Madu Adik Kakak

Madu Adik Kakak
32


__ADS_3

"Sudahlah Vanny, jika kamu tidak ingin menceritakannya, maka jangan ingat apapun tentang dia. Aku tahu, itu pasti sangat berat buat kamu kan?" kata kak Lio sambik memegang tanganku.


"Malam ini, aku akan tinggal di rumah kamu yah," kata kak Lio sambil memperlihatkan senyum termanisnya untuk menghibur aku.


"Tapi kak, bagaimana dengan kak Nessa. Nanti ia akan sedih jika kakak selalu nginap di rumah."


"Aku gak papa kok kak, jangan cemaskan soal aku yah."


"Vannya, apa yang terjadi hari ini sudah membuat hatiku sangat sedihkan? Nessa juga akan ngerti kok Van."


"Tapi kak."


"Jangan ada kata tapi Vannya, aku tahu kamu butuh teman buat berbagi cerita. Jangan pikirkan Nessa, ia bisa maklum kok."


Pada akhirnya, aku tidak punya hak apapun untuk melawan kerasnya keinginan kak Lio untuk menemaniku.


Aku hanya bisa berharap, semoga saja, kak Nessa tidak pernah benci padaku, karna aku telah membuat kak Lio jarang ada untuknya.


Bukan hanya itu, aku juga sudah mencuri hatinya kak Lio dari kak Nessa. Aku susah menyatukan hatiku dengan hati kak Lio, menjadi satu hati.


Aku juga sudah memberikan hal sebagai istri pada kak Lio seminggu yang lalu. Tanpa ada pertimbangan apapun lagi. Aku berani menyerahkan mahkota berhargaku pada kak Lio seminggu yang lalu.


Setelah tiga bulan aku pindah kerumah ini. Aku dan kak Lio tidak lagi seperti orang asing, yang selalu menjauh. Aku dan kak Lio, malahan semakin dekat dan saling memiliki cinta.


Kak Lio bilang padaku, ia mencintai aku tanpa menggeser posisi kak Nessa di hatinya. Ia bilang, hatinya muat untuk dua orang sekaligus.


Hal konyol itu ternyata mampu membuat aku tak berdaya. Hingga aku jatuh kedalam pekukan kak Lio, bahkan telah memilih menjadi istri lahir batinnya kak Lio. Bukan hanya tercatat di atas kertas lagi.


.....


"Jangan bersedih lagi cantik, kamu tidak pantas bersedih hanya karna sampah yang tidak berguna itu," kata kak Lio sambil membelai pipiku.


"Aku gak sedih kok kak, siapa yang bersedih sih," kataku sedikit memanyunkan bibir merah ini.


"Ya ampun, aku pikir kamu masih bersedih. Ternyata, si nakal ini sudah bahagia," kata kak Lio mencubit kedua pipiku.


"Kak Lio apaan sih, sakit tahu gak. Berangkat sana, nanti kakak telat kerjanya," kataku sambik mendorong kak Lio menuju pintu.

__ADS_1


"Dasar nakal, habis manis sepah dibuang kamu yah."


"Ih bukan gitu lho kak, aku itu tidak ingin kak Lio sampai sore gak berangkat-berangkat juga."


"Iya udah, iya deh, aku berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik yah, ada apa-apa, cepat kabari," kata kak Lio sambil mencium pucuk kepalaku.


Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku. Tidak banyak yang bisa aku katakan, intinya, aku sekarang bahagia.


Hidupku tiba-tiba saja berubah dengan sangat cepatnya. Berubah jauh, hampir sembilan puluh drajat jauhnya.


.....


Pov Adelio


Saat aku membuka pintu mobil, aku melihat mobil Venessa sudah terparkir di depan parkiran kantorku.


Aku menghampiri mobil itu untu melihat, adakah Venessa di dalam mobil, atau sudah masuk kedalam kantorku.


Tumben, biasanya tidak pernah ia datang kekantorku. Apalagi ini terlalu pagi, dan masih belum ada kerjaan kantor.


