
-Aku tau Alden mencintaimu, tapi dia tetap tak bisa memilih antara cintanya atau hartanya, nyatanya dia ingin keduanya, sekarang terserah padamu Airin apa kau akan bertahan selamanya dalam persembunyian, dan tetap saja Cassandra yang di akui-
Airin mengerjapkan matanya, melihat isi pesan dari nyonya Gres yang baru saja dia terima, nafasnya terasa tercekat saat melihat beberapa foto yang dia gulir.
Tampak Alden dan Cassandra yang sedang berada di dalam pesawat, Alden memejamkan matanya sedang tertidur dan Cassandra yang menyender di pundak Alden, Airin meremas tangannya apa ini pekerjaan yang Alden katakan? pergi berdua dengan tunangannya.
Airin menunduk, benar jika pun Alden mencintainya, dia tetap akan tersembunyi dari dunia luar, dan apakah dia sanggup melihat Alden terus bersama Cassandra, karena nyatanya Alden tak ingin kehilangan hartanya.
"Apa yang harus Mom lakukan" gumam Airin sambil mengelus lembut perutnya.
Apa dia sanggup hidup dalam kecemburuan setiap hari melihat Alden bersama Cassandra..
Airin tak tidur semalaman sejak dia menerima pesan dari Gres dan itu berpengaruh pada tubuhnya yang terasa tak nyaman, dan lemas. Airin mengambil ponselnya dan melihat jam di ponselnya pukul tujuh pagi, Airin meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Alden..
Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua.. lalu di panggilan ketiga panggilannya terjawab, namun bukan suara Alden yang dia dengar, melainkan suara seorang wanita yang membuat Airin menegang.
"Hallo.."
"Hallo.."
Airin masih terdiam dengan tangan mengepal kuat menahan semua gejolak sakit hatinya "Kau ingin bicara dengan Alden, bisakah kau hubungi lagi nanti.. Alden sedang mandi.." tanpa bicara Airin mematikan teleponnya dan menutup wajahnya yang menangis.
"Aku.. aku tidak mau, tidak mau seperti ini.." Airin menggeleng "Aku tidak mau hidup hanya untuk bersembunyi.. " Airin tak mau, dan juga dia tidak mau anaknya kelak di anggap tak pernah ada oleh dunia.
Dan yang paling penting Airin tak mau berbagi cinta dengan wanita lain.
Airin bangun dari tidurnya namun saat akan berdiri Airin merasakan kram di perutnya, Airin meringis namun mencoba untuk terus bangun, hingga akhirnya Airin jatuh terduduk "Tolong.." Airin berteriak lirih meminta tolong berharap pelayan mendengarnya, namun rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya tak sadarkan diri.
.
.
.
__ADS_1
Di belahan dunia yang berbeda Cassandra tersenyum setelah menerima panggilan di ponsel Alden, Alden memang sedang mandi, saat Cassandra masuk ke dalam kamarnya, dan saat mendengar ponsel Alden berdering, tiba- tiba Cassandra ingat bahwa Gres mengatakan bahwa wanita Alden bernama Airin, dan saat melihat nama itu di layar ponsel Alden, Cassandra mengangkat panggilan tersebut.
Cassandra menghapus riwayat panggilan agar Alden mengetahui.
"Sedang apa kau?" Cassandra menegang lalu dengan cepat menoleh dengan raut yang normal.
"Oh, tidak aku hanya membawa pesan dari Ben, jika kita akan segera berangkat" Cassandra meletakan ponsel Alden di belakang punggungnya.
"Keluarlah, aku akan selesai!" Cassandra salah tingkah dengan tatapan tajam yang Alden berikan.
Cassandra berdehem lalu berjalan mendekat "Al.." Cassandra berdiri tepat di depan Alden, tangannya terangkat menyentuh dada Alden yang basah terlihat seksii dan menggairahkan "Kenapa kita tidak tinggal di kamar yang sama" jari telunjuk Cassandra merambat dari dada hingga ke bagian perut "Kita sudah bertunangan, bukankah tidak masalah jika kita melakukannya.. aku tahu kamu bukan pria kuno, aku dengar bahkan kamu sangat terkenal sebagai don juan.."
