
Adelio POV
Ponselku berdering beberapa kali, aku hanya melihat saja panggilan masuk dari Venessa. Aku tidak berniat menjawab panggilan dari Venessa, karna aku kesal dengan sikapnya.
Ia selalu membuat aku kesal dengan sikapnya selama aku di rumah Vannya.
Dulu, ia yang meminta aku menikahi Vannya. Dan memaksa aku untuk menjadi suami Vannya seutuhnya. Tapi sekarang, ia malah terlihat cemburu saat aku selalu bersama Vannya.
Mungkin karna Vannya sedang hamil saat ini. Membuat hati Venessa sedikit terguncang, karna ia belum bisa hamil.
Ponsel ini berbunyi lagi, mengalunkan nada yang membuat hatiku menjadi kesal. Aku tidak punya pilihan lain selain menjawab panggilan yang masuk ini.
"Hallo, ada apa?"
"Hallo Tuan, apa saya bicara dengan Tuan Adelio?" kata seseorang di seberang sana. Suaranya terasa sangat asing di telingaku.
"Iya, ini saya sendiri. Ada apa ya? Dimana Venessa?" kataku penasaran.
"Maaf Tuan, saya adalah suster dari rumah sakit Karang Agung. Saya ingin mengabarkan, kalau saudari Venessa sedang berada di rumah sakit ini. Kondisinya sangat memperihatinkan. Saya harap, Tuan bisa datang dan mengurus semuanya."
"Ke ... kenapa dengan Venessa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia bisa berada di rumah sakit."
Aku panik, sangat panik saat ini. Kabar yang suster itu berikan mampu membuat aku kehilangan kendali.
"Saudari Venessa mengalami kecelakaan lalu lintas Tuan. Saya tidak bisa menceritakab kronologi kecelakaannya. Yang jelas, mereka bertiga terluka parah," kata suster itu.
"Bertiga?"
Aku kaget dengan kata mereka bertiga yang suster itu ucapkan. Dengan siapa sajakah Venessa di dalam mobil itu. Kenapa bisa bertiga?
"Maaf Tuan, saya harap Tuan bisa segera datang kerumah sakit Karang Agung ini."
"Iya, iya, saya akan kesana sekarang."
Aku memutuskan panggilan ini, melihat mejaku dan menatap bingkai foto Venessa.
Aku memang lemah, lemah dalam segala hal. Tidak bisa menjaga apa yang aku punya. Tidak bisa menjaga orang yang aku sayang.
Ku lagkahkan kaki ini menuju rumah sakit Karang Agung. Aku berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Maaf suster, apakah ada korban kecelakaan atas nama Venessa yang baru masuk rumah sakit ini," kataku dengan sangat tergesa-gesa.
"Tunggu sebentar ya mas, saya cek dulu daftar pasien yang masuk hari ini," kata suster itu dengan cepat membuka laporan pasien rumah sakitnya.
"Ayo Sus, cepat!" kataku tidak sabar lagi.
"Sabar mas, saya sedang mengecek data pasiennya."
Hampir lebih dari lima menit aku menunggu dengan gelisah. Suster itu belum juga menemukan data sial Venessa yang masuk rumah sakit ini.
Apakah aku salah masuk rumah sakit sekarang? Apakah bukan rumah sakit ini yang menelfonku tadi?
Jangan-jangan, aku dikerjai oleh Venessa. Mungkin ia tidak mengalami kecelakaan. Ia hanya ingin membuat aku panik, dan melihat kalau aku masih peduli dengannya.
Awas saja kalau itu benar-benar terjadi. Aku akan ceraikan Venessa jika ia berani mengerjai aku. Karna aku sudah sangat kesal saat ini.
"Maaf mas, saya sudah menemukan data tentang pasien yang bernama Venessa. Ia dan dua orang lainnya sedang ada di lantai dua, kamar melati mas."
"Baiklah suster, terima kasih banyak."
