
Airin menunggu dengan gelisah, dia dan pelayan sudah mencari ke seluruh Vila tapi Anna tidak ada.
Airin yang melihat Ben dan Alden memasuki Vila pun bergegas menghampiri "Bagaimana?" Alden dan Ben menggeleng menandakan bahwa mereka tidak menemukan Anna.
"Tenanglah, jika Roland tidak menemukan Anna, kita akan menghubungi regu pencari" Airin mengangguk saat Alden mencoba menenangkan, namun beruntung tak berapa lama mereka melihat Roland yang menggendong Anna di punggungnya, Airin mendesah lega melihat Anna berhasil di temukan.
"Akhirnya kau ketemu, dari mana saja kau?" Alden langsung bertanya, saat Roland menurunkan Anna agar terduduk di sofa.
"Kau tahu kami mengelilingi seluruh vila untuk mencarimu" Ben dan Alden terlihat khawatir, Airin tercenung apa jika dia menghilang Alden akan sekhawatir itu, Airin pergi ke arah nakas dimana ada air dan menuangkannya.
"Syukurlah kami sangat khawatir, sekarang minumlah"
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud merepotkan" Anna menunduk menyembunyikan rasa harunya "Terimakasih sudah mencariku"
"Sudahlah, sekarang kau harus istirahat, kau pasti lelah,.. tolong ambilkan handuk dan air hangat" pinta Roland, Airin pun bergegas untuk mengambilnya.
"Aku tidak lelah, justru kau yang pasti lelah karena sudah menggendongku.." masih dapat Airin dengar suara Anna yang merasa tak enak, namun Airin lagi- lagi merasa kagum karena Roland begitu memperhatikan Anna, tentu saja.. bukankah dia kekasihnya.
Airin memberikan wadah air dan handuk, dan Roland pun mengambilnya untuk dia kompreskan ke kaki Anna yang terlihat membengkak "Aku bisa sendiri, biarkan Aku saja.." Anna mencoba mengambilnya namun Roland menjauhkannya.
Airin tersenyum lalu memilih pergi di ikuti semua orang yang sejak tadi mengelilingi Anna.
Anna sudah di temukan dan semua orang lega sekarang..
Airin memasuki kamar dan mendudukan dirinya di tepi ranjang, mengingat kejadian ini Airin merasakan iri di hatinya, Anna beruntung begitu banyak yang peduli padanya, lalu Airin melihat dirinya sejak dulu dia hanya hidup dengan sang nenek dan sekarang dia hanya tinggal sendiri selepas kepergian neneknya.
Airin tak tahu asal usulnya dimana orang tuanya dan siapa mereka sebenarnya apakah mereka masih hidup atau sudah tiada, lalu apakah mereka mengingat Airin atau tidak.
Airin semakin meringis di dalam hati mengingat tak ada yang baik dalam hidupnya, sejak bayi terbuang, lalu neneknya yang meninggalkan nya dan sekarang dia terdampar di sini, mencintai orang yang tidak mencintainya, belum lagi dia yang tak bisa pergi karena terikat kontrak sialan.
Namun meski begitu sebelah hati Airin juga tak ingin pergi dari Alden, andai dia bisa dia ingin selalu bersama pria itu, tapi nyatanya tetap saja tidak bisa.. suatu saat dia juga harus pergi tentu saja saat Alden sudah tak menginginkannya lagi.
__ADS_1
Apakah Airin bodoh karena mencoba bertahan? dan Airin mengakui kebodohannya, wanita mana yang sanggup di sakiti demi pria yang bahkan tak melihat ke arahmu, jika itu orang lain dia pasti sudah pergi..
Airin tersenyum dan melihat ke luar jendela, jika suatu saat dia di tendang pergi setidaknya dia tidak menyesal karena sudah berjuang.
"Apa yang kau fikirkan?" Airin tersentak saat Alden tiba- tiba ada di depannya.
"Oh, kau akan tidur di sini?" Airin bertanya pada Alden dengan senyuman yang sama sekali tak di gubris oleh Alden.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, apa yang kau fikirkan?"
Airin meringis "Oh, aku kagum melihat pasangan Anna dan Roland mereka sangat serasi, juga Roland yang begitu mencintai Anna.."
