
"Tidak, Airin hanya wanita pengganti untukku, jadi itu tidak mungkin.. Aku juga tidak mungkin mengorbankan semua hartaku hanya untuk wanita pengganti.."
Airin berjongkok di pinggir jalan dengan menutup telinganya, ucapan Alden jelas terdengar olehnya, dan kini terus terngiang di telinganya, Airin awalnya datang ingin bertanya secara langsung pada Alden apa yang sebenarnya terjadi, dan akan meminta penjelasan dari pria itu tentang foto- foto yang di dapatnya, dari Gres dan Cassandra, menempuh perjalanan jauh dari pinggir kota dengan taksi yang dia naiki, Airin bahkan pergi diam- diam tanpa memberi tahu pelayan Alden, namun saat masuk ke apartemen pria itu Airin justru mendengar sendiri dari mulut pria itu bahwa dia tak lebih dari seorang wanita pengganti.
Apakah dia begitu bodoh hingga percaya pada Alden dan kata- kata cinta yang di ucapkan pria itu.
Airin melihat sekelilingnya apa yang harus dia lakukan sekarang, Airin meremas ujung kemejanya dia tak mau kembali ke rumah Alden dan menjadi wanita pengganti bagi pria itu, yang bisa di simpan dan di ganti dengan wanita lainnya, apalagi Airin memikirkan anaknya yang kini berada di dalam perutnya.
Airin menyerah dia sudah lelah biar saja dia sendiri mulai sekarang. Airin mendudukan dirinya di kursi taman memandang jauh ke depan dimana anak- anak sedang bermain dengan gembira, Airin mengusap perutnya yang masih rata seraya bergumam "Mom akan merawatmu sendiri.." Airin mengeluarkan dompetnya lalu memeriksa isinya, Airin menghela nafasnya saat uangnya tinggal sedikit, karena taksi yang dia tumpangi ingin uang lebih.
Airin bangkit dan memutuskan akan menarik uang dari ATM nya agar bisa dia gunakan beberapa waktu kedepan.
Airin akan pergi jauh dan meninggalkan kota, pergi jauh dari Alden dan semua keramaian.
....
Alden menghembuskan nafasnya saat semuanya sudah terungkap, dan Daddynya kini sedang terdiam dengan raut yang begitu marah dan kecewa.
"Aku akan pergi.." Luke dengan Gres sudah Barnes serahkan ke polisi atas tuduhan perselingkuhan dan tuntutan lain yang akan Barnes layangkan setelah ini, sekarang saatnya dia menenangkan hatinya yang bergejolak marah.
Barnes ingin mencekik Gres hingga mati namun dia mengingat lagi jika hidupnya terlalu berharga untuk menyentuh wanita iblis sepertinya.
"Tugasku sebagai putramu sudah selesai.."
"Al.. mengenai hartamu.." Barnes mendongak melihat Alden yang sudah berdiri.
"Aku tidak membutuhkannya, aku tak rela menukar cintaku hanya demi harta.. tugasku hanya membuka matamu bahwa cinta yang kau lihat hanya cinta buta.."
Barnes terkekeh pilu "Kau benar, sebenarnya syarat yang ku berikan hanya untuk menunjukan padamu bahwa cinta yang tulus akan selalu menang, dan kau memang mampu membuktikannya namun justru akulah yang salah dalam menilai cinta, berfikir bahwa Gres benar- benar mencintaiku, dan kau akan memahami nya kelak jika kau jatuh cinta.." Barnes menghela nafasnya "Pergilah lakukan yang harusnya kau lakukan dengan kekasihmu.. "
"Daddy mengetahuinya?"
"Daddy selalu mengawasimu, dan untuk pertama kalinya Daddy melihatmu bersemangat.." Barnes terkekeh "Daddy kira kau akan meninggalkan harta dan memilih wanita itu, namun kamu berhasil menipu Daddy dengan memilih melakukan perjodohan, namun rupanya itu juga sebuah sandiwara untuk membongkar kejahatan Gres.."
"Kau mengawasiku, tapi tidak tahu apa yang di lakukan istrimu" Alden mengangkat alisnya.
Barnes hanya menyeringai pedih..
Dan Alden yakin Daddynya pasti tahu semuanya, namun tetap diam hanya karena cinta.. Ah.. cinta memang gila!.
__ADS_1
"Aku rasa aku sangat bodoh.." keluh Alden.
Dan Barnes hanya terkekeh "Aku rasa selama tidak tahu dari mulutnya sendiri aku akan menutup telingaku, namun nyatanya mendengarnya secara langsung memang begitu menyakitkan.."
"Berhentilah menjadi pria yang gila dan bodoh Dad.." Alden menepuk pundak Barnes, dan Barnes pun hanya mengangguk.
