Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Kepedulian Alden


__ADS_3

Airin terus menangis sambil memaki Alden..


"Alden jahat, pria sialan, kurang ajar, brengsek, pria hidung belang.." Airin menyeka ingusnya dan terus menangis "Nenek maafkan cucumu yang durhaka ini.."


"Ya Tuhan, aku ingin pulang dan menemani nenekku.." Pada saat yang sama ponselnya berbunyi, tanpa membuang waktu Airin langsung menerima panggilan tersebut.


"Hallo?"


"Airin, besok operasinya akan berjalan kau masih belum pulang?" seorang suster menghubungi Airin.


"Maafkan aku suster, majikanku masih tidak mengizinkan aku pulang.."


"Maafkan aku Airin, karena aku menawari kamu bekerja disana kau jadi sangat sibuk.."


Airin menggeleng, dia bahkan tak menyadari jika lawan bicaranya sama sekali tidak melihatnya "Tidak suster, jika aku tidak bekerja disini aku tidak akan bisa membiayai nenek ku operasi.."


"Suster bisakah kamu memastikan semua berjalan lancar, kamu bisa beritahu aku setiap detailnya" semua data dan persetujuan Airin sudah di tangan rumah sakit Airin hanya berharap neneknya akan selamat, dan sehat seperti sedia kala.


Suster menghela nafasnya "Baiklah Airin, jaga dirimu disana, dan kami akan mengusahakan yang terbaik untuk nenekmu.."


"Terimakasih suster" Airin kembali menangis saat suster menutup panggilannya.


Dia menangisi keterbatasannya, andai dia bisa keluar pulau dengan mudah, andai jaraknya ke rumah sakit hanya beberapa jam saja, mungkin Airin akan lari, namun karena Airin sedang berada di sebuah pulau yang tak hanya melintasi udara tapi juga lautan, Airin tak bisa bergerak. Belum lagi kontrak sialan yang mengikatnya.


...


"Begitukah?"


"Benar Tuan, dan besok adalah jadwal operasinya, tidak ada anggota lain selain nona Airin"


Alden tercenung, jadi Airin pulang untuk menemani neneknya menjalani operasi, dan penyakit yang di derita neneknya bukan penyakit yang dengan sedikit uang bisa menjalani operasi, apa karena ini Airin menjual dirinya pada Alden.


Alden membuka pintu kamar Airin dengan pelan saat mendengar tak ada suara dari dalam. Alden menghela nafasnya saat melihat Airin tertidur dengan posisi tengkurap.


Alden berjongkok dan melihat jejak air mata di pipi Airin dan juga hidung gadis itu merah, pasti karena terlalu banyak menangis.


Alden merasa bersalah sekarang, bagaimana bisa dia tidak membiarkan Airin pulang, Airin pasti ingin ada disisi neneknya.


Alden bangun dan pergi ke arah dimana Roland dan Ben berada, menyusuri ruang demi ruang hingga tiba di balkon dimana Ben dan Roland sedang berbincang "Aku akan pulang malam ini, kalian masih boleh terus disini" Ben dan Roland mengangkat alisnya.


"Ada apa denganmu?"


"Kau memiliki masalah?" Alden menggeleng.


"Aku hanya sudah bosan, dan ingin pulang" Alden berbalik dan pergi meninggalkan Roland dan Ben.


Mereka tak percaya dengan apa yang di katakan Alden, karena selama ini yang paling Alden benci adalah kata pulang itu sendiri.


"Lalu kau?" Ben bertanya pada Roland.


Roland menyesap minumannya "Aku juga pulang disini mulai membosankan, lagipula Alden juga pulang.." Ben mengangguk setuju.

__ADS_1


"Bagaiman dengan maid yang sedang kau cari?"


"Belum ku temukan.." terang saja sudah beberapa hari ini Roland kedatangan maid yang biasa saja, dan tentu saja langsung dia pecat kembali. hingga asistennya pusing sendiri untuk memilih maid seperti apa yang ingin Roland pekerjakan.


"Ku dengar kau mencarinya di penyalur tenaga kerja.."


"Ya, mommy memang merepotkan"


"Lalu kenapa tidak ambil pelayan keluarga saja."


"Mereka sudah tua, aku tidak suka melihat wanita tua dirumah.."


Ben berdecak "Lalu kau mencari yang seperti apa?"


"Kau tahu tipe ku" Roland menyeringai.


"Jadi kau mau model papan atas menjadi maidmu.." Ben tertawa membayangkan para model itu bekerja pekerjaan rumah di penthouse Roland.


"Ck, setidaknya mereka tidak menjadikan aku sakit mata."


"Jika mereka terlalu cantik kau bisa jatuh hati.." Ben semakin membuat Roland kesal.


