Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
11


__ADS_3

Aku tertunduk, apa yang bisa aku katakan saat ini. Kak Lio sudah berada didepanku dan bicara tidak enak buat hatiku. Aku tidak bermaksud minta ia temani aku makan. Aku hanya lupa kalau ia sedang berada di sana dan bisa mendengarkan apa yang aku katakan.


"Kamu itu terlalu manja ya, makan saja berisik."


Kata-kata itu membuat nafsu makan aky jadi hilang. Ia bilang aku manja, dan bilang saat makan saja aku berisik. Rasanta hati ini sakit saat dibilang aku terlalu manja. Padahal, di rumah, aku tidak manja. Hanya saja, saat makan aku biasa makan bersama mama dan papa. Jika mereka tidak ada di rumah, bibik dan pak sopir selalu menemani aku makan. Jatuhnya, aku terbiasa makan bersama oranf lain saat di rumahku. Apakah itu manja saat aku hanya butuh teman untuk makan? Bukankah itu wajar-wajar saja bagi aku.


Aku menghentikan niatku untuk makan. Aku sudah tidak ingin makan lagi saat ini. Aku bangun dari dudukku, walaupun perut ini rasanya lapar, tapi hati ini rasanya sakit.


"Aku sudah kenyang, aku naik dulu," ucapku sambil menahan air mata.


"Siapa yang mengizinkan kamu naik. Habiskan makanan kamu baru bisa naik keatas," kata kak Lio.


"Aku sudah kenyang, nanti baru bisa makan lagi."


"Aku bilang habiskan makanan kamu!" kata kak Lio menbentak aku.


"Jangan paksa aku kak, aku bukan boneka yang bisa kalian paksa sesuka hati kalian. Aku ini masunusia, punya hati dan punya keinginan aku sendiri. Kalian tidak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi aku, kalian selalu egois dengan diri kalian sendiri."

__ADS_1


Saat ini, air mataku sudah jatuh. Kak Lio hanya melihat aku tanpa bicara sepatah katapun. Aku merasa sangat kesal dan sedih. Aku tidak pernah merasakan hal ini, sejak aku disakiti oleh seseorang. Ini yang kedua kalinya aku merasakan hal yang sama karna laki-laki.


"Kalian laki-laki selalu menganggap diri kalian benar. Kalian selalu menyalahkan wanita hanya karna apa yang kalian pikirkan. Dari awal aku tidak mau masuk kedalam rumah ini. Tapi takdir mengatakan lain, aku tetap saja dikirim kerumah yang tidak pernah aku inginkan. Aku tidak suka di sini namun aku tidak pernah bisa mengatakan tidak suka pada takdir, karna takdir tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Aku benci pada semuanya," kataku sambil berlari meninggalkan kak Lio sambil air mataku berurai.


........


Adelio POV


Aku sibuk dengan pekerjaanku saat Vanny bilang sama bibik kalau ia ingin makan bersama bibik. Aku tahu kalau Vanny tidak pernah makan sendiri di rumahnya. Karna sebelum berangkat keluar kota, Nessa sudah bilang padaku apa yang adiknya biasa lakukan dan tidak biasa lakukan.


Nessa sudah bilang padaku, kalau ia minta aku menjaga adiknya dengan baik saat dia tidak ada. Adiknya agak susah saat makan, dan selalu diingatkan kalau harus mau makan.


Awalnya, Vanny tidak terlihat berharap aku yang menemaninya makan. Namun, hal itu membuat hatiku merasa sedikit kesal sehingga aku bicara sesuka hatiku pada Vanny.


Perkataanku pada Vanny ternayat membuat gadis itu merasa sangat kesal bahkan sedih. Ia mengentikan niatnya untuk makan. Ia juga mengeluarkan isi hatinya padaku. Ia melepaskan semua kekesalannya yang terlihat sudah lama ia simpan dalam lubuk hati terdalamnya.


Vanny bahkan bilang semua lelaki itu sama saja. Sukanya menang sendiri dan terlalu egois. Aku baru ingat, Nessa pernah bilang kalau ia sudah lama menutup hatinya buat laki-laki. Karna ia pernah tersakiti yang membuat ia tidak pernah membuka hatinya lagi buat semua laki-laki.

__ADS_1


Sebenarnya, aku tidak berniat membuat Vanny sakit hati dan mengingat luka lamanya. Namun semuanya telah terjadi, aku tidak bisa menarik kata-kataku lagi. Semuanya telah terlepas, mana bisa aku tarik lagi.


Vanny bahkan menangis saat ini. Yang parahnya, aku tidak bisa membujuknya, aku tidak bisa melakukan apa yang biasa aku lakuakn pada Nessa. Saat Nessa sedih, aku selalu berinisiatif untuk menenangkannya. Namun saat Vanny sedih, aku merasakan, hatiku ikut sedih ketika melihat air matanya jatuh. Kenapa perasaanku pada Vanny dan Nessa sangat jauh berbeda. Apa yang sebenarnya aku rasakan pada Vanny ini.


Saat Vanny meninggalkan aku, aku bahkan tidak bisa mengejarnya. Tubuhku seakan terbius oleh kesedihan yang Vanny tunjukkan. Bukan aku tidak perduli oada Vanny, tapi aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada Vanny.


Aku tidak ingin jatuh cinta pada Vanny. Dan juga, tidak ingin menyakiti Vanny. Tapi apa yang aku lakukan malah selalu bertentangan dengan apa yang aku mau. Vanny dan Nessa sangat jauh berbeda bagi aku.


Vanny bilang ia sangat tidak suka berada di rumah ini. Kata-kata itu terlihat benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia terlihat tidak mengarang kata-kata itu. Aku salah menilai Vanny, ternyata ia terpaksa menikah dengan aku. Aku salah mengira Vanny masuk kerumah ini karna ia ada misi tertentu. Aku tahu Vanny itu sangat polos hanya dengan melihat mata beningnya yang bercahaya.


"Tuan, Nyonya muda masih belum makan sedikit pun. Bukan hanya hari ini, ia juga belum makan dari kemarin," kata bibik yang terlihat sedikit cemas.


"Gak papa bik, aku akan membujuk Vanny untuk makan lagi sekarang. Bibik panaskan saja makanan, biar aku yang membujuk Vanny."


Aku pun meninggalkan meja makan. Aku berjalan menuju kamar Vanny yang letaknya dilantai atas. Aku ketuk pintu kamar itu saat aku sudah sampai. Tapi tidak ada jawabannya sama sekali. Aku ingin membuka pintu kamar itu, namun pintu itu terkunci dari dalam.


Aku mendekatkan kupingku di pintu kamar. Aku mendengar ada yang merintih dari dalam kamar itu. Suara rintihan itu seperti rintihan kesakitan, bukan rintihan kesedihan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi, aku dobrakkan saja pintu kamar Vanny. Karna aku sangat cemas saat mendengar rintihan yang berasal dari dalam kamar ini. Siapa lagi yang sakit kalau bukan Vanny. Aku takut sesuatu terjadi pada Vanny. Dan aku yang akan disalahkan oleh semua keluarga Vanny, termasuk Nessa. Ia akan sangat marah jika tahu adiknya sakit.


__ADS_2