
Setelah hari agak siang, bibik baru datang menjemput aku. Rasanya, aku menunggu bibik sudah sangat lama. Niatnya, aku ingin pulang duluan saja. Namun, pihak rumah sakit melarang aku pulang. Kata mereka, suamiku telah berpesan tidak boleh membiarkan aku pulang sebelum ada yang menjemput aku.
Akhirnya aku bisa menghirup udara segar juga saat keluar dari rumah sakit. Sehari di rumah sakit, bagaikan seminggu bagiku.
"Lho, Nyonya kayaknya senang banget saat keluar dari rumah sakit," ucap bibik yang merasa aneh saat melihat aku.
"Baru juga sehari Nyonya tidak berada diluar, tapi kayak sudah berminggu-minggu tidak mencium udara luar," kata bibik lagi.
"Hehehe ... didalam sana itu gak enak bik. Pengap dan bikin mood gak baik," ucapku.
Kami pun pulang kerumah dengan taksi yang bibik tumpangi tadi. Bibik dan aku sudah mulai dekat sekarang. Ya karna aku memang tidak pernah menjaga jarak antara aku dan orang yang bekerja di rumahku.
"Nyonya muda, saya tidak pernah berada satu mobil dengan Nyonya Nessa selama saya bekerja di rumah Tuan Lio. Makanya tadi saya mau pesan mobil yang berbeda dengan Nyonya muda," ucap bibik.
"Kakakku memang begitu sifatnya bik, ia agak sedikit menjaga jarak dengan orang lain."
"Tapi kalau aku, tidak masalah bagiku semobil dengan siapa saja. Tidak perlu jaga jarak dengan orang yang kita kenal. Apalagi kita tinggal serumah dengan orang itu," kata ku lagi.
"Nyonya muda dan Nyonya Nessa sangat jauh berbeda ya. Nyonya Nessa tidak akan pernah bicara padaku jika ia tidak ada perlu. Tapi Nyonya muda malah mau ngobrol dengan saya," kata bibik itu lagi.
Aku hanya senyum mendengarkan apa yang bibik katakan. Aku sudah tahu betul siapa kak Nessa selama ini. Ia tidak akan bicara pada orang yang ia agap punya kedudukan rendah dimata dia.
Tidak terasa, kami sampai kerumah. Karna asik ngobrol, jadi rasanya, jarak rumah sakit dan rumah itu sangat dekat.
"Nyonta muda sebaiknya istirahat di kamar. Saya akan buatkan makanan untuk Nyonya muda," kata bibik.
"Aku gak papa bibik, aku sudah cukup istirahatnya kemarin. Hari ini, aku juga ingin masak bersama bibik. Mumpung di rumah hanya ada kita berdua," kataku.
"Jangan Nyonya muda, saya takut Tuan Lio marah kalau tahu Nyonya bantuin saya masak."
__ADS_1
"Lho, kenapa kak Lio marah aku mau masak?"
"Nyonya muda baru keluar dari rumah sakit. Tuan Lio pesan sama saya, saat Nyonya muda pulang, Nyonya muda harus istirahat untuk memulihkan tubuh."
"Kak Lio gak akan tahu kalau aku masak bik, karna dia tidak ada di rumah. Mungkin juga dia akan pulang malam karna kak Nessa tidak ada di rumah."
"Tapi Nyonya ...."
"Jangan cemas bibik, aku sering masak kok di rumah. Jadi aku gak akan mengecewakan bibik kalo soal masak memasak. Aku juga gak akan menghancurkan dapur bibik nantinya," ucapku.
"Bukan itu masalahnya Nyonya, saya tidak meragukan masakan Nyonya kok. Hanya saja, jika Tuan Lio tahu, saya bisa gawat Nyonya."
"Jangan sampai dia tahu bik. Dan kalaupun dia tahu, aku yang akan tanggung jawab semuanya."
Akhirnya, bibik menyerah untuk melarang aku untuk masak. Bibik tidak punya cara lagi untuk mencegah aku masak.
Aku meminta bibik untuk tidak membantu aku di dapur. Aku meminta bibik mengerjakan pekerjaannya yang lain. Lagian, aku masak buat nebus rasa bersalahku karna sudah membuat yang lain susah hanya karna aku sakit. Aku sudah membuat pekerjaan bibik terganggu. Aku juga membuat kak Lio jadi harus ikut nginap di rumah sakit.
Karna hal itulah aku berani masak di rumah kak Lio. Karna aku yakin, masakan aku nantinya tidak akan mengecewakan.
Aku mulai masak di dapur, sedangkan bibik melakukan pekerjaannya yang terhambat karna menjemput aku kerumah sakit tadi.
......
"Huft ... selesai juga akhirnya," ucapku sambil melihat makanan yang tertata diatas meja.
"Wah, Nyonya muda ternyata punya bakat masak yang luar biasa ya," kata bibik.
"Hanya hobbi yang bisa membuat aku gak akan kelaparan saja bik," kataku sambil senyum.
__ADS_1
"Nyonya bisa aja, tapi semua masakan ini memang sangat lezat lho rasanya."
"Jangan terlalu memuji aku bik. Nanti aku akan kehilangan kendali, malah jungkir balik lagi karna pujian bibik."
Bibik tersenyum saat mendengarkan apa yang aku katakan. Aku juga merasa sangat bahagia saar aku bisa berdamai dengan penghuni rumah ini. Walaupun penghuni rumah ini hanyalah sebagai pekerja saja. Tapi itu sudah membuat aku merasa tidak asing saat berada di rumah kak Nessa ini.
Selesai masak, aku pun masuk kekamar. Istirahat di kamar sambil melihat ponselku yang sudah lumayan lama tidak aku sentuh. Karna aku tidak menggunakan ponselku saat komunikasi sama mama dan papa. Aku hanya menggunakan telfon rumah saat komunikasi dengan mama dan papa.
Saat aku membuka ponsel, aku melihat pesan singkat dan telfon masuk dari nomor kak Nessa. Aku membuka pesan singkatnya yang mengatakan kalau ia mungkin akan lama diluar kota. Seharusnya satu minggu, ia menambah jadwalnya menjadi dua minggu.
Aku membalas pesan singkat itu, tapi tidak dibaca oleh kak Nessa. Aku berpikir, mungkin kak Nessa sesang sangat sibuk saat ini. Aku memutuskan untuk tidur saja, karna aku tidak punya kegiatan apapun lagi.
Baru saja mau tidur, pintu kamarku malah diketuk oleh seseorang. Aku ingin membukanya, tapi orang itu malah sudah membuka pintunya sendiri. Aku lupa, kalau pintu kamarku tidak bisa aku kunci lagi. Karna kuncinya sudah rusak akibat kak Lio mendobraknya kemarin.
"Vanny, gimana keadaan kamu saat ini?" kata kak Lio yang baru saja muncul.
"Aku baik-baik saja kak."
"Syukurlah kalo gitu. Apa kamu sudah makan?"
"Aku masih kenyang, karna tadi pagi aku udah makan kak."
"Itu bukan makan namanya, kalo tadi pagi itu sarapan. Ayo makan bareng aku sekarang," ucap kak Lio yang masih berada diambang pintu.
"Tapi ... aku masih kenyang kak. Kak Lio makan aja duluan ya," ucapku menolak.
"Vanny, kamu mau bikin aku menginap di rumah sakit lagi ya?"
"Gak kok kak."
__ADS_1
"Kalo ngak, ayo makan bersama aku sekarang. Aku sudah sangat lapar saat ini."