Aku bergegas menuju lantai dua ruang melati yang suster itu katakan. Aku kembali merasakan kecemasan saat aku tahu, kalau Venessa memang benar-benar kecelakaan dan tidak membohongi aku.
Aku terus berjalan memcari kamar melati. Hingga aku sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan melati.
"Venessa!" ucapku sambil membuka ruangan itu.
"Maaf mas, mohon jaga ketertiban di sini. Karna, pasien butuh ketenangan," kata suster yang sedang berjaga di dalam kamar rawat itu.
"Maaf Sus, bolehkah saya bertemu dengan Venessa sekarang?"
"Maaf mas, untuk saat ini belum bisa. Kami sedang menangani pasien. Luka yang pasien alami sangat parah."
"Apa yang terjadi sebenarnya suster? Kenapa bisa istriku mengalami kecelakaan?"
Aku tidak mau tahu, suster itu tahu atau tidak soal kecelakaan yang Venessa alami. Yang penting aku bertanya, karna aku sangat penasaran.
"Menurut saksi mata, mobil pasien melaju tidak beraturan. Dari arah berlawanan, sebuah lori yang bermuatan besar sedang melintas. Lori itu kehilangan kendali, dan langsung menabrak mobil pasien ini. Karna mobil terbalik, semua yang ada di dalam mobil terluka parah. Sedangkan yang satunya lagi, meninggal ditempat mas."
Aku kaget bukan kepalang, siapa yang telah meninggal sebenarnya. Ada apa ini? Kenapa bisa begini.
__ADS_1
"Siapa yang meninggal suster!" kataku dengan suara tinggi.
"Menurut data yang kami terima, nama pasien yang meninggal itu adalah Ramon Wijaya. Jenazahnya masih ada di kamar sebelah, silahkan mas lihat dahulu jika ingin melihat. Karna sebentar lagi, jenazahnya akan dipindahkan kekamar mayat sebelum pihak keluarga menjemputnya."
"Terima kasih suster," ucapku sambil berjalan kekamar sebelah.
Sebenarnya aku sangat amat kaget saat mendengarkan nama laki-laki yang suster itu ucapkan.
Aku ingin memastikan sendiri, apakah Ramon yang suster itu katakan sama dengan Ramon yang selalu meneror Vannya selama ini.
Aku berjalan pelan saat pintu kamar ini terbuka. Seorang suster sedang merapikan peralatan di kamar ini.
"Maaf suster, bisakah saya melihat wajah dari jenazah ini?" kataku pelan pada suster itu.
"Silahkan mas. Apakah mas ini keluarga dari pasien ini?"
"Bukan suster, saya ada keluarga dari pasien yang sama-sama kecelakaan dengan jenazah ini."
"Oh, baiklah. Silahkan lihat mas, sebentar lagi akan kami pindahkan kekamar mayat."
Aku membuka kain yang menutupi wajah laki-laki ini. Aku kaget saat melihat wajah pucat yang memang tidak asing lagi bagiku. Wajah itu memang milik Ramon, laki-laki yang selama ini meneror Vannya, hingga membuat Vannya ketakutan.
Aku keluar dari kamar ini, dan menelfon mama untuk mengatakan hal tentang kecelakaan Venessa.
"Hallo kak."
Suara seseorang yang tidak asing lagi. Suara lembut dan manja itu, tiba-tiba membuat aku takut untuk mengatakan perihal kecelakaan Venessa.
Aku berharap mama yang menjawab panggilanku, kenapa jadi Vannya yang menjawab panggilan ini.
"Hallo Vannya, di mana mama?"
"Mama sedang menyiamkan bubur kak. Ada apa ya? Tumben cari mama, bukan cari aku."
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada mama Vannya. Ini soal Venessa," ucapku.
Aku menggantungkan kalimatku, rasa tidak tega membuat aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Bisakah aku bicara sama mama Vannya?"
__ADS_1
"Iya deh iya, sekarang kak Lio gak mau bicara sama aku lagi. Aku akan panggilkan mama, tunggu sebentar yah," ucap Vannya dengan nada kesalnya yang terdengar jelas.