"Kamu sangat sok tau.." Alden ingin mengatakan jika Roland mungkin sedang bersandiwara karena taruhan yang mereka lakukan,namun mulutnya tidak boleh membocorkan rahasia mereka , Airin mengeryit merasa bingung, apa Alden tidak bisa melihat cinta di mata Anna, dan rasa khawatir yang Roland tunjukan, tapi bagaimana mungkin Alden melihat karena dalam hidupnya tidak ada cinta, yang dia mau hanya sebatas pelampiasan, Airin menggeleng lalu terkekeh.
"Jika bukan karena cinta Roland tidak mungkin sampai sekhawatir itu dan pantang pulang jika dia tak menemukan Anna.." Airin bicara dengan senyum menerawang "Dan aku juga sedang berfikir apakah kelak aku akan mendapatkan pria seperti Roland, yang baik, perhatian dan mencintaiku"
Alden tercenung saat melihat Airin bicara dengan tersenyum membayangkan masa depannya.
Kenyataan bahwa Airin memiliki mimpi yang indah dengan pria impiannya membuat Alden merasakan sesak di hatinya, karena yang pasti pria itu bukan dirinya.
Airin mendengus "Aku tahu" Airin beranjak pergi ke arah pintu.
"Mau kemana kau?" Alden bertanya saat Airin membuka pintu kamar.
"Aku mau menyiapkan makan malam untuk Anna dia pasti lapar setelah tersesat seharian.." Airin menutup pintu kasar, sedangkan Alden mengerjapkan matanya, lihat wanita itu sudah mulai berani sekarang.
...
"Barnes kau lihat ini" Gres menunjukan beberapa foto yang di pegangnya "Apa yang terjadi dengan Alden, apa dia sudah tidak waras.." Barnes melihat foto- foto yang di bawakan Gres, dimana Alden sedang berjalan di pantai dengan Airin.
"Apa dia sudah tidak bisa membedakan mana wanita kelas atas, dia bahkan membawa pelayan itu pergi ke apartemennya.."
__ADS_1
Barnes menghela nafasnya "Lalu apa bedanya dengan para wanita murahan yang sering dia bawa.."
"Tapi Bar, aku hanya khawatir jika Alden mempunyai rasa lebih pada gadis ini.. melihatnya begitu possesiv bahkan saat aku akan memecatnya Alden malah menentang dan membawanya pergi.." Barnes mengerutkan keningnya.
"Jangan bilang kau merasa cemburu dengan gadis itu?"
"A..pa.. apa? kau fikir aku gila!" Gres menjadi gugup.
"Mungkin saja kau masih memiliki perasaan terhadap Alden.." Gres menggeleng tentu saja bagaimana mungkin dia mengangguk, bisa di bunuh dia oleh Barnes..
"Itu tidak mungkin, kau fikir sudah selama ini aku bersamamu untuk apa.. aku dulu memang mencintainya namun sekarang ini aku hanya menganggapnya sebagai putraku saja, dan sebagai seorang ibu aku harus bisa melihat yang terbaik untuk Al.."
Barnes mengangguk lalu berjalan menghampiri istri mudanya yang selalu terlihat cantik dan membuatnya bergairah bahkan di usianya yang sudah tak muda lagi, dengan Gres dia merasa tidak pernah menua..
"Dia tidak akan melakukannya, karena jika itu terjadi dia yang akan rugi sendiri.. kamu ingat perjanjian kita.." Gres menerawang jauh, tak dia pedulikan tangan Barnes yang sudah menurunkan resleting gaunnya.
Gres tersenyum saat mengingat perjanjian antara mereka dengan Alden. lalu Gres mengalungkan tangannya di leher sang suami "Ah ya.. lalu bisa kah kita mengenalkan Alden pada seorang gadis yang akan menjadi jodohnya.."
Barnes tersenyum "Tentu saja, lakukan yang kau mau... sebelum itu.. ayo puaskan aku!"
"Hmm bolehkan aku yang memilihkannya" Gres mulai mendorong Barnes untuk duduk dan dirinya yang mulai naik ke pangkuannya, dengan tangan lentik yang mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Ya, pilihlah dari beberapa rekan bisnis kita.." Barnes memejamkan matanya saat Gres mengecup dadanya.
Harus Gres akui meski Barnes sudah berusia 58 tahun tepatnya beberapa hari lagi, tapi tubuhnya masih terawat dan bugar, dia juga masih terlihat tampan dan Gres cukup menikmati saat melakukan tugasnya.
Dengan senyum menyeringai di balik punggung Barnes, Gres mulai melakukan tugasnya sebagai seorang istri si pria tua kaya raya..
...
Like ..
__ADS_1
Komen..
Vote..