"Aku tidak akan menjatuhkan hatiku sembarangan, apalagi hanya pada seorang maid.. bukan levelku.." tiba- tiba tengkuk Roland merinding kaku.. "Ada apa dengan vila ini?" lirihnya.


"Apa..?" Ben tidak mendengar ucapan Roland yang terlalu pelan.


Roland berdehem dan beranjak dari duduknya "Tidak aku akan meminta pelayan merapikan koperku"


...


Airin mengerjapkan matanya perih dia membuka matanya, mungkin karena terlalu banyak menangis jadi kepalanya pusing dan telinganya terasa berdengung, eh.. tunggu sepertinya bukan berdengung tapi jelas itu suara seseorang bicara.


"Kau sudah bangun..?" Airin masih mengerjapkan matanya "Lekaslah bersiap kita akan pulang.."


Airin menurunkan kakinya dari ranjang dan duduk di tepi ranjang lalu bergumam "Begitu inginnya aku pulang hingga aku mendengar pria brengsek itu berkata akan pulang.."


"Kau tidak ingin pulang?" Airin mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja aku mau, tapi tuan brengsek itu tidak mengizinkanku.."


Sepertinya Airin belum sadar sepenuhnya, hingga tak menyadari Alden sedang berdiri memperhatikannya.


"Terserah jika tak ingin pulang, aku dan teman- temanku akan pulang sekarang."


Airin berjengit saat tiba- tiba suara Alden terdengar dekat di telinganya "Kau..?" Alden menaikan alisnya.


"Sepertinya kau belum sadar dari tidurmu.., bersiaplah kita akan pulang!" Alden meninggalkan Airin yang masih menatapnya bingung.


"Apa aku bermimpi?" Airin mencubit diri sendiri dan merasakan sakit "Bukan mimpi.." Airin bangun dengan segera lalu kembali memasukan pakaiannya ke dalam koper, jangan sampai Alden berubah fikiran kembali.


Airin tak berhenti tersenyum sejak keluar dari pulau hingga kini mereka baru saja turun dari pesawat.

__ADS_1


Alden ikut tersenyum tanpa sadar, apakah rasanya sesenang ini, saat melihat orang yang kita pedulikan bahagia.


Alden peduli, tentu saja.. dan ini hanya rasa simpatinya karena nenek Airin yang sedang sakit.


Airin memasukkan kopernya ke dalam mobil Alden, lalu melangkahkan kakinya ke kursi sebelah kemudi dimana supir Alden berada.


Alden mengerut saat melihat Airin sudah duduk dan masih dengan senyumnya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk disana!"


"Eh?"


"Duduk di sini" Alden menepuk tempat di sebelahnya.


Airin menipiskan bibirnya dan keluar dari kursi depan dan masuk ke kursi belakang.


Setelah Airin mendudukan dirinya di sebelahnya, Alden pun memerintahkan supir untuk melaju sedangkan dirinya merebahkan dirinya di atas paha Airin.


Airin tertegun saat tangannya di tarik paksa untuk mengelus rambut Alden, sedangkan Alden memejamkan matanya.


"Aku lelah.." gumamnya.


Airin tak bisa menolak dia akhirnya menurut dan menelusupkan tangannya ke sela- sela rambut Alden yang lembut.


Beberapa lama Alden terpejam dan menikmati usapan Airin.


Airin mengerutkan keningnya saat melewati jalan yang tidak menuju ke rumah besar Alden, "Ini bukan jalan ke rumah anda tuan?"


"Hmm.. aku ada pertemuan di restoran sekitar sini.." Alden bergumam seraya menikmati belaian tangan Airin.


"Kau akan pulang di antar supir"


"Oh, ya.." Tapi tunggu jalan ini menuju rumah sakit dimana neneknya dirawat, tiba- tiba Airin tersenyum dia akan lebih cepat pergi ke rumah sakit tanpa perlu pulang dulu.


Dia kira Alden akan pulang dahulu, barulah nanti setelah pulang bersama Alden dia akan pergi segera ke rumah sakit.


Alden tersenyum dia tahu Airin sedang memikirkan untuk pergi ke rumah sakit, Alden membuka matanya sebentar lalu memejam setelah melihat Airin tersenyum.


Alden turun di sebuah restoran, sedangkan Airin melanjutkan perjalanannya ke rumah Alden... eh.. ke rumah sakit.


Alden menggeleng pelan saat melihat Airin tersenyum ke arahnya, dia tahu Airin sedang berterimakasih karena mempermudah jalannya.


Alden menekan sesuatu di ponselnya lalu bicara dengan seseorang di seberang sana "Pastikan operasinya berjalan lancar, dan dengan dokter terbaik, aku yang akan menanggung semua biayanya"


Alden sendiri merasa bingung kenapa dia melakukan ini semua, hanya saja melihat air mata Airin, seperti ada kesakitan dihatinya.


Dan Alden menyebut ini hanya karena kepedulian terhadap sesama manusia..


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2