"Pak Lio, ibuk Venessa sedang menunggu bapak di ruangan bapak," kata salah satu pegawaiku.


"Oh, baiklah."


Aku tidak bicara banyak lagi. Mengucapkan terima kasih juga tidak sama sekali. Aku langsung saja menuju ruanganku untuk bertemu Venessa.


Venessa sedang duduk di sofa, sambil memainkan ponseknya. Ia duduk seperti biasa, bersilang kaki dan bergaya seperti wanita karier sesungguhnya.


Venessa bangun saat melihat aku masuk kedalam ruanganku. Ia menghampiri sambil menatap lekat wajahku.


"Kamu nginap di rumah Vannya lagi ya mas?" kata Venessa tanpa basa-basi lagi.


"Iya, aku nginap di sana tadi malam."


"Kamu lupa yah, kalau kamu udah ada janji sama aku tadi malam mas Lio," kata Nessa sedikit kesal.


"Aku gak lupa sama janjiku Nessa, hanya saja, Vanny sungguh tidak bisa aku tinggali sendiri tadi malam."

__ADS_1


"Kenapa sama Vanny memangnya?"


"Ceritanya panjang, tidak akan selesai satu jam jika akau ceritakan," ucapku berkelit.


"Kamu kesini ada apa sebenarnya, tidak mungkin hanya mau bahas soal aku nginap di rumah Vannya aja kan?"


Nessa terdiam, aku lihat ia tertunduk. Aku tahu siapa Venessa yang sebenarnya. Ia tidak akan mempermasalahkan aku ingkar janji tadi malam. Toh, janji itu aku yang buat. Aku janji akan ajak Nessa makan malam di hotel.


Tapi tidak bisa aku laksanakan, karna Vannya lebih penting dari makan malam itu.


"Ada apa Nessa, katakan saja jika ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan."


"Ini soal suntikan dana di prusahaan aku mas. Kita janji akan bahas soal ini tadi malam bukan?"


Sudah aku tebak, ia akan membicarakan soal suntikan dana buat perusahan yang ia pengang selama ini. Jika bukan soal ini, Nessa yang tidak perduli padaku ini, tidak akan datang kekantorku.


"Nanti kita bahas soal suntikan dana itu Nessa. Setelah jam makan siang, aku tunggu kamu di cafe sebelak," ucapku sedikit malas.


"Baik mas, aku izin pergi dulu."


Aku melepas napas berat yang sedari tadi aku tahan. Rasanya terlalu berat untuk aku hembuskan.


Apa yang aku harapkan dari Nessa sebenarnya, aku sudah tahu siapa Nessa. Kenapa aku malah masih berharap, ia datang


dengan maksud cemburu. Itu tidak akan pernah terjadi sebenarnya.


Nessa tetaplah Nessa, ia tidak butuh kasih sayangku. Ia hanya butuh materi yang aku punya. Aku tidak akan merasakan ketenangan apapun untuk hati, jika sama Nessa.


Berbeda halnya dengan Vannya, aku selalu merasa nyaman jika bersama dia. Vannya akan selalu membuat aku merasa begitu berarti hadis di dunia ini.


Vannya memberikan warna indah dihidupku. Tidak mengusamkan warna indah yang aku punya. Ia malah menambahkan warna indah yang aku miliki.


"Kalian berdua sangat berbeda, jauh dari yang aku bayangkan dan jauh dari hayalanku. Aku malah nyaman saat berada di sisi kamu Vanny," ucapku sambil melihat bingkai foto yang aku letakkan di atas meja.


Di atas meja kerjaku, bukan hanya ada bingkai foto Nessa sekarang. Tapi juga ada bingkai foto Vannya. Yang selalu memberikan semangat hidup yang berbeda buat aku.


Bingkai foto Nessa hampir tidak pernah aku sentuh lagi. Yang selalu aku sentuh, hanyalah bingkai foto Vannya.

__ADS_1


__ADS_2