


Alden terkekeh lalu mengibaskan tangannya salah tingkah "Sudahlah jangan bicara omong kosong!." Alden bangkit dan meninggalkan Airin yang terpaku.


Alden menggaruk tengkuknya dia juga bingung harus menjawab apa, jika benar Airin hamil, apa yang harus dia lakukan, bukankah dia akan menjadi seorang Ayah, lalu tiba- tiba perasaan hangat menjalar ke hatinya, perasaan apa ini?.


Airin meraba perutnya lalu bergumam "Jika dia tidak menginginkanmu, maka Mom yang akan merawatmu dengan baik.."


.


.


.


"Oh, tenanglah aku hanya akan bicara sebentar, tapi ku harap setelah ini kamu yakin dengan keputusanmu" Alden hanya diam tak ingin menanggapi wanita itu, saat ini Alden sedang mengumpulkan semua bukti kejahatan Gres, dan sebentar lagi dia akan menendang Gres.


Kenapa Alden tidak sejak dulu bertindak, karena pria itu baru muncul kembali setelah sebelas tahun berlalu, meski Alden selalu berusaha mencarinya, namun pria itu seperti hilang di telan bumi, dan kali ini Alden tidak akan membiarkan Gres terus hidup tenang di rumahnya, dimana dia tidak berhak atas semua itu.


"Bagaimana kabar Airin?" Alden menghentikan kegiatannya lalu kepalanya menegak lurus. "Aku tahu hubungan kalian, tapi Al.. seharusnya kamu berhati- hati, bukankah Barnes sudah menyiapkan jodoh untukmu, dan tidak bagus jika kamu terus mempertahankan Airin karena usahamu mendapat seluruh harta akan kacau.." Alden mengepalkan tangannya.


"Jika Barnes tahu kamu mempunyai wanita lain bukankah itu akan membuatnya berubah fikiran.."


"Itu bukan urusanmu, bukankah itu bagus untukmu jika aku menentang Barnes.." Gres terkekeh.


"Aku hanya merasa kasihan dengan Airin, apalagi dia juga tidak berjuang sendiri" Alden mengerutkan keningnya "Dan apakah jika Barnes tahu dia akan diam saja dan membiarkan penerusnya begitu saja?."


Alden menegang. "Saat aku bertemu dengan Airin di rumah sakit dia seperti sedang kebingungan.. dan aku tau rasanya saat meminta pertanggung jawaban tapi tidak di gubris. jadi jangan acuhkan Airin, lindungilah Airin, Alden. Karena aku yakin Barnes tidak akan tinggal diam "


Alden masih menampilkan raut tenang, namun jantungnya berdebar cepat, apa katanya, rumah sakit? tak berjuang sendiri? dan tanggung jawab, lalu Alden mengingat percakapan mereka kemarin sore,.. Astaga.. kenapa dia tidak menyadarinya jika Airin mengatakan yang sebenarnya.


"Kau sudah selesai bicara?" Gres terdiam, tak menyangka dengan ucapan Alden, apa dia benar- benar tak peduli pada Airin atau bayinya.

__ADS_1


"Tak usah khawatirkan aku, persiapkan saja dirimu sebelum di tendang oleh Barnes!" Alden mengakhiri percakapan mereka lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruangannya.


Dia harus memastikan apakah Airin sungguh mengandung anaknya sekarang.


Alden memasuki apartemen dan mencari keberadaan wanita itu, Alden melihat Airin yang berjongkok di depan wastafel dan membersihkan mulutnya.


Alden mendesah, apa Airin baru saja muntah?.


Alden mengambil beberapa lembar tisu lalu mengusap lembut bibir Airin yang basah "Apa yang kamu lakukan Airin?"


Airin yang masih terpaku mendongak melihat Alden "Kamu fikir bisa menghadapi ini sendiri?" Airin masih berdiri dengan bingung, apa yang Alden bicarakan.


"Kenapa tidak mengatakan kamu sedang mengandung anak ku, Airin?"


Airin menegakkan tubuhnya "Bagaimana bisa aku tahu dari orang lain?"


"Al.." Alden menggeleng.


"Kamu fikir aku tidak menginginkannya?" Airin mengangguk.


Alden memeluk Airin "Tidak masalah, kita akan menghadapi ini.." Airin merasakan bahunya lemas, lalu membalas pelukan Alden.


"Apakah kamu ingin muntah lagi?" Alden mengusap wajah pucat Airin.


Airin menggeleng "Tidak mualnya hilang saat bersamamu"


Alden mengerutkan keningnya "Benarkah?"


Airin mengangguk "Tidak tahu, tapi aku selalu mual saat kamu tidak ada, dan mualnya hilang saat kamu pulang" Alden terkekeh pantas saja dia tidak pernah melihat Airin muntah atau mengalami tanda- tanda wanita hamil lainnya.


"Rupanya dia tahu siapa ayahnya." Airin merasakan hatinya menghangat ternyata Alden menginginkan bayinya, Airin menenggelamkan dirinya di pelukan Alden.


Satu bebannya telah terlepas.


..


Like..


Komen...

__ADS_1


Vote..


__ADS_2