Loving You 2: Wanita Pengganti

Loving You 2: Wanita Pengganti
Menjadi Simpanan


__ADS_3

Alden masih memeluk Airin yang masih kelelahan akibat kegiatan mereka di pagi hari, setelah merasa bingung dengan ungkapan Alden, Airin lagi- lagi tak bisa menolak dengan keinginan Alden.


Dan ada perasaan yang membuat Airin merasa hangat, jika biasanya Airin lah yang melayani Alden sepenuh hati kali ini Alden memperlakukannya dengan berbeda seperti pria itu sedang mengungkapkan perasaanya, tak ada kata- kata mesum yang terucap dari bibir Alden biasanya seperti: Kau luar biasa, kau sangat nikmat.. dan kata kata mesum yang lainnya..


Alden seolah hanya menyalurkan semuanya lewat perlakuannya dalam menghentakkan dirinya pada Airin, lembut dan dalam. Mata Alden hanya menatap Airin lembut, dan sesekali memejam karena kenikmatan yang laur biasa yang tercipta saat merasakan jepitan miliknya di diri Airin.


Pangutan bibir Alden terasa lembut penuh perasaan, dan hangat. Untuk pertama kalinya Airin merasa di hargai.


"Aku tak ingin bangun, tapi aku harus bekerja" Gumaman Alden terdengar oleh Airin hingga Airin mendongak menatap pria tampan yang masih mendekapnya, kenapa Alden belum melepaskannya, meski pelukan Alden terasa nyaman tapi tubuhnya serasa lengket karena sesi percintaan mereka yang penuh keringat, tubuh mereka bahkan masih belum mengenakan sehelai benangpun dengan kulit yang saling menempel, dan hanya tertutup selembar selimut saja.


"Kalau begitu pergilah.."


Alden bergumam namun mengeratkan pelukannya, Airin semakin dibuat bingung ada apa dengan Alden.


"Ada apa denganmu?" Alden membuka matanya lalu menunduk melihat Airin yang mendongak ke arahnya.


"Ada apa?"


"Aku tidak mengerti denganmu, kau sedang berusaha memberiku harapan?"


Alden menggeryit "Bukankah sudah ku beritahu, jika kamu akan tetap bersamaku? itu bukan hanya sekedar harapan palsu."


Airin mendorong Alden dan bangun mendudukan dirinya "Lalu perasaanmu?"


"Apa itu penting?" Alden bangun "Apakah tetap disisiku saja tidak cukup untukmu?"


Airin tertegun, jadi apa sebenarnya mau Alden "Tetaplah bersamaku, Airin.." Alden menangkup wajah Airin "Dan perasaanku bahagia denganmu, tentu saja!" Alden memeluk Airin "Tetaplah bersamaku!" Airin merasakan hatinya getir, tapi kenapa dia masih saja ingin bersama Alden..


Sedangkan Alden tak juga memberi kejelasan pada hubungan mereka, apakah dia masih menjadi wanita pengganti Alden atau..?


"Aku akan berangkat bekerja" Alden mengecup dahi Airin, dan lagi- lagi membuat Airin tertegun, hal yang tak pernah Alden lakukan padanya..


Lalu apakah dia harus bersabar sedikit lagi, mungkin saja Alden akan menyadari dan mengungkapkan perasaannya..


Airin tersenyum "Hmmm.."


....

__ADS_1


Airin berjalan ke arah pintu saat mendengar bel berbunyi, mungkin itu pelayan yang datang untuk membersihkan apartemen Alden..


Hari itu saat Alden melarangnya memasak pria itu kembali memerintahkan pelayan untuk datang, dan tak membiarkan memasak kembali, maka setiap pagi pelayan akan datang dan pergi di sore hari.


Namun Airin membeku saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu, seorang wanita yang cantik dan anggun dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.


"Ny..nyonya.."


Mendengus dan masuk, Gres tak pedulikan Airin yang masih terpaku di depan pintu..


"Sepertinya kamu begitu menikmati hidup sebagai wanita Alden.." Gres menatap penampilan Airin yang memakai pakaian mewah berbanding terbalik dengan pakaian pelayan yang di kenakan Airin saat di rumah besarnya.


Airin masih berdiri tegang, tangannya mulai bergetar, apa yang akan nyonyanya lakukan padanya?


"Tenanglah, aku datang bukan untuk melemparmu keluar dari kehidupan Alden" Gres mendudukan dirinya di sofa dan menaikan kakinya di atas kaki yang lain, bertingkah seolah dirinya adalah tuan rumah disana "Duduklah, ada sesuatu yang ingin aku katakan..!"