Alden melangkah pergi dengan hati yang ringan semuanya sudah selesai, dan sekarang dia akan menjemput Airin dan segera menikahi wanita itu sebelum bayi mereka semakin membesar, dan akan dia buktikan pada Ben dan Roland bahwa dirinya lah yang akan menikah lebih dulu.
Senyum tampan tak lepas dari bibir Alden tanpa dia ketahui perjalanannya menjemput Airin akan sangat panjang.
...
Alden melangkah masuk ke dalam rumah, melihat dua paper bag di tangannya dia akan memberikan kejutan untuk Airin.
"Baby.."
Alden mengerutkan keningnya saat melihat kamar mereka kosong, memeriksa seluruh isi kamar hingga kamar mandi, namun Airin tidak disana.
Alden kembali ke lantai bawah mungkin Airin sedang di taman atau di dapur.
"Kemana Airin?" Tanyanya kepada dua pelayan, yang Alden minta menjaga Airin.
"Nona sejak pagi tinggal di kamar Tuan, katanya dia merasa tidak enak badan.." Alden mengerutkan keningnya, dia baru saja keluar dari dalam kamar namun tidak menemukan Airin.
"Benar tuan, kami baru akan membawakan makan malam untuk Nona Airin,"
Alden merasa jantungnya berdebar kencang "Aku baru dari kamar, dan tidak menemukannya, cepat periksa seluruh rumah!" perintah Alden, dan dengan kaku pelayan mengangguk dan segera mencari Airin.
Alden berjalan ke pos keamanan untuk memeriksa cctv, Alden bergerak cepat karena rasa takut mulai mengisi hatinya.
Alden melihat dan memeriksa cctv beberapa jam lalu, dan melihat Airin pergi keluar gerbang, ini sudah malam dan Alden mulai khawatir bagaimana jika terjadi sesuatu pada Airin.
Alden melajukan mobilnya dan mencari di jalanan mungkin saja Airin tersesat dan tak bisa pulang, namun nihil Alden tak melihat Airin dimana pun.
Flashback Off..
...
Roland menghela nafasnya saat baru saja mendengar cerita Alden, melihat Alden begitu frustasi tak bisa menemukan Airin selama tiga bulan ini membuatnya terenyuh, dia juga pernah merasakannya saat Anna pergi, namun beruntung dia tak berpisah terlalu lama dengan Anna.
__ADS_1
"Hingga sekarang kau tidak tahu apa yang mendasarinya pergi?" Alden menggeleng.
"Aku tidak tahu, saat sebelum kami pergi untuk pertunangamu, Airin masih baik- baik saja.."
"Dia tak punya kerabat lainnya?"
Alden lagi- lagi hanya menggeleng "Hanya neneknya dan itupun sudah tiada.."
Roland lagi- lagi menghela nafasnya haruskah dia beritahu jika Anna kini sedang bertemu dengan Airin.
Roland menggeleng dia tak mungkin memberi tahu Alden, Anna bisa menghukumnya dan tidak memberinya jatah malam bisa habis dia jika tidak bercinta dengan Anna, ayolah mereka masih pengantin baru.
Roland kembali melihat Alden yang berpenampilan kacau, dia sudah mengerahkan detektif namun entah Airin tersembunyi dimana hingga Alden tidak bisa menemukannya.
Cekungan di pipinya terlihat mungkin karena sering kali Alden tidak makan, atau tidur "Bagaimana dengan Airin, atau bagaimana dengan bayi kami.." ah.. benar Alden juga tak hanya kehilangan Airin tapi juga bayinya.
Alden menundukkan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
...
Anna mengusap air matanya saat Airin mengakhiri ceritanya, Alden benar- benar brengsek, dia sungguh menyakiti Airin hingga ke dasar.
"Apa aku begitu menyedihkan?" Airin melihat Anna bahkan terisak.
Airin terkekeh lalu memberikan Anna tisu, dan langsung diraih Anna dengan cemberut "Sudahlah jangan begitu, aku memang menyedihkan tapi jangan menunjukannya di depanku."
Anna menghela nafasnya untuk meredakan tangisnya. "Lalu bagaimana dengan bayimu, bukankah harusnya sekarang usianya sekitar empat bulan?" Airin terdiam, dan Anna melihat perut Airin yang rata, di usia kandungan itu harusnya sudah terlihat, perut Airin harusnya punya tonjolan, namun Airin..
Airin tersenyum namun matanya mengeluarkan air mata.
"Astaga, Airin.."
...
Jadi ini cerita dua versi ya, Alden yang bercerita ke Roland, dan Airin yang bercerita ke Anna..
Ngerti kan, ngerti dong? kalau gak ngerti komen di bawah👇 biar aku jelaskan lagi😅.
Like..
__ADS_1
Komen..
Vote..