Alden menyeringai "Kau ingat, apa tujuan ku kesini.." Alden menangkap tangan Cassandra yang mengelus dadanya "Kita tidak lama disini, karena itu kita di kamar berbeda.. " Alden mendekatkan wajahnya ke tengkuk Cassandra "Karena jika kita di kamar yang sama, kita akan membuang waktu lama" hidung Alden mengusap tengkuk Cassandra hingga Cassandra merasa geli, dan membangkitkan ga irahnya "Karena aku tidak akan puas hanya dalam waktu satu jam saja.. persiapkanlah dirimu agar kau bisa bertahan hingga selesai.." Cassandra mendesah lirih saat Alden meremas pinggangnya.
"Keluarlah, kita akan segera berangkat.. Aunty Jess sudah menunggu" Cassandra mengerut kecewa.
"Baiklah, bersiaplah dan aku akan disini, tidak masalah bukan aku melihat bagaimana seksiinya calon suamiku" Cassandra mendudukan dirinya di tepi ranjang.
Alden menghela nafasnya, Sial, jika bukan karena rencananya Alden tidak akan mau berbuat baik pada ular di depannya, lagi pula bagaimana Cassandra bisa masuk ke dalam kamarnya, apa dia meminta kunci kamarnya pada resepsionis, dengan acuh Alden berbalik melepas handuk yang bertengger di pinggangnya, dan mengenakan pakaian..
Cassandra menekan ponselnya, lalu menemukan no ponsel Airin yang baru dia salin dari ponsel Alden.
...
Airin mengerjapkan matanya "Nyonya kau sudah bangun?" Airin mendengar suara pelayannya berbicara.
"Astaga, aku sungguh takut, hampir saja aku menghubungi tuan Alden.." Airin melihat dengan jelas wajah pelayannya pucat dan sangat khawatir.
Airin menoleh dan melihat pria berjas putih, mungkin dia seorang dokter..
"Hallo nyonya.." Airin baru menyadari jika dia tidak di rumah "Anda di klinik.."
Airin mengangguk "Bagaimana dengan bayiku?"
__ADS_1
Dokter tersenyum "Bayimu baik- baik saja, tapi nyonya aku harap kau tidak tertekan, karena aku merasa otot- otot mu terlalu tegang.. Aku juga menyarankan untuk memeriksa lebih lanjut ke rumah sakit agar kau bisa memastikan kondisimu.."
"Apakah semua baik- baik saja?" raut khawatir kini tercetak jelas di wajah Airin, mengingat rasa sakit yang di alaminya tadi, bahkan hingga dirinya tak sadarkan diri, semoga semuanya baik- baik saja.
"Tolong jangan berfikir negatif nyonya, aku hanya menyarankan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.."
Airin menghela nafasnya "Apa aku sudah boleh pulang?"
"Tentu setelah cairan infusnya habis.."
"Terimakasih dokter.." Dokter meninggalkan Airin dan pelayannya.
"Terimakasih sudah menolongku.." ucapnya tulus pada pelayan yang menatapnya khawatir.
"Itu sudah tugasku, nyonya.. dan juga aku hanya membawamu ke klinik kecil, karena hanya ini yang paling dekat, untuk ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih."
Airin mengangguk "Tidak masalah, tolong jangan katakan apapun pada Alden.."
"Aku tak ingin dia khawatir.. ah, apa kau membawa ponselku?"
Sang pelayan pun merogoh sakunya dan memberikannya pada Airin "Beberapa kali ponsel nyonya berdering tapi aku tidak berani membukanya."
Airin tersenyum saat pelayan mengatakannya dan berharap Alden yang menghubunginya, lalu menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi.
Namun Airin harus menelan kecewa saat tidak ada nama Alden di sana, hanya beberapa panggilan dari nomer yang tidak dia kenal, Airin mengerutkan keningnya saat melihat nomer ponsel tersebut mengirimkan beberapa pesan, lalu wajahnya memucat saat melihat wajah Cassandra yang menjadi foto profil nomer tersebut, membuka pesan tersebut dan Airin hanya mematung saat melihat foto bagian belakang seorang pria yang telan jang dan Airin tahu punggung siapa itu, Airin bahkan hafal hanya dari bentuk dan lebar punggung tersebut, air mata Airin mengalir tak tertahankan hingga pelayan yang sejak tadi menemaninya pun menjadi panik.
"Nyonya apa yang terjadi, mengapa kau menangis.."
Airin menghela nafasnya dalam "Bisakah kau tinggalkan aku sendiri.." Airin memalingkan wajahnya masih dengan deraian air mata di pipinya.
...
Like..
__ADS_1
Komen..
Vote..