Airin berjalan dengan pelan dan mendudukan dirinya di depan Gres ,masih dengan tangannya yang gemetar.


Melihat itu membuat Gres semakin menyeringai "Airin..."


"Owh.. pasangan yang romantis" Alden menyeringai saat melihat Anna sedang menyuapi Roland, dan dapat Alden lihat raut Roland tidak bersahabat.


"Sial, apa kau tak bisa mengetuk pintu sebelum masuk!" Roland benar- benar terlihat kesal.


Alden terkekeh "Sorry aku datang membawakan ini.. Ulang tahun Daddyku" Alden meletakan sebuah undangan di meja Roland, saat masuk ke ruang kerjanya dia mendapati sekertaris Barnes menunggu dan memberikan undangan dan tentu saja itu untuk rekan bisnis Alden, termasuk Roland dan Ben "Jangan lupa untuk datang bersama kekasihmu.." Alden mengedipkan matanya pada Anna yang mengerutkan keningnya, dan lagi- lagi Alden merasa lucu ternyata begitu rupanya rasanya bahagia, sudah lama Alden tidak merasa sebahagia ini, dia lupa saat hatinya meletup- letup penuh debaran, sejak pagi Alden tak berhenti tersenyum dia sudah berhasil meyakinkan Airin untuk tetap bersamanya, dan terus menjadi miliknya, lalu bagaimana dengan perjodohannya, persetan Alden tak peduli, Alden akan tetap memiliki Airin, dia brengsek? ya.. asalkan Airin tetap bersamanya.. dan tentu saja harta keluarganya juga tetap menjadi miliknya.


"Aku pergi dulu.." Alden tersenyum sekali lagi kearah Anna yang semakin menukik alisnya.


Hari ini untuk pertama kalinya Alden menggunakan perasaannya saat berhubungan dengan wanita dan wanita itu adalah Airin, hingga saat dia melepaskan semuanya Alden merasakan seperti menghilangkan semua bebannya dan melupakan semua kekecewaannya di masa lalu..


Alden tak menyadari jika apa yang dia rasakan tak hanya sekedar kebahagian sesaat, Alden bahkan berniat menyembunyikan Airin dari dunia, itu artinya Airin hanya akan menjadi simpanannya saja, hebat sekali Airin setelah menjadi pengganti untuk melayani nafsunya, kini Airin akan menjadi seorang simpanan, Alden tidak menyadari hingga jika dia kehilangan mungkin dia akan sangat menyesalinya.


Airin mencintainya, dan dia tidak akan meninggalkannya bukankah Airin akan bahagia dengan hanya terus bersamanya.


Alden akan menjelaskan semuanya nanti dan Alden yakin Airin akan mengerti, dan tetap tinggal bersamanya.


...

__ADS_1


Alden sudah selesai dengan penampilannya dia sudah rapi dan wangi, Airin tersenyum saat Alden nampak gagah dengan stelan resminya, terlihat tampan dan menawan.


Airin tahu Alden akan pergi ke ulang tahun Tuan besar yang tidak lain tidak bukan adalah Daddy dari Alden.


"Apa aku sangat tampan?" Alden mengedipkan matanya saat Airin terus menatapnya dengan tersenyum, dia pasti sedang terpesona.


Airin mengangguk "Hmm tampan sekali, dan selalu tampan setiap hari!" Airin mengusap jas Alden seolah tidak boleh ada debu disana.


"Tunggulah aku pulang.." Airin mengangguk, dan untuk kedua kalinya Alden memberinya kecupan di dahinya, membuat Airin semakin menaruh harapan besar pada Alden suatu hari pria itu akan mencintainya. "Setelah selesai aku akan segera pulang.." Alden memeluk pinggang ramping Airin, seolah dia enggan untuk pergi.


"Ya, segera pergi.. agar cepat kembali" Airin menarik tangan Alden lalu pergi kearah pintu.. dan mendorong Alden dan melambaikan tangannya.


Alden masih tersenyum bahkan sejak kemarin senyumnya tak surut sedikitpun untuk Airin..


Setelah pintu tertutup Airin menghela nafasnya, tepat saat itu ponselnya berdering.. dengan menelan ludahnya kasar Airin mengangkat panggilan tersebut.


"Airin.. bukankah sudah ku bilang di rumah besar butuh lebih banyak pelayan, cepatlah datang!"


"Aku akan segera datang nyonya.."


...


Aku bingung mau ngomong apa..


wes lah..


Like.. boleh.


Komen.. juga.


Vote.. kalau ada.


Bunga.. atau Kopi.. silahkan..


Kalau tak ada..


Wes pasrah saja lah.. 😅

__ADS_1


